<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Panas Cerita Dewasa 17 Tahun</title>
	<atom:link href="http://ceritapanasdewasa.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ceritapanasdewasa.com</link>
	<description>Kumpulan Sex Cerita Dewasa 17 Tahun Terlengkap!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Mar 2010 21:06:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Cerita Mesum di Perkawinan Teman</title>
		<link>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cerita-mesum-di-perkawinan-teman.html</link>
		<comments>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cerita-mesum-di-perkawinan-teman.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 21:06:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita 17 tahun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[alur]]></category>
		<category><![CDATA[anggun]]></category>
		<category><![CDATA[asri]]></category>
		<category><![CDATA[basah]]></category>
		<category><![CDATA[bunga]]></category>
		<category><![CDATA[cerita mesum]]></category>
		<category><![CDATA[cerita mesum 2010]]></category>
		<category><![CDATA[cerita mesum abg]]></category>
		<category><![CDATA[cerita mesum terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[cerita ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[cerita ngentot 2010]]></category>
		<category><![CDATA[cerita ngentot istri orang]]></category>
		<category><![CDATA[cerita ngentot istri polisi]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Ngentot Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[deret]]></category>
		<category><![CDATA[hadir]]></category>
		<category><![CDATA[kambing]]></category>
		<category><![CDATA[luas]]></category>
		<category><![CDATA[makanan enak]]></category>
		<category><![CDATA[mandir]]></category>
		<category><![CDATA[mobil mewah]]></category>
		<category><![CDATA[nampak]]></category>
		<category><![CDATA[pesta pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[ratus]]></category>
		<category><![CDATA[romantis]]></category>
		<category><![CDATA[rupa]]></category>
		<category><![CDATA[strategis]]></category>
		<category><![CDATA[terang]]></category>
		<category><![CDATA[ucapan selamat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapanasdewasa.com/?p=406</guid>
		<description><![CDATA[Pada bulan-bulan musim pesta pernikahan macam ini hampir setiap malam aku bersama istriku selalu menyempatkan untuk hadir. Terus terang yang paling kami sukai adalah berburu makanan. Kambing guling, soto sulung atau bebek Hainan atau Chech Steak merupakan makanan enak dan tak pernah kami lewatkan. Sayang malam ini istriku berhalangan hadir karena ada keperluan lain.
Dengan pakaian [...]


<b>Cerita Seks Berhubungan:</b><ol><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cerita-panas-aline-teman-bisnis-teman-ngentot.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cerita Panas Aline Teman Bisnis, Teman Ngentot'>Cerita Panas Aline Teman Bisnis, Teman Ngentot</a></li><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/ngentot-dengan-istri-polisi-hutan-indonesia.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Ngentot Dengan Istri Polisi Hutan Indonesia'>Ngentot Dengan Istri Polisi Hutan Indonesia</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada bulan-bulan musim pesta pernikahan macam ini hampir setiap malam aku bersama istriku selalu menyempatkan untuk hadir. Terus terang yang paling kami sukai adalah berburu makanan. Kambing guling, soto sulung atau bebek Hainan atau Chech Steak merupakan makanan enak dan tak pernah kami lewatkan. Sayang malam ini istriku berhalangan hadir karena ada keperluan lain.<br />
Dengan pakaian lengkapku, stelan jas dan dasi, aku hadir pada resepsi pernikahan anak dari relasi penting di kawasan Tebet. Pesta ini diselenggarakan di rumahnya yang memang bertanah luas dengan bangunannya yang besar pula. Mungkin ada barang 3000 m tanahnya, lengkap dengan areal parkirnya. Namun aku tak hendak parkir di halaman. Aku lebih suka parkir di jalanan yang sewaktu-waktu ingin pergi akan mudah meninggalkan tanpa kesulitan. Nampaknya pesta ini benar-benar mewah, maklum dia ini pejabat cukup tinggi dari salah satu departemen basah RI. Nampak mobil-mobil mewah berderet-deret memenuhi jalanan. Nampak Polantas dikerahkan untuk melancarkan jalanan.<br />
Rupanya pesta di rumah yang sangat mewah. Tamu tersebar di dalam rumah, di pendopo juga di kebun yang luas dan asri ini. Ruang-ruang di taman yang nampak dibentuk oleh cahaya sungguh sangat romantis. Nampak tenda purih bersih penuh bunga dan pita menjadi pusat orientasi para tamu. Nampak di sana-sini tersebar bangku untuk tamu-tamu duduk. Semua direncanakan untuk kesan mewah dan anggun banget. Yang menonjol adalah kiriman bunga. Beratus-ratus kiriman bunga ucapan selamat itu disusun sedemikian rupa sehingga memperindah suasana taman dan kebun ini. Dengan dilokasikan pada tempat yang strategis tanpa mengganggu alur orang mondar mandir bunga-bunga itu disusun membentuk kerucut. Pasti hal ini telah diperhitungkan sehingga pemilik rumah telah menyediakan dudukan yang unik dan kokoh sebelumnya.<br />
Begitu aku menaiki tangga aku berpapasan dengan pasangan suami istri berusia sebaya. Aku dan sang istrinya sempat bertemu mata sesaat. Dia tersenyum padaku yang langsung aku membalas dengan anggukan tanda hormatku. Aku pandang itu adalah bentuk keramahan umum dalam acara pesta macam ini. Seseorang tak perlu saling mengenal untuk langsung bertegur sapa. Dan oleh keramaian dan kemeriahan pesta aku tak lagi memikirkan soal itu.<br />
Sesudah antre untuk bersalaman dengan pengantin dan orang tuanya aku langsung tenggelam pada hidangan yang aku pandang ’super mewah’ ini. Wooww.. Banyak makan favoritku bisa kutemui. Aku jadi ingat istriku, sayang dia nggak bisa ikut.<br />
“Hati-hati lho Mas, nanti kena kolesterol,” tiba-tiba kudengar suara ‘jazzy’ dari arah sampingku.<br />
Ah.. Ternyata ini ibu yang tersenyum padaku di tangga tadi. Aku mengangguk hormat, “Iya ini Bu… ehh, jeng.. Aku nggak bisa menahan diri kalau lihat yang enak-enak macam begini,” jawabku sekenanya.<br />
“Acchh.. Bahaya dong kalau begitu”<br />
Eehh.. Ternyata dia kembali menyambungnya. Kini aku serius menengok dia dan memperhatikan. Uuhh.. Ibu ini tidak cantik, maksud saya biasa-biasa saja, namun nampak sangat ‘charming’ dan seksi banget. Dengan gaun pesta berwarna gelap yang terbuka bahunya kecuali tali kecil yang menahan agar tidak merosot menampilkan betapa bersih dan mulus kulitnya. Aku taksir usianya belum 40 tahun. Mungkin sekitar 36 begitulah.<br />
“Kenapa Bu.. Eehh.. Jeng..?”<br />
“Yaa ituu… lihat saja, banyak yang ‘enak-enak’ khan?” sambil tangannya dan matanya mengarahkan aku ke audience, para tetamu wanita yang rata-rata malam itu memang nampak cantik-cantik dan ‘enak’ tentunya. Rupanya ibu ini pinter sekali memplesetkan omonganku tadi. Aku menunduk membetulkan sendokku sambil tersenyum.<br />
“Bapak mana Bu? Kok ditinggal?” aku berusaha membelokkan pembicaraan.<br />
“Ah, bapaknya sih, kalau sudah ketemu ‘geng’-nya lupa sama saya. Tuh lagi asyik nggerombol sama teman-temannya”.<br />
Oo… rupanya suaminya termasuk kelompok satu departemen dengan tuan rumah. Aku lihat beberapa pejabat lain yang kukenal pula dalam gerombolan suami ibu ini.<br />
“Mas sendiri, mana istrinya?”<br />
“Aa.. nu Bu…” aku belum menyelesaikan omonganku.<br />
“Ya sudah, semua lelaki memang pengin menyendiri khan? Bisa bebas menyantap yang ‘enak-enak’?”<br />
Rupanya ibu ini kembali gencar memojokkan aku. Aku jadi penasaran. Apakah dia termasuk perempuan yang ‘kecewa sama suami’? Dan akan binal saat ada kesempatan lepas dari gandengan suaminya?<br />
“Lhoo.. Kok begitu mandangnya sih? Marah ya?” aduh senyumnya jadi manis banget di mataku.<br />
“Ah.. Nggaakk.. Soalnya saya baru sadar…”<br />
Sengaja aku nggak selesaikan kata-kataku. Ibu ini nampak jadi penasaran.<br />
“Sadar apaan, Mas?”<br />
“Ternyata di dekat saya ada makanan yang bukan ‘enak’ namun ’sangat lezaatt’…” kataku nekat dan memberanikan diri sambil mataku melotot seakan menelanjangi tubuh seksinya.<br />
Tahu bahwa yang kumaksud adalah dia, “Orang sudah tua macam gini kok..” dengan gayanya yang sangat menggoda libidoku. “Pasti sedap banget nih…” aku langsung tukas omongannya dengan bisikkan.<br />
Dia menampakkan mukanya yang langsung memerah. Ehh.. Tahu-tahu tangannya cepat meraih dan mencubit lenganku. Sesungguhnya aku tak begitu heran. Sebagai lelaki yang rata-rata orang bilang ‘tampan, simpatik, seksi’ dengan posturku yang jangkung dan macho macam Reynaldi bintang iklan dan sinetron itu, aku sering ketemu perempuan macam ibu ini. Yang tanpa sungkan dan malu memang berharap aku memberikannya perhatian khusus.<br />
“Mas jangan coba-coba. N’tar dibunuh sama suamiku lho,” kelakarnya. Aku jadi semakin yakin akan ke’binal’annya. Rejeki nomplok, nih, pikirku.<br />
“Apa salahnya ‘makan lezat’? Salah sendiri ‘makanan lezat’ dibiarkan jalan sendiri?” kataku kalem sambil meraih tangannya yang masih mencubitku.<br />
Tanganku meremasi tangannya. Ahh.. Dia menyambut remasanku. Aku tak akan mundur lagi. Aku mesti cari lokasi yang tersembunyi nih. Di toilet tuan rumah? Atau di balik pohon di taman? Atau di balik tumpukkan karangan bunga? Atau di mobilku? Ah, banyak pilihan.<br />
“Kok jadi bengong sih, Mas? Mikir yaa..”<br />
“Iyaa.. Saya lagi mikir tempat mana yang bisa aku sembunyi menyantap ‘makan enak’ ini,” jawabku sekenanya yang langsung dibalas dengan kembali mencubit berikut pelintiran yang sakit sekali di tanganku.<br />
Kupikir agresip banget nih ibu. Adakah memang dia perempuan demikian kegatelan?!<br />
“Aduhh, udah buu.. Ayo makan saja deh. Mendingan kita nyari kursi di luar. Makan sambil mikirin, yookk”<br />
Dalam iringan gamelan pengantar pengantin aku beranjak keluar ruang tenda. Ibu ini tanpa ba bi bu, dengan piring makannya langsung mengekor aku mencari kursi kosong di taman. Kulihat di pojok dekat karangan bunga yang menggunung nampak kursi dan meja kosong dengan lampunya yang tak terlampau mencolok. Aku menuju kesana diikuti ibu ini.<br />
“N’tar suami ibu nyariin, lho,” kataku khawatir.<br />
“Biarlah. Dia khan juga asyik sendiri,” katanya acuh.<br />
Pada kesempatan itu aku mengulurkan tangan untuk kenalan.<br />
Aku menyebut namaku, “Hendra”<br />
“Norma,” dia juga menyebut namanya.<br />
“Panggil saja Nor,” katanya.<br />
Kami saling pandang penuh makna. Pandangan yang mengartikan kesepakatan untuk berbuat apa saja tanpa batas. Matanya nampak ‘binal’ seperti perempuan yang mendambakan untuk dipuaskan. Adakah suaminya tak mampu memberikannya? Aku pikir tak usah bertanya. Kalau memang mau ya, lakukan saja apa yang ku mau. Dan aku yakin sesungguhnya ibu ini telah mengundangku. Sangat bodoh kalau aku tak tahu dan merespon undangannya. Aku harus cari akal. Kami tak lagi bisa konsentrasi makan.<br />
Dalam keremangan kebun itu kami cukup bebas saling sentuh dan remas. ku sejak tadi sudah menampilkan ketegangannya. Dalam pada itu aku mendapatkan ide untuk membawa Norma kebelakang tumpukkan karangan bunga itu. Aku pamit Norma sebentar untuk menengok kemungkinannya. Kulihat bunga-bunga itu disusun 2 tingkat ke atas dan bersandar pada dinding sehingga terjadi celah segi tiga yang cukup longgar untuk bisa aku masuk ke sana. Tanpa ragu aku gandeng Norma untuk menuju ke belakang tumpukkan karangan bunga itu. Keramaian orang dan lalu lalang tamu membuat apa yang kami lakukan tidak lagi menarik perhatian orang.<br />
Kami langsung masuk jauh ke celah antara tumpukkan bunga dan dinding. Aku bersender dan menggamit Norma kemudian merangkul dan memagutnya. Tanpa lagi sabar Norna langsung memeluk erat aku. Aku menyambutnya. Kami berpagut bertukar lidah dan ludah. Tangan-tangan langsung saling meremasi daging lawannya. Aku raih bokongnya untuk kuremas-remas. Tangan Norman memeluk punggungku dan menancapkan kukunya. Aku mendengar desah nafsu yang tak sabar. Aku sudah pengin melihat bagaimana kehausan seksualnya perempuan ini. Kukendorkan dasiku dan kubuka kancing kemejaku.<br />
Norma cepat meraih dan menyibakkannya. Dia langsung menyantap ujung pentilku. Dia cium dan sedoti dadaku. Aku melayang dalam nikmat birahi. Aku bergaya menyerah. Kubiarkan kehausan Norma melahap aku dengan buas dan liarnya. Ah.. Dasar perempuan yang tak pernah merasakan kepuasan dari suaminya. Aku dipepetkannya ke dinding. Dia bimbing tanganku agar kuangkat ke atas. Norma ingin melahapi ketiakku yang penuh bulu. Dia benamkan wajahnya untuk menjilati lembah ketiakku itu. Duuhh.. Bukan main nikmatnya. Kini aku semakin tak mampu menahan gelinjang syahwatku. Aku raih kepala Norma dan kutekan agar turun ke bawah. Sementara tanganku sudah membuka kancing celanaku. Aku ingin biar Norma yang membuka berikutnya.<br />
Dia tahu. Kini dengan berjongkok di lutut, Norma menenggelamkan mukanya untuk menciumi selangkanganku. Dia ‘ngusel-usel’kan mukanya untuk menghirup aroma selangkanganku. Bibirnya mulai menggigiti tonjolan celana dalamku. Dia sangat histeris.<br />
“Mass.. nya gede banget sihh…” desahnya dalam bisikkan yang sangat gemetar.<br />
Aku tahu dia sangat menahan nafsunya. Sangat ingin mendapatkan obsesi seksualnya. Kemudian tangannya merenggut lepas celana dalamku. Tak ayal lagi, langsung disambutnya ku. Mulutnya menganga menerima batangan kemaluanku yang telah sangat keras disertai urat-urat darah yang melingkarinya. Kulihat bibirnya termonyong-monyong penuh dengan batang kerasku. Aku menyaksikan betapa ganasnya Norma menjilat-jilat dan menggigit batangku ini. Lidahnya terus menyapu kepalanya yang berkilatan karena tekanan keras dari urat darahnya. Dia reguk cairan birahiku yang terus mengalir keluar. Dia jilati bijih pelirku. Sambil mendesah dan meracau dia menyeruak ke bawah selangkangan untuk meraih kenikmatannya. Akhirnya aku tak mampu menahannya. Rasa gatal menandai bahwa spermaku mendesak untuk muncrat demikian membuat aku gelisah dan mendesah pula.<br />
“Noorr.. Aku mau keluar niihh…”<br />
Norma justru langsung mencaplok kepala ku dan memompa. Aku tahu, dia ingin aku memuntahkan air maninya ke mulutnya. Demikian memang kebanyakkan perempuan yang kehausan macam Norma. Dengan semakin aku nikmat dan melayang orgasmeku tak lagi bisa kubendung. Aku merasakan ejakulasiku di mulut Norma sungguh sangat nikmat. Perempuan dengan busana malam yang sangat seksi ini menerima 6 atau 7 kali kedutan semprotan spermaku ke mulutnya. Yang kudengar hanyalah “mmll, hheelm.. hhllmpp…” sambil tangannya terus ikut memerasi batanganku. Agaknya dia ingin yakin bahwa tak ada lagi spermaku yang tersisa pada batang ku.<br />
Tiba-tiba terdengar HP-nya memanggil. Masih dengan belepotan sperma di dagu bibir dan pipinya Norma mengambil HP dari tasnya. Dia lihat rupanya suaminya yang menelpon.<br />
“Ya, mass…”<br />
“Yaa… aku sedang di dapur ketemu ibu-ibu. Biasa.. Ngrumpii…” katanya sambil cekikikan seakan-akan tak ada hal yang penting.<br />
Sesudah beberapa omongan dia tutup HP-nya dan dimasukkan kembali ke tasnya.<br />
“Ahh.. Gangguan ya sayaanngg…” sambil kembali tangannya mengelusi batang ku.<br />
Nampaknya telepon itu sama sekali tak menggagunya. Dan nampaknya dia memang biasa menipu suaminya. Betapa tenangnya ini perempuan. Aku juga ikut untuk tak perlu was-was. Kembali kami saling berpagut. Bermenit-menit kami berpagut sambil tangan Norma mengurut-urut kemaluanku agar mau kembali keras ngaceng. Sementara itu tanganku juga bergerilya meremasi vaginanya. Kurogohkan tangan ke celana dalamnya.<br />
Kurasakan betapa lebat bulu kemaluannya yang menandakan dia memang perempuan yang sangat haus belaian seks. Aku memahami apa yang diinginkan Norma. Dia belum meraih kepuasan dariku sementara aku telah ejakulasi ke mulutnya. Kini aku mesti membuatnya meronta dalam luapan nikmat syahwat. Sesudah aku merasakan cukup untuk penetrasi aku keluarkan lenguhan. Aku bimbing dia agar tangannya bertumpu ke dinding. Aku ingin melakukan penetrasi dari arah belakang. Kusingkap gaun malamnya dan kuperosotkan lepas celana dalamnya. Masih sempat aku memasukkan celana dalam itu ke tasnya agar tidak kotor kena tanah taman itu.<br />
Kini terpampang dan kupandangi vagina Norma di bawah bokongnya. Sungguh sangat merangsang birahiku. Perempuan seusia dia masih menampilkan kencang urat dan mulusnya selangkangan. Paha dan bibir kemaluannya. Aku tak mampu menahan diri. Aku dekatkan wajahku untuik menciumi pantatnya, bahkan lubang anusnya kemudian vaginanya. Aku dengarkan desahan dan rasa pedih pada jambakan tangannya di rambutku. Norma sungguh-sungguh menerima nikmat yang tak terhingga. Lidahku bermain menjilati lubang anal dan melata hingga kelentitnya. Terkadang menyeruak menusuk gerbang vaginanya.<br />
“Hendraa.. Kamu sangat jantaann.. Hendraa.. Aku cinta kamuu.. Aku cinta kamuu.. Aku cinta kamu Hendraa…” tangannya terus meremasi rambutku.<br />
“Ampunn Hendra.. Jangan siksa aku.. Sudaahh.. Aku tak lagi tahann.. Hendraa.. Aarcchh…” dia menjerit kenikmatan.<br />
Sambil tangannya yang merangkaki dinding bergerak turun hingga posisinya lebih menungging. Norma ingin aku lekas melakukan penetrasi dari arah belakang. Dia berusaha meraih ku untuk diarahkan ke lubang nya. Dengan jeritan kecil dia menyertai amblasnya ku ditelan gatalnya itu. Selanjutnya aku berayun-ayun mendorong tarik ku. Dan Norma menggoyang maju mundur untuk menelan ku lebih dalam lagi merangseki kemaluannya.<br />
Pada detik-detik menjelang orgasmenya, seperti kuda betina yang dilanda birahi jantannya nafas Norma terdengar memburu. Dia meronta-ronta mencakari dinding menyertai goyangan pompaanku yang semakin cepat karena aku sendiri juga ingin menumpahkan sperma berbarengan dengan orgasmenya. Dan saat puncak syahwat itu datang melanda, kami berdua seakan lupa akan keberadaan kami dimana. Hampir kami tak mampu membendung desah nikmat. Teriakan kami yang tertahan telah mengantarkan orgasme Norma dan tumpahnya air maniku ke vaginanya.<br />
Aku perlu sedikit merapikan rambutku sebelum kembali ke keramaian. Untuk menghindari perhatian orang, Norma sepakat aku akan keluar duluan. Beberapa menit kemudian dia menyusul. Aku langsung keluar menghilang dan pulang. Agak gontai aku menuju mobilku. Aku nggak tahu lagi apa dan bagaimana Norma. Mungkin dia mencari-cari aku. Aku pikir itu sudah urusan suaminya. Aku tak ingin ada hubungan panjang dan membuat repot. Aku hanya catat dalam notebook-ku hari itu adalah 20 September malam saat orang-orang ramai memperbincangkan tanda-tanda kemenangan sby di Quick Count. Memang aku sendiri yang selalu ingin bebas selalu menyenangi perubahan.</p>
<h4>Cerita Panas Terbaru:</h4>,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cerita-mesum-di-perkawinan-teman.html" title="Cerita panas">Cerita panas</a> ,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cerita-mesum-di-perkawinan-teman.html" title="Cerita 17">Cerita 17</a> ,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cerita-mesum-di-perkawinan-teman.html" title="Cerita 17 tahun">Cerita 17 tahun</a> ,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cerita-mesum-di-perkawinan-teman.html" title="Cerita panas dewasa">Cerita panas dewasa</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.803 ms -->

<p><b>Cerita Seks Berhubungan:</b><ol><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cerita-panas-aline-teman-bisnis-teman-ngentot.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cerita Panas Aline Teman Bisnis, Teman Ngentot'>Cerita Panas Aline Teman Bisnis, Teman Ngentot</a></li><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/ngentot-dengan-istri-polisi-hutan-indonesia.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Ngentot Dengan Istri Polisi Hutan Indonesia'>Ngentot Dengan Istri Polisi Hutan Indonesia</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cerita-mesum-di-perkawinan-teman.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cewek Penjaga Rental VCD Bokep Yogyakarta</title>
		<link>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cewek-penjaga-rental-vcd-bokep-yogyakarta.html</link>
		<comments>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cewek-penjaga-rental-vcd-bokep-yogyakarta.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 19:00:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita 17 tahun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[bengong]]></category>
		<category><![CDATA[berdiri]]></category>
		<category><![CDATA[celana]]></category>
		<category><![CDATA[Cewek Yogya Telanjang]]></category>
		<category><![CDATA[cowok]]></category>
		<category><![CDATA[kalah]]></category>
		<category><![CDATA[kemari]]></category>
		<category><![CDATA[ketat]]></category>
		<category><![CDATA[mbak]]></category>
		<category><![CDATA[menikmati]]></category>
		<category><![CDATA[montok]]></category>
		<category><![CDATA[nampak]]></category>
		<category><![CDATA[nomer]]></category>
		<category><![CDATA[pantat]]></category>
		<category><![CDATA[pemandangan]]></category>
		<category><![CDATA[pusing]]></category>
		<category><![CDATA[rina]]></category>
		<category><![CDATA[sadar]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>
		<category><![CDATA[tegak]]></category>
		<category><![CDATA[ya ya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapanasdewasa.com/?p=402</guid>
		<description><![CDATA[“Ah.. ini Mas ada kok..”
“Oh ya..,”
Aku lalu memeriksa CD itu, kucuri pandang ke susu yang montok itu. Memang kalau makin dekat makin jelas tonjolan susu rina ini, putingnya nampak tonjolannya di tengah-tengah gundukan payudaranya. Rina mengerti gelagatku yang terus mengamati susunya itu.
“Mas.., mana lagi..? Kok jadi bengong..!”
“O.. ini Mbak.., nomer 40,” aku kaget sekali tiba-tiba [...]


<b>Cerita Seks Berhubungan:</b><ol><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cerita-dewasa-ngentot-di-kampus-dengan-rosa-cewek-kampus.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cerita Dewasa Ngentot Di Kampus Dengan Rosa Cewek Kampus'>Cerita Dewasa Ngentot Di Kampus Dengan Rosa Cewek Kampus</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Ah.. ini Mas ada kok..”</p>
<p>“Oh ya..,”</p>
<p>Aku lalu memeriksa CD itu, kucuri pandang ke susu yang montok itu. Memang kalau makin dekat makin jelas tonjolan susu rina ini, putingnya nampak tonjolannya di tengah-tengah gundukan payudaranya. Rina mengerti gelagatku yang terus mengamati susunya itu.</p>
<p>“Mas.., mana lagi..? Kok jadi bengong..!”</p>
<p>“O.. ini Mbak.., nomer 40,” aku kaget sekali tiba-tiba diperingatkan seperti itu.</p>
<p>Aku sengaja memesan nomor yang baling bawah, sehingga Rina nanti bisa menunging membelakangiku. Rina berdiri, dan ternyata dia langsung mencari dari deret yang paling tengah, otomatis dia sedikit menungging. Wow.., ini baru pemandangan yang tidak kalah serunya deh.. Pantat dan belahan pantat Rina benar-benar asli dan oke sekali, kelihatan di selakangannya agak menjorok ke dalam gundukan tempat vaginanya singgah. Wah.. penisku tidak sadar sudah setengan tegak pengaruh dari pantat montok Rina itu.<br />
“Ini Mas.., nomer 40..”</p>
<p>“Oh.. ya.. Mbak sekalian 45, 50, 49 deh…”</p>
<p>Biar dia agak lama menungging, dan aku dapat menikmati belahan pantat Rina yang montok itu, dan sekilas gundukkan vagina yang tertutup celana ketat Rina.</p>
<p>“Ini Mas.., 45, 50, 49 ada lagi.”</p>
<p>“Udah cukup Mbak..”</p>
<p>Aku periksa, mungkin CD-nya tergores atau tidak.<br />
“Masnya sering pinjem BF di sini ya..?”</p>
<p>“Ya.. lumayan sih.., Kalo nggak semingggu sekali baru kemari..”</p>
<p>“Emmhmm.. rutin ya.. suka nonton BF ya.. Mas..?”</p>
<p>“Ya.., kalo lagi perlu nganggur aja, lagi bete nih..!”</p>
<p>“Kok bete.. kenapa..?”</p>
<p>Aku mulai akrab dengan Rina, dan kalau ngomong sudah tidak nanggung-nanggung lagi, aku yakin dia sudah mengerti masalah sex.</p>
<p>“Ya.. kalo nggak dikeluarin bisa pusing nih..!”</p>
<p>“Ha.. ha.. ya.. keluarin aja..!” kata cowok yang ada di sebelah Rina, ternyata cowok itu mendengar percakapanku dengan Rina.</p>
<p>“Lah.. ya.., makannya aku pinjem BF ini, alat perangsang..”</p>
<p>Setelah itu aku pulang dan menyalakan komputer dan nonton BF itu, tidak lupa aku telanjang dan menyiapkan handuk kecil untuk spermaku nanti muncrat dan body lotion sebagai pelicin. (Khayalan batang kemaluanku di dalam vagina cewek) Dan pada hari itu aku menghabiskan waktu dengan onani party di kamarku, nikmat dan puas.</p>
<p>Lalu esoknya aku kembalikan CD BF itu. Sesampainya di depan rental X ini, kelihatan sepi-sepi saja, lalu aku masuk dan ternyata aku hanya melihat cowok saja yang jaga.</p>
<p>“Mas, kembaliin CD nih..!”</p>
<p>“I.. ya. Se.. bentar ya.., tang.. gung..” sambil nafas yang terengah-engah.</p>
<p>Aku curiga cowok ini kenapa, dia duduk dan kedua tangannya menggenggam kursi dengan erat dan dia kok melihat ke bawah terus.</p>
<p>“Ya.., tung.. gu ya.. Mas.. Ah.. ye.. ter.. us..” tidak lama cowok itu mengejang, dan, “Aku.. ke.. luar.., ah.. ah.. ah..”</p>
<p>Setelah itu tidak lama kemudian keluarlah seorang cewek dari bawah tempat duduk cowok itu, wah.. ternyata Rina. Kelihatan sperma cowok itu ada di mulut Rina dan sebagaian di rambutnya.</p>
<p>“Halo Mas.., kembaliin CD ya..?” Rina menyapa dengan santainya.</p>
<p>“E.. i.. ya.”</p>
<p>Rina lalu menuju ke kamar mandi yang letaknya di belakang rental X ini. Rina masih berpakaian lengkap, oo.. ternyata dia baru mengkaraoke batang kemaluan cowok ini.</p>
<p>“Ya Mas, ada yang bisa saya bantu..?” sapa cowok yang baru dipuaskan oleh Rina lewat mulut binalnya, sambil berdiri dan memasukkan penisnya yang masih basah karena sperma yang keluar terlalu banyak.</p>
<p>“Iya.. ini CD-nya.”</p>
<p>“Oh.., sebentar ya, Mas..”</p>
<p>Cowok ini memeriksa CD apa ada yang tergores atau tidak.</p>
<p>Lalu kucoba untuk memberanikan diri bertanya sesuatu pada mas ini, aku menjadi yakin kalau rental ini benar-benar xxx.</p>
<p>“Mas maaf ya.., mau tanya.”</p>
<p>“Ya.., kenapa..?”</p>
<p>“Tadi itu…” sebelum aku selesai ngomong, “Oh.., tadi itu Rina minta oral sama ini, biasa kok Mas, disini nyantai aja.”</p>
<p>“O.., jadi siapa saja bisa ya..?”</p>
<p>“Bisa aja, kalo sekedar oral, kocok , emut dan elus-elus aja.”</p>
<p>“Kalo.., sorry ya Mas.., kalo nge-sex sungguhan gimana..?”</p>
<p>“Ya, tanya aja ama Rina, temennya banyak kok. Dia seneng banget kalo nge-sex. Ya.. kan enak sih.”</p>
<p>“Jadi kalo onani disini bisa ya..?”&#8221;Kalo itu sih para pelanggan BF sering Mas. Si Rina tuh yang sering ngocokin cowok. Ya.., kalo Rina nggak capek aja dan lagi ‘MUT’.”</p>
<p>Dan tidak lama kemudian Rina kembali dari kamar mandi, kelihatannya dia baru keramas rambutnya, maklum terkena muncratan sperma cowok penjaga rental.</p>
<p>“Halo Mas. Pinjem BF lagi..?”</p>
<p>“Oh.., nggak kok.”</p>
<p>“Rin.., ini Mas mo kenalan ama kamu lebih dalam..” kata cowok rental X itu.</p>
<p>Aku kaget sekali cowok itu bilang seperti itu, “Ya Mbak.., boleh nggak..?”</p>
<p>“Itu Rin.., Mas ini mo kocokan binal kamu, kamu mau nggak..?”</p>
<p>“Bisa..” kata Rina sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.</p>
<p>“Ya.. udah sana ajak ke atas aja Rin.., biar rentalnya kutunggu.”</p>
<p>Wah.., ini waktunya menguji perkasaanku, sudah lama penisku tidak ketemu sama sahabat karib si vagina.</p>
<p>Lalu aku dan Rina naik tangga menuju lantai dua, dan Rina membawa satu CD BF dari rental itu. Sesampai di sebuah kamar, Rina mempersilakanku untuk duduk di ranjang yang cukup besar juga. Rina lalu mengunci pintu, dia meletakkan handuknya di kursi dan menyalakan TV dan CD player, dan memutar CD BF itu dengan volume yang cukup keras. Tidak lama kemudian terdengarlah erangan nafsu, dan terlihat adegan bugil-bugil dari CD tersebut, ini membuat batangku yang tidak sabar lagi melihat kemolekkan tubuh Rina. Rina lalu membuka jendela selebar-lebarnya, agar suasananya lebih natural.</p>
<p>“Gimana Mas, e.. nama kamu siapa sih..?”</p>
<p>“Aku Ari, kamu pasti Rina to..?”</p>
<p>“Kok tau..?”</p>
<p>“Ya.. tau dong..,”</p>
<p>Tidak lama kemudian Rina mendekatiku, dan duduk di sampingku, dan tidak segan-segan lagi tangan kanan Rina memegang batang kemaluanku yang masih terbungkus celana pantangku, dielus-elus dan kadang-kadang diremas-remas.</p>
<p>“Ari suka sex ya..?”</p>
<p>“Ya. Ah.., kamu pinter deh nge-sex..!”</p>
<p>“Ah.., kata siapa..?” sambil tetap mengocok-ngocok kemaluanku, dan aku masih pasif merasakan gesekan tangan Rina.</p>
<p>“Ya, ah.., hemmm.., kata Mas di bawah tadi.”</p>
<p>“Ooo, Mas Ucok toh..,”</p>
<p>Sekarang Rina duduk di hadapanku, dan menjongkok sambil tangannya tetap mengocok habis batang kejantananku yang sudah setengah tegang itu.</p>
<p>“Ar.., udah dibuka ya..? Biar kamu nggak tersiksa ama CD kamu, biar ngacengnya sempurna.”</p>
<p>“Ya.., udah.. buka aja..”</p>
<p>Rina pelan-pelan membuka celanaku dari sabuk sampai membuka resleting-nya, setelah celanaku terbuka, aku sedikit mengangkat pantatku untuk memudahkan Rina melepas celana, dan sekarang aku tinggal menggunakan CD biru-ku, dan pakaianku masih terpakai. Lemparkan celanaku di kursi dan Rina mulai duduk kembali di selakanganku, dan aku masih dalam keadaan duduk di pinggir ranjang rental X.</p>
<p>“Hemmm.., ah… kamu kelihatanya besar juga Ar..,” puji Rina sambil mengelus-elus naik turun penisku yang masih terbungkus CD.</p>
<p>“Ah.. ya.. hem.. oughg.. ye..” erangan yang tidak dapat kutahan lagi, ditambah erangan dari CD BF yang dinyalakan oleh Rina tadi menambah hot suasana di kamar rental X.</p>
<p>Rina sedikit demi sedikit membuka CD-ku, dan terlihatlah batang kemaluanku yang sudah mengacung keras seperti rudal siap lepas kendali.</p>
<p>“Wow.., Ar… mu lumayan juga nih..” sambil tetap mengocok naik turun kejantananku, “Kamu rawat ya..? Kok tegaknya sempurna banget sih..? Keras lagi..,”</p>
<p>“Ah.., te.. rus.. rin.. don.. stop..!”</p>
<p>Rina mulai mengocok keras, cepat, dan tiba-tiba pelan, keras lagi, pelan lagi. Wah.. ini membuat aku menjadi kelabakan, ternyata Rina ahli juga membuat cowok melayang, hampir saja aku keluar tapi aku tetap bertahan.</p>
<p>Kemudian Rina mulai mengocok batang kemaluanku dengan tangan kiri dan tangan kanannya mengelus-elus telur. Wa.., ini nikmat sekali, geli-geli gimana ya..! Kadang-kadang dia menusuk-nusuk anusku dengan telunjuk kanannya.</p>
<p>“Ah.. ya.. te.. rus.. Rin.. kamu.. ahli deh..!”</p>
<p>Sekarang Rina mulai dengan mulutnya, perlahan-lahan dimasukkan penisku ke mulut binalnya.</p>
<p>Saat masuk mulutnya, “Ah.., hemmm.. ye.. ah…”</p>
<p>Aku sedikit mengangkat pantatku, terasa dingin geli dan enak sekali, lain dengan onani.</p>
<p>Perlahan-lahan Rina mengkocok penisku dengan mulutnya dan lidahnya yang lincah.</p>
<p>“Ha.., ough.., ehmm.., ye.. te.. rus..” kupegangi rambutnya, aku tarik turunkan kepalanya untuk mengatur kocokan mulutnya di penisku.</p>
<p>“Ehhmm.., Eh.. em..,” suara mulut Rina yang penuh dengan batangku.</p>
<p>Tidak lama dia menarik nafas, dan mengeluarkan penisku dari mulutnya.</p>
<p>“Ah.., hemm.., kamu kuat sekali Ar.. Biasanya cowok-cowok kalo dioral dikit udah keluar..”</p>
<p>Lalu dia melanjutkan dengan menyedot telurku, dan dilepaskan sampai bersuara, “Ploks.. ploks…”</p>
<p>Tarian lidah Rina di ujung kepala penisku dan sampai anusku juga tidak ketinggalan dari nafsu seksnya itu. Dan setelah beberapa menit lamanya aku bertahan dari tarian lidah Rina di penisku, aku mulai merasa tidak kuat menahan spermaku yang mau keluar.</p>
<p>“Ah., Rin.., aku.. mo.. ah.. ye.. keluaarrr..!”</p>
<p>Dan Rina mulai memasukkan semua penisku di mulutnya, dan dikocoknya dengan cepat dan keras.</p>
<p>Tidak lama kemudian, “Ahh.. crrooot… crroottt.. ah.. ye.. yes..!”</p>
<p>Rina menutup mulutnya rapat-rapat supaya spermanya tidak keluar dari mulutnya. Dan selama 30 detik lamanya dia menekan mulutnya tetap di penisku, dan meyakinkanku tidak keluar lagi. Lalu dia melepaskan mulutnya dari penisku, dan menelan semua spermaku walaupun ada yang keluar sedikit dari mulutnya.</p>
<p>Aku lemas dan telentang di atas ranjang dengan telanjang bawah saja, dan aku merasa panas dan aku melepas semua pakaianku. Sekarang aku bugil, telanjang tanpa sehelai benang di hadapan Rina yang menikmati spermaku.</p>
<p>“Kamu lumayan juga Ar..! Bisa bertahan beberapa menit lamanya.”</p>
<p>“Ah.. biasa aja tuh..!”</p>
<p>“Kamu pake obat ya..? Irex kali..?”</p>
<p>“Ah.. nggak juga.”</p>
<p>“Udah.., kamu istirahat dulu. Aku mo bersihkan mulutku nih.. Eh, makasih spermanya lho.. gurih..!” katanya sambil terseyum.</p>
<p>Dia menuju kamar mandi yang ada di kamar itu. Ternyata dia sikat gigi, biar tidak bau kali.</p>
<p>Aku beristirahat sambil telanjang menunggu Rina keluar dari kamar mandi. Dengan ditemani CD BF yang dari tadi tidak usai-usai, menambah batang kejantananku tidak mau tidur, penisku masih tegak walaupun tidak sekeras tadi. Tidak lama kemudian Rina keluar dari kamar mandi, dia tetap berpakaian lengkap, kaos ketat dan celana kain ketat. Rina mendekatiku yang lagi telentang telanjang di ranjang, dia duduk di sampingku.</p>
<p>“Lho.., kamu kok nggak turun-turun sih..?”</p>
<p>“Ya.., itu lihat BF mana bisa turun, apalagi susu kamu yang montok itu menggoda ku.”</p>
<p>“Ah.., kamu bisa saja.” candanya sambil langsung tangan kanannya mengocok-ngocok pelan batangku yang sudah setengah tegak.</p>
<p>Perlahan-lahan dia menunduk dan mencium bibirku dengan bibir tebalnya itu. Aku langsung melumat habis bibirnya, permainan lidah Rina memang mahir, dan aku imbangi saja dengan permainan lidah yang tidak kalah mahirnya.</p>
<p>Sekitar beberapa menit kami bermain kiss dan kiss, dan Rina tetap mengocok penisku, aku mulai menjelajahi susunya yang montok itu, kuremas dengan tanganku yang dari tadi gatal sekali. Terasa kenyal dan empuk sekali susu Rina, kuelus-elus dan kugesek-gesek halus putingnya dari luar kaos. Sekarang rina melepaskan lumatan bibirnya, dan mengerang merasakan tarian tanganku di susunya itu.</p>
<p>“Ah.., ye.. em.. enak.. Ar.. te.. rus.. ya.. itu.. ough..” tangan Rina tetap mengocok-ngocokku dan aku berusaha melepaskan kaos Rina dan dia langsung membantunya dengan melepaskan sendiri kaos ketatnya itu.</p>
<p>Nah.., sekarang terpampang susu Rina yang tertutup BH 36 itu.</p>
<p>“Rin.. aku buka ya.. biar terlihat bebas..”</p>
<p>“Buka aja..”</p>
<p>Rina lalu mengangkat kedua tangannya memudahkanku melepas kaitan BH yang ada di belakang, susu Rina yang montok itu terpampang bebas di depan wajahku, dan aku langsung saja melahap habis susu Rina yang besar sekali. Kusedot, kuremas dan pelintir putingnya.</p>
<p>“Ah.. ye.. oug.. hem.. te.. rus.. Ar..!” mulai tidak jelas ucapan Rina.</p>
<p>Kami mulai duduk berhadap-hadapan, dan selakangan Rina mulai dibuka lebar, dan aku duduk di antaranya, sehingga aku puas mempermainkan susu montok Rina.<br />
Kupegang kedua puting Rina yang cukup menonjol itu, dan kupelintir bebarengan.</p>
<p>“Ah.. ye.. ah.. aow.. yes.. no.. ough..”</p>
<p>Kepala Rina bergerak tidak karuan, ke kanan ke kiri. Kurebahkan Rina dan kududuk di perutnya, aku mengarahkan penisku di belahan susu Rina, dan kurapatkan susu Rina yang besar itu untuk menjepit penisku dan aku maju-mundurkan penisku.</p>
<p>“Ah.. Rin.. su.. su.. ah.. ye.. em.. puk enak..” aku mulai kocok susu Rina sampai susu Rina berwarna merah.</p>
<p>Ternyata Rina menikmati ini, dan aku tidak sabaran lagi ingin menikmati vagina cewek ini.<br />
Aku mulai turun dan mengelus-elus vagina Rina dari luar celana ketatnya, terasa sekali vaginanya sudah becek sekali akibat permaian panas kami. Kusuruh Rina berbalik telungkup, dan terlihat resleting celananya masih tertutup rapat. Kumulai menurunkan resleting itu, Rina sedikit mengangkat pantatnya agar memudahkanku untuk melepas celananya, dengan posisi menungging ini pantat Rina kelihatan makin montok dan bahenol. Tidak lama kulepas celana ketat Rina. Wah.., ternyata Rina benar-benar terangsang sekali. CD kuning tipisnya bawah total, dengan posisi menungging ini bongkahan vagina makin terlihat, apalagi Rina merenggangkan selakangannya. Aku mengelus-elus bongkahan itu dengan tangan telunjukku, Rina sedikit mengangkat pantatku akibat rangsangan tanganku, dan biasanya pantat Rina otomatis maju mundur dengan sendirinya.<br />
Lalu aku melepas CD kuning tipis mulik Rina itu dengan pelan-pelan, dan Rina memberi sensasi dengan memutar-mutarkan pantatnya, wowo.. woo.., ini bari sex dan super model sex, dia pintar sekali meningkatkan nasfu sex lawannya. Terlepas sudah CD Rina, terlihat bebas pantat yang putih mulus tanpa cacat dan vagina yang memerah basah dan berambut rapih. Aku mulai mengelus-elus permukaan pantat Rina.</p>
<p>“Ah.. Ar.. ehmmm.. ouhghhh.. ah.. ye.. langsung aja Ar.., aku.. nggak.. tahan… oh.. ye..” sambil merem melek Rina menahan nafsunya.</p>
<p>Langsung aku mendekatkan wajahku di belahan pantat Rina, dan langsung melumat habis vagina Rina dalam posisi menungging.</p>
<p>“Ah.. ye.. dalam.. Ar.. ough.. ye.. oh.. ye..” sambil meliuk-liukkan tubuh semok-nya itu Rina mengerang tidak karuan, karena kupermainkan klit-nya Rina dengan lidahku.</p>
<p>Kunaik-turunkan lidahku di penjolan daging itu. Belahan vagina Rina lumayan tebal, dan merah warna dalan vaginanya dan becex sekali. Beberapa saat kemudian aku memasukkan dua jariku, yang satu kumasukkan di vagina Rina dan yang satu lagi kumasukkan di anusnya.</p>
<p>Pelan-pelan kumasukkan, “Hemmah.. pelan.. pelan.. Ar.. ya.. te.. rus di.. kit..lagi.. ough..” Rina mengangkat pantatnya sebagai reaksi jari masuk di vagina dan anusnya.</p>
<p>Pelan-pelan kukocok anus dan vagina Rina dengan jariku.</p>
<p>“Yac.. ah.. le.. bih.. cepat.. Ar, oh.. ye.. oh.. no.. ye.. ya.. oug.. hemmh.. cepet..!”</p>
<p>Aku mulai mempercepat kocokanku di kedua lubang kenikmatan Rina. Sementara itu aku tidak menyia-nyiakan susu yang menggelantung bebas. Dalam posisi nunggi ini aku dapat melihat dengan bebas gerakkan tubuh Rina yang bahenol dan montok. Kuremas dan pelintir putingnya.</p>
<p>“Ah.. Ar.. aku.. kee.. ke.. lu.. ar.. nggaa.. kuuu.. at..”</p>
<p>Aku merasa Rina mulai dalam kondisi orgasme yang memuncak, kupercepat kocokan tanganku di vagina dan anus Rina. Tidak lama kemudian Rina mengejang dan mengangkat badannya dengan gemetaran, dan terasa cairan hangat dari dalam vagina Rina.</p>
<p>“Serrr.. serrr…” lumayan banyak sampai keluar dari permukaan vagina Rina.</p>
<p>Rina lelah dan terkulai lemas di ranjang dengan posisi telungkup telanjang. Lalu tanganku kucabut dari vagina dan anus Rina, terlihat cairan yang lumayan kental dan putih di jariku, lalu kuusapkan ke kejantananku sebagai pelicin. Kukocok-kocok pelan dan lembut penisku agar tetap tegang dan tegak berdiri.<br />
Sementara itu Rina telanjang dan membelakangiku, aku lalu membalikkan dia.</p>
<p>“Rin, orgasme kamu hebat banget deh..”</p>
<p>“Oh.. ah.. kocokan jari kamu hebat sekali, kamu belajar dimana sih..? Kok tau kelemahanku..?” sambil terus mengocok penisku.</p>
<p>“Ya.. nonton BF aja kan udah pengalaman.”</p>
<p>“Ah.. kamu bisa aja.” katanya sambil menggantikan tanganku untuk mengocok batangku yang mau keluar lagi.</p>
<p>“Rin, boleh aku coba vagina kamu ini..?” sambil kuelus-elus vaginanya.</p>
<p>“Boleh..”</p>
<p>Lalu kulebarkan selakangan Rina, dan kurangsang dulu dengan oral di vaginanya. Lidahku menyusuri vaginanya dari atas ke bawah dan ke atas lagi dan seterusnya. Rina mulai mendesah keenakan.</p>
<p>“Ehhmm.. ah.. ye.. Ar.. sekarang aja mu masukin deh..!”</p>
<p>Lalu kupegang kedua paha Rina, lalu kuangkat ke atas, terlihat jelas vagina Rina yang sudah membuka lebar dan becek. Pelan-pelan kumasukkan batang kemaluanku ke vagina Rina.</p>
<p>“Ouhg.. hemm.. ah.. ye..” erangan Rina menerima sodokan pertama penisku.</p>
<p>Aku mulai memaju-mundurkan penisku dengan pelan-pelan.</p>
<p>“Oh.. ye.. shiit.. ah.. ye..” erangku.</p>
<p>Enak benar vagina Rina, dindingnya berdenyut-denyut. Aku mulai percepat kocokanku, dan semakin cepat.</p>
<p>“Ah.. Ar.. yes… oh.. no.. ough… hemm.. ya.. ya.. te.. rus.. Ar.. dalam..” kepala Rina yang tidak karuan ke kanan dan ke kiri.</p>
<p>Kuvariasi kocokanku dengan pelan-pelan, lalu tiba-tiba cepat sekali, pelan lagi cepat lagi dan seterusnya, biasanya kuputar pantatku agar penisku memutar di vagina Rina.</p>
<p>“Ya.. ini.. oke.. Ar.. te.. rus.. ough.. ye.. hem..” Rina menyukai gerakan memutar dari pantatku.</p>
<p>Sekitar 3 menit gerakan ini berlangsung, kubalikkan Rina dengan posisi menungging, dan kutancapkan lagi penisku di vagina Rina dari belakang. Dengan pegangan pinggul Rina yang semok itu aku langsung percepat.</p>
<p>“Oh.. ye.. Rin.. vaginamu oke..”</p>
<p>“ kamu.. ouhg.. hemmm.., hebat.. Ar.. te.. rus.. da.. lam..!”</p>
<p>Setelah beberapa saat, tiba-tiba, “Ah.. Ar.. aku akan, aku.. ke.. luar..!”</p>
<p>“Ta.. han.., nanggung nih! Ah.. ye.. hemm..!”</p>
<p>Terasa aku sudah sampai, kusuruh Rina untuk duduk di atasku, dan dia memegang penisku, dan dimasukkannya ke vaginanya.</p>
<p>“Ouh.. ya.. Rin.. kamu.. hebat..!”</p>
<p>“Ya.. Ar.., cepet ya..! Aku, keluar.. ah.. hemm..!”</p>
<p>Lalu rina mempercepat gerakannya dengan sangat liar, dia merangkulku dan menggerakkan pantatnya untuk mengocok batang kejantananku dengan cepat.</p>
<p>“Oh.. Ar.. aa.. ku.. ngga.. k.. tahan.. keluar.. hem..!”</p>
<p>“Ki.. ta.. samaan.. aku.. keluar.. juga..”</p>
<p>Dalam hitungan tiga detik, “Crroot.., crroott.. ah.. ah.. ye..”</p>
<p>“Seerrr.., sreerrr..” kumuncratkan spermaku ke dalam rahim Rina, dan terasa sekali semburan cairan hangat Rina di kepala penisku.</p>
<p>Rina lemas di dadaku, dan kami tertidur di ranjang itu dengan bertelanjang ria.</p>
<p>Setelah istirahat beberapa jam, aku terbangun, ternyata Rina sudah tidak ada di sampingku. Lalu kukenakan bajuku dan turun ke tempat rental, dan ternyata Rina ada disana.</p>
<p>“Mas Ari udah bangun ya..? Nggak mandi dulu Mas..?”</p>
<p>“Oh.., nggak Rin, makasih.”</p>
<p>“Nggak pinjem BF lagi..?”</p>
<p>“Ah.. tidak dulu. Lagi pembuangan besar-besaran tadi di atas.”</p>
<p>Rina tersenyum, lalu aku pulang ke kostku dan aku langsung mandi. Besok-besoknya aku ke rental X itu untuk kocokan penis saja sama Rina.</p>
<p>Setelah beberapa bulan aku tidak kesana, kuketahui Rina tidak di situ lagi. Kutanya sama mas yang jaga di rental X itu dimana Rina berada, ternyata Rina ke Jakarta. Wah.., nyesal sekali nih.. mulai nih.. tidak ada pemuasan sex selain onani deh.</p>
<p>Sebut saja namaku Ari (samaran). Aku sekarang kuliah di YK semester tengah-tengah. Aku mempunyai wajah yang ganteng dan berat badan yang seimbang dengan tinggi badan, seketar 171 cm. Dan penis yang ukurannya dapat mengerangkan nafsu para cewek-cewek yang gila sama SEX. Aku termasuk orang gila sama ngesex, sering sekali aku melakukan onani (baik dengan sabun, body lotion, tangan kosong), tapi aku atur sedemikian rupa agar aku terus fit.<br />
Hobby-ku menonton BF sambil ngelus-elus penis yang sudah tidak sabaran mengeluarkan sperma. Setiap hari penisku harus kulatih dengan mengelus-elus dan mengocok-ngocok pelan dan halus (tidak sampai keluar) agar tetap pada kondisi ready stock. Aku mengeluarkan sperma biasanya pada saat nonton BF, aku telanjang sambil tiduran, lama-lama penisku menjadi tegang dan kuimbangi dengan kocokan lembut di batang penisku, biasanya kuletakan penisku di antara dua telapak tangan dan kumaju-mundurkan tangan kanan dan kiri berlainan arah.<br />
Wah.. nikmat sekali, dan kalau aku sudah sampai orgasme, aku lalu mencari adegan waktu ceweknya di atas cowok di bawah, dan ceweknya bergerak liar memutarkan vaginanya di kemaluan cowoknya. Lalu aku semakin puncak dan kupercepat kocokan dan sampailah, “Crooottt.. ah.. ccrroot..”</p>
<p>Muncratlah spermaku sampai 4–5 kali, dan wah.., badanku lemas, dan aku tertidur dengan bugil, dan sperma dimana-mana (di dada, paha, karpet, tangan dan bantal).</p>
<p>Kejadian seks yang mengesankan buatku, saat kupinjam CD BF ke salah satu rental VCD di daerah Yogya. Pinjam CD BF ini aku rutin satu minggu sekali, dan pinjam paling tidak 5 VCD (puas nek..). Saat aku masuk rental itu, terlihat yang jaga rental seorang cowok dan cewek, lalu kudatangi yang cowok (maklum kalau sama si cewek agak malu kucing).</p>
<p>“Mas.., full..” kataku sambil melepas helm dan duduk di kursi yang disiapkan.</p>
<p>“Oh.. ya..,”</p>
<p>Tidak lama cowok itu mengambil map warna merah yang di dalamnya berisi pilihan gambar CD BF dengan nomor pemesanan.</p>
<p>Sesaat kupilih-pilih BF yang ada dari halaman pertama, sambil mencuri-curi pandang ke arah cewek yang sedang baca novel, maklum saat itu sedang sepi, jadi mereka bisa santai, kuperhatikan cewek disitu yang masih muda. Ya sekitar sama denganku, mungkin tingginya tidak begitu tinggi, sekitar 158 cm, dan berat badan yang montok sekitar 54 kg. Yang membuatku tidak kuat melepas pandangan dari dia adalah ukuran payudaranya yang cukup besar dan menggantung bebas di balik kaos ketat. Wah.., ini pepaya yang besar dan kenyal serta empuk kalau dihisap putingnya, maklum saja ukuran 36B, mana tahan kalau penis ini tidak naik.</p>
<p>Penisku saat itu lagi pemanasan, ya.. tegang-tegang sedikit selain akibat pilih-pilih CD dengan gambar yang bugil ditambah lagi suguhan susu yang montok itu.</p>
<p>Tiba-tiba si cowok bilang, “Yang mana Mas..?”</p>
<p>Aku menjadi kaget, terganggu perhatianku terhadap susu montok itu, “Oh.., Ya.. ini nomer 27, Mas..”</p>
<p>“O.., Rin.. nomer 27..”</p>
<p>Segera si cewek itu berdiri dan berbalik mencari CD BF no. 27.<br />
Wow.., ternyata dia memiliki pinggul yang oke, tidak kalah lagi pantat yang super menonjol dan semok. Aku terus tidak henti-hentinya mengamati belahan pantat cewek itu yang kutahu namanya Rina. Belahan pantat Rina terpampang jelas, karena dia pakai celana kain ketat.</p>
<p>“Oh.. tidak ada, kelurar..” kata Rina sambil kembali duduk.</p>
<p>Terus aku tidak malu-malu pindah duduk ke dekat Rina biar jelas nomor berapa yang mau kupinjam.<br />
“Sebentar Mbak.., ini nomer 13 ada nggak..?”</p>
<p>“Sebentar saya cariin..”</p>
<p>Rina lalu berdiri lagi dan membelakangiku. Dia mencari dari atas sampai bawah, setelah lama mengurut, dia menemukan nomor 13 tersebut.</p>
<p>“Ah.. ini Mas ada kok..”</p>
<p>“Oh ya..,”</p>
<p>Aku lalu memeriksa CD itu, kucuri pandang ke susu yang montok itu. Memang kalau makin dekat makin jelas tonjolan susu rina ini, putingnya nampak tonjolannya di tengah-tengah gundukan payudaranya. Rina mengerti gelagatku yang terus mengamati susunya itu.</p>
<p>“Mas.., mana lagi..? Kok jadi bengong..!”</p>
<p>“O.. ini Mbak.., nomer 40,” aku kaget sekali tiba-tiba diperingatkan seperti itu.</p>
<p>Aku sengaja memesan nomor yang baling bawah, sehingga Rina nanti bisa menunging membelakangiku. Rina berdiri, dan ternyata dia langsung mencari dari deret yang paling tengah, otomatis dia sedikit menungging. Wow.., ini baru pemandangan yang tidak kalah serunya deh.. Pantat dan belahan pantat Rina benar-benar asli dan oke sekali, kelihatan di selakangannya agak menjorok ke dalam gundukan tempat vaginanya singgah. Wah.. penisku tidak sadar sudah setengan tegak pengaruh dari pantat montok Rina itu.<br />
“Ini Mas.., nomer 40..”</p>
<p>“Oh.. ya.. Mbak sekalian 45, 50, 49 deh…”</p>
<p>Biar dia agak lama menungging, dan aku dapat menikmati belahan pantat Rina yang montok itu, dan sekilas gundukkan vagina yang tertutup celana ketat Rina.</p>
<p>“Ini Mas.., 45, 50, 49 ada lagi.”</p>
<p>“Udah cukup Mbak..”</p>
<p>Aku periksa, mungkin CD-nya tergores atau tidak.<br />
“Masnya sering pinjem BF di sini ya..?”</p>
<p>“Ya.. lumayan sih.., Kalo nggak semingggu sekali baru kemari..”</p>
<p>“Emmhmm.. rutin ya.. suka nonton BF ya.. Mas..?”</p>
<p>“Ya.., kalo lagi perlu nganggur aja, lagi bete nih..!”</p>
<p>“Kok bete.. kenapa..?”</p>
<p>Aku mulai akrab dengan Rina, dan kalau ngomong sudah tidak nanggung-nanggung lagi, aku yakin dia sudah mengerti masalah sex.</p>
<p>“Ya.. kalo nggak dikeluarin bisa pusing nih..!”</p>
<p>“Ha.. ha.. ya.. keluarin aja..!” kata cowok yang ada di sebelah Rina, ternyata cowok itu mendengar percakapanku dengan Rina.</p>
<p>“Lah.. ya.., makannya aku pinjem BF ini, alat perangsang..”</p>
<p>Setelah itu aku pulang dan menyalakan komputer dan nonton BF itu, tidak lupa aku telanjang dan menyiapkan handuk kecil untuk spermaku nanti muncrat dan body lotion sebagai pelicin. (Khayalan batang kemaluanku di dalam vagina cewek) Dan pada hari itu aku menghabiskan waktu dengan onani party di kamarku, nikmat dan puas.</p>
<p>Lalu esoknya aku kembalikan CD BF itu. Sesampainya di depan rental X ini, kelihatan sepi-sepi saja, lalu aku masuk dan ternyata aku hanya melihat cowok saja yang jaga.</p>
<p>“Mas, kembaliin CD nih..!”</p>
<p>“I.. ya. Se.. bentar ya.., tang.. gung..” sambil nafas yang terengah-engah.</p>
<p>Aku curiga cowok ini kenapa, dia duduk dan kedua tangannya menggenggam kursi dengan erat dan dia kok melihat ke bawah terus.</p>
<p>“Ya.., tung.. gu ya.. Mas.. Ah.. ye.. ter.. us..” tidak lama cowok itu mengejang, dan, “Aku.. ke.. luar.., ah.. ah.. ah..”</p>
<p>Setelah itu tidak lama kemudian keluarlah seorang cewek dari bawah tempat duduk cowok itu, wah.. ternyata Rina. Kelihatan sperma cowok itu ada di mulut Rina dan sebagaian di rambutnya.</p>
<p>“Halo Mas.., kembaliin CD ya..?” Rina menyapa dengan santainya.</p>
<p>“E.. i.. ya.”</p>
<p>Rina lalu menuju ke kamar mandi yang letaknya di belakang rental X ini. Rina masih berpakaian lengkap, oo.. ternyata dia baru mengkaraoke batang kemaluan cowok ini.</p>
<p>“Ya Mas, ada yang bisa saya bantu..?” sapa cowok yang baru dipuaskan oleh Rina lewat mulut binalnya, sambil berdiri dan memasukkan penisnya yang masih basah karena sperma yang keluar terlalu banyak.</p>
<p>“Iya.. ini CD-nya.”</p>
<p>“Oh.., sebentar ya, Mas..”</p>
<p>Cowok ini memeriksa CD apa ada yang tergores atau tidak.</p>
<p>Lalu kucoba untuk memberanikan diri bertanya sesuatu pada mas ini, aku menjadi yakin kalau rental ini benar-benar xxx.</p>
<p>“Mas maaf ya.., mau tanya.”</p>
<p>“Ya.., kenapa..?”</p>
<p>“Tadi itu…” sebelum aku selesai ngomong, “Oh.., tadi itu Rina minta oral sama ini, biasa kok Mas, disini nyantai aja.”</p>
<p>“O.., jadi siapa saja bisa ya..?”</p>
<p>“Bisa aja, kalo sekedar oral, kocok , emut dan elus-elus aja.”</p>
<p>“Kalo.., sorry ya Mas.., kalo nge-sex sungguhan gimana..?”</p>
<p>“Ya, tanya aja ama Rina, temennya banyak kok. Dia seneng banget kalo nge-sex. Ya.. kan enak sih.”</p>
<p>“Jadi kalo onani disini bisa ya..?”&#8221;Kalo itu sih para pelanggan BF sering Mas. Si Rina tuh yang sering ngocokin cowok. Ya.., kalo Rina nggak capek aja dan lagi ‘MUT’.”</p>
<p>Dan tidak lama kemudian Rina kembali dari kamar mandi, kelihatannya dia baru keramas rambutnya, maklum terkena muncratan sperma cowok penjaga rental.</p>
<p>“Halo Mas. Pinjem BF lagi..?”</p>
<p>“Oh.., nggak kok.”</p>
<p>“Rin.., ini Mas mo kenalan ama kamu lebih dalam..” kata cowok rental X itu.</p>
<p>Aku kaget sekali cowok itu bilang seperti itu, “Ya Mbak.., boleh nggak..?”</p>
<p>“Itu Rin.., Mas ini mo kocokan binal kamu, kamu mau nggak..?”</p>
<p>“Bisa..” kata Rina sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.</p>
<p>“Ya.. udah sana ajak ke atas aja Rin.., biar rentalnya kutunggu.”</p>
<p>Wah.., ini waktunya menguji perkasaanku, sudah lama penisku tidak ketemu sama sahabat karib si vagina.</p>
<p>Lalu aku dan Rina naik tangga menuju lantai dua, dan Rina membawa satu CD BF dari rental itu. Sesampai di sebuah kamar, Rina mempersilakanku untuk duduk di ranjang yang cukup besar juga. Rina lalu mengunci pintu, dia meletakkan handuknya di kursi dan menyalakan TV dan CD player, dan memutar CD BF itu dengan volume yang cukup keras. Tidak lama kemudian terdengarlah erangan nafsu, dan terlihat adegan bugil-bugil dari CD tersebut, ini membuat batangku yang tidak sabar lagi melihat kemolekkan tubuh Rina. Rina lalu membuka jendela selebar-lebarnya, agar suasananya lebih natural.</p>
<p>“Gimana Mas, e.. nama kamu siapa sih..?”</p>
<p>“Aku Ari, kamu pasti Rina to..?”</p>
<p>“Kok tau..?”</p>
<p>“Ya.. tau dong..,”</p>
<p>Tidak lama kemudian Rina mendekatiku, dan duduk di sampingku, dan tidak segan-segan lagi tangan kanan Rina memegang batang kemaluanku yang masih terbungkus celana pantangku, dielus-elus dan kadang-kadang diremas-remas.</p>
<p>“Ari suka sex ya..?”</p>
<p>“Ya. Ah.., kamu pinter deh nge-sex..!”</p>
<p>“Ah.., kata siapa..?” sambil tetap mengocok-ngocok kemaluanku, dan aku masih pasif merasakan gesekan tangan Rina.</p>
<p>“Ya, ah.., hemmm.., kata Mas di bawah tadi.”</p>
<p>“Ooo, Mas Ucok toh..,”</p>
<p>Sekarang Rina duduk di hadapanku, dan menjongkok sambil tangannya tetap mengocok habis batang kejantananku yang sudah setengah tegang itu.</p>
<p>“Ar.., udah dibuka ya..? Biar kamu nggak tersiksa ama CD kamu, biar ngacengnya sempurna.”</p>
<p>“Ya.., udah.. buka aja..”</p>
<p>Rina pelan-pelan membuka celanaku dari sabuk sampai membuka resleting-nya, setelah celanaku terbuka, aku sedikit mengangkat pantatku untuk memudahkan Rina melepas celana, dan sekarang aku tinggal menggunakan CD biru-ku, dan pakaianku masih terpakai. Lemparkan celanaku di kursi dan Rina mulai duduk kembali di selakanganku, dan aku masih dalam keadaan duduk di pinggir ranjang rental X.</p>
<p>“Hemmm.., ah… kamu kelihatanya besar juga Ar..,” puji Rina sambil mengelus-elus naik turun penisku yang masih terbungkus CD.</p>
<p>“Ah.. ya.. hem.. oughg.. ye..” erangan yang tidak dapat kutahan lagi, ditambah erangan dari CD BF yang dinyalakan oleh Rina tadi menambah hot suasana di kamar rental X.</p>
<p>Rina sedikit demi sedikit membuka CD-ku, dan terlihatlah batang kemaluanku yang sudah mengacung keras seperti rudal siap lepas kendali.</p>
<p>“Wow.., Ar… mu lumayan juga nih..” sambil tetap mengocok naik turun kejantananku, “Kamu rawat ya..? Kok tegaknya sempurna banget sih..? Keras lagi..,”</p>
<p>“Ah.., te.. rus.. rin.. don.. stop..!”</p>
<p>Rina mulai mengocok keras, cepat, dan tiba-tiba pelan, keras lagi, pelan lagi. Wah.. ini membuat aku menjadi kelabakan, ternyata Rina ahli juga membuat cowok melayang, hampir saja aku keluar tapi aku tetap bertahan.</p>
<p>Kemudian Rina mulai mengocok batang kemaluanku dengan tangan kiri dan tangan kanannya mengelus-elus telur. Wa.., ini nikmat sekali, geli-geli gimana ya..! Kadang-kadang dia menusuk-nusuk anusku dengan telunjuk kanannya.</p>
<p>“Ah.. ya.. te.. rus.. Rin.. kamu.. ahli deh..!”</p>
<p>Sekarang Rina mulai dengan mulutnya, perlahan-lahan dimasukkan penisku ke mulut binalnya.</p>
<p>Saat masuk mulutnya, “Ah.., hemmm.. ye.. ah…”</p>
<p>Aku sedikit mengangkat pantatku, terasa dingin geli dan enak sekali, lain dengan onani.</p>
<p>Perlahan-lahan Rina mengkocok penisku dengan mulutnya dan lidahnya yang lincah.</p>
<p>“Ha.., ough.., ehmm.., ye.. te.. rus..” kupegangi rambutnya, aku tarik turunkan kepalanya untuk mengatur kocokan mulutnya di penisku.</p>
<p>“Ehhmm.., Eh.. em..,” suara mulut Rina yang penuh dengan batangku.</p>
<p>Tidak lama dia menarik nafas, dan mengeluarkan penisku dari mulutnya.</p>
<p>“Ah.., hemm.., kamu kuat sekali Ar.. Biasanya cowok-cowok kalo dioral dikit udah keluar..”</p>
<p>Lalu dia melanjutkan dengan menyedot telurku, dan dilepaskan sampai bersuara, “Ploks.. ploks…”</p>
<p>Tarian lidah Rina di ujung kepala penisku dan sampai anusku juga tidak ketinggalan dari nafsu seksnya itu. Dan setelah beberapa menit lamanya aku bertahan dari tarian lidah Rina di penisku, aku mulai merasa tidak kuat menahan spermaku yang mau keluar.</p>
<p>“Ah., Rin.., aku.. mo.. ah.. ye.. keluaarrr..!”</p>
<p>Dan Rina mulai memasukkan semua penisku di mulutnya, dan dikocoknya dengan cepat dan keras.</p>
<p>Tidak lama kemudian, “Ahh.. crrooot… crroottt.. ah.. ye.. yes..!”</p>
<p>Rina menutup mulutnya rapat-rapat supaya spermanya tidak keluar dari mulutnya. Dan selama 30 detik lamanya dia menekan mulutnya tetap di penisku, dan meyakinkanku tidak keluar lagi. Lalu dia melepaskan mulutnya dari penisku, dan menelan semua spermaku walaupun ada yang keluar sedikit dari mulutnya.</p>
<p>Aku lemas dan telentang di atas ranjang dengan telanjang bawah saja, dan aku merasa panas dan aku melepas semua pakaianku. Sekarang aku bugil, telanjang tanpa sehelai benang di hadapan Rina yang menikmati spermaku.</p>
<p>“Kamu lumayan juga Ar..! Bisa bertahan beberapa menit lamanya.”</p>
<p>“Ah.. biasa aja tuh..!”</p>
<p>“Kamu pake obat ya..? Irex kali..?”</p>
<p>“Ah.. nggak juga.”</p>
<p>“Udah.., kamu istirahat dulu. Aku mo bersihkan mulutku nih.. Eh, makasih spermanya lho.. gurih..!” katanya sambil terseyum.</p>
<p>Dia menuju kamar mandi yang ada di kamar itu. Ternyata dia sikat gigi, biar tidak bau kali.</p>
<p>Aku beristirahat sambil telanjang menunggu Rina keluar dari kamar mandi. Dengan ditemani CD BF yang dari tadi tidak usai-usai, menambah batang kejantananku tidak mau tidur, penisku masih tegak walaupun tidak sekeras tadi. Tidak lama kemudian Rina keluar dari kamar mandi, dia tetap berpakaian lengkap, kaos ketat dan celana kain ketat. Rina mendekatiku yang lagi telentang telanjang di ranjang, dia duduk di sampingku.</p>
<p>“Lho.., kamu kok nggak turun-turun sih..?”</p>
<p>“Ya.., itu lihat BF mana bisa turun, apalagi susu kamu yang montok itu menggoda ku.”</p>
<p>“Ah.., kamu bisa saja.” candanya sambil langsung tangan kanannya mengocok-ngocok pelan batangku yang sudah setengah tegak.</p>
<p>Perlahan-lahan dia menunduk dan mencium bibirku dengan bibir tebalnya itu. Aku langsung melumat habis bibirnya, permainan lidah Rina memang mahir, dan aku imbangi saja dengan permainan lidah yang tidak kalah mahirnya.</p>
<p>Sekitar beberapa menit kami bermain kiss dan kiss, dan Rina tetap mengocok penisku, aku mulai menjelajahi susunya yang montok itu, kuremas dengan tanganku yang dari tadi gatal sekali. Terasa kenyal dan empuk sekali susu Rina, kuelus-elus dan kugesek-gesek halus putingnya dari luar kaos. Sekarang rina melepaskan lumatan bibirnya, dan mengerang merasakan tarian tanganku di susunya itu.</p>
<p>“Ah.., ye.. em.. enak.. Ar.. te.. rus.. ya.. itu.. ough..” tangan Rina tetap mengocok-ngocokku dan aku berusaha melepaskan kaos Rina dan dia langsung membantunya dengan melepaskan sendiri kaos ketatnya itu.</p>
<p>Nah.., sekarang terpampang susu Rina yang tertutup BH 36 itu.</p>
<p>“Rin.. aku buka ya.. biar terlihat bebas..”</p>
<p>“Buka aja..”</p>
<p>Rina lalu mengangkat kedua tangannya memudahkanku melepas kaitan BH yang ada di belakang, susu Rina yang montok itu terpampang bebas di depan wajahku, dan aku langsung saja melahap habis susu Rina yang besar sekali. Kusedot, kuremas dan pelintir putingnya.</p>
<p>“Ah.. ye.. oug.. hem.. te.. rus.. Ar..!” mulai tidak jelas ucapan Rina.</p>
<p>Kami mulai duduk berhadap-hadapan, dan selakangan Rina mulai dibuka lebar, dan aku duduk di antaranya, sehingga aku puas mempermainkan susu montok Rina.<br />
Kupegang kedua puting Rina yang cukup menonjol itu, dan kupelintir bebarengan.</p>
<p>“Ah.. ye.. ah.. aow.. yes.. no.. ough..”</p>
<p>Kepala Rina bergerak tidak karuan, ke kanan ke kiri. Kurebahkan Rina dan kududuk di perutnya, aku mengarahkan penisku di belahan susu Rina, dan kurapatkan susu Rina yang besar itu untuk menjepit penisku dan aku maju-mundurkan penisku.</p>
<p>“Ah.. Rin.. su.. su.. ah.. ye.. em.. puk enak..” aku mulai kocok susu Rina sampai susu Rina berwarna merah.</p>
<p>Ternyata Rina menikmati ini, dan aku tidak sabaran lagi ingin menikmati vagina cewek ini.<br />
Aku mulai turun dan mengelus-elus vagina Rina dari luar celana ketatnya, terasa sekali vaginanya sudah becek sekali akibat permaian panas kami. Kusuruh Rina berbalik telungkup, dan terlihat resleting celananya masih tertutup rapat. Kumulai menurunkan resleting itu, Rina sedikit mengangkat pantatnya agar memudahkanku untuk melepas celananya, dengan posisi menungging ini pantat Rina kelihatan makin montok dan bahenol. Tidak lama kulepas celana ketat Rina. Wah.., ternyata Rina benar-benar terangsang sekali. CD kuning tipisnya bawah total, dengan posisi menungging ini bongkahan vagina makin terlihat, apalagi Rina merenggangkan selakangannya. Aku mengelus-elus bongkahan itu dengan tangan telunjukku, Rina sedikit mengangkat pantatku akibat rangsangan tanganku, dan biasanya pantat Rina otomatis maju mundur dengan sendirinya.<br />
Lalu aku melepas CD kuning tipis mulik Rina itu dengan pelan-pelan, dan Rina memberi sensasi dengan memutar-mutarkan pantatnya, wowo.. woo.., ini bari sex dan super model sex, dia pintar sekali meningkatkan nasfu sex lawannya. Terlepas sudah CD Rina, terlihat bebas pantat yang putih mulus tanpa cacat dan vagina yang memerah basah dan berambut rapih. Aku mulai mengelus-elus permukaan pantat Rina.</p>
<p>“Ah.. Ar.. ehmmm.. ouhghhh.. ah.. ye.. langsung aja Ar.., aku.. nggak.. tahan… oh.. ye..” sambil merem melek Rina menahan nafsunya.</p>
<p>Langsung aku mendekatkan wajahku di belahan pantat Rina, dan langsung melumat habis vagina Rina dalam posisi menungging.</p>
<p>“Ah.. ye.. dalam.. Ar.. ough.. ye.. oh.. ye..” sambil meliuk-liukkan tubuh semok-nya itu Rina mengerang tidak karuan, karena kupermainkan klit-nya Rina dengan lidahku.</p>
<p>Kunaik-turunkan lidahku di penjolan daging itu. Belahan vagina Rina lumayan tebal, dan merah warna dalan vaginanya dan becex sekali. Beberapa saat kemudian aku memasukkan dua jariku, yang satu kumasukkan di vagina Rina dan yang satu lagi kumasukkan di anusnya.</p>
<p>Pelan-pelan kumasukkan, “Hemmah.. pelan.. pelan.. Ar.. ya.. te.. rus di.. kit..lagi.. ough..” Rina mengangkat pantatnya sebagai reaksi jari masuk di vagina dan anusnya.</p>
<p>Pelan-pelan kukocok anus dan vagina Rina dengan jariku.</p>
<p>“Yac.. ah.. le.. bih.. cepat.. Ar, oh.. ye.. oh.. no.. ye.. ya.. oug.. hemmh.. cepet..!”</p>
<p>Aku mulai mempercepat kocokanku di kedua lubang kenikmatan Rina. Sementara itu aku tidak menyia-nyiakan susu yang menggelantung bebas. Dalam posisi nunggi ini aku dapat melihat dengan bebas gerakkan tubuh Rina yang bahenol dan montok. Kuremas dan pelintir putingnya.</p>
<p>“Ah.. Ar.. aku.. kee.. ke.. lu.. ar.. nggaa.. kuuu.. at..”</p>
<p>Aku merasa Rina mulai dalam kondisi orgasme yang memuncak, kupercepat kocokan tanganku di vagina dan anus Rina. Tidak lama kemudian Rina mengejang dan mengangkat badannya dengan gemetaran, dan terasa cairan hangat dari dalam vagina Rina.</p>
<p>“Serrr.. serrr…” lumayan banyak sampai keluar dari permukaan vagina Rina.</p>
<p>Rina lelah dan terkulai lemas di ranjang dengan posisi telungkup telanjang. Lalu tanganku kucabut dari vagina dan anus Rina, terlihat cairan yang lumayan kental dan putih di jariku, lalu kuusapkan ke kejantananku sebagai pelicin. Kukocok-kocok pelan dan lembut penisku agar tetap tegang dan tegak berdiri.<br />
Sementara itu Rina telanjang dan membelakangiku, aku lalu membalikkan dia.</p>
<p>“Rin, orgasme kamu hebat banget deh..”</p>
<p>“Oh.. ah.. kocokan jari kamu hebat sekali, kamu belajar dimana sih..? Kok tau kelemahanku..?” sambil terus mengocok penisku.</p>
<p>“Ya.. nonton BF aja kan udah pengalaman.”</p>
<p>“Ah.. kamu bisa aja.” katanya sambil menggantikan tanganku untuk mengocok batangku yang mau keluar lagi.</p>
<p>“Rin, boleh aku coba vagina kamu ini..?” sambil kuelus-elus vaginanya.</p>
<p>“Boleh..”</p>
<p>Lalu kulebarkan selakangan Rina, dan kurangsang dulu dengan oral di vaginanya. Lidahku menyusuri vaginanya dari atas ke bawah dan ke atas lagi dan seterusnya. Rina mulai mendesah keenakan.</p>
<p>“Ehhmm.. ah.. ye.. Ar.. sekarang aja mu masukin deh..!”</p>
<p>Lalu kupegang kedua paha Rina, lalu kuangkat ke atas, terlihat jelas vagina Rina yang sudah membuka lebar dan becek. Pelan-pelan kumasukkan batang kemaluanku ke vagina Rina.</p>
<p>“Ouhg.. hemm.. ah.. ye..” erangan Rina menerima sodokan pertama penisku.</p>
<p>Aku mulai memaju-mundurkan penisku dengan pelan-pelan.</p>
<p>“Oh.. ye.. shiit.. ah.. ye..” erangku.</p>
<p>Enak benar vagina Rina, dindingnya berdenyut-denyut. Aku mulai percepat kocokanku, dan semakin cepat.</p>
<p>“Ah.. Ar.. yes… oh.. no.. ough… hemm.. ya.. ya.. te.. rus.. Ar.. dalam..” kepala Rina yang tidak karuan ke kanan dan ke kiri.</p>
<p>Kuvariasi kocokanku dengan pelan-pelan, lalu tiba-tiba cepat sekali, pelan lagi cepat lagi dan seterusnya, biasanya kuputar pantatku agar penisku memutar di vagina Rina.</p>
<p>“Ya.. ini.. oke.. Ar.. te.. rus.. ough.. ye.. hem..” Rina menyukai gerakan memutar dari pantatku.</p>
<p>Sekitar 3 menit gerakan ini berlangsung, kubalikkan Rina dengan posisi menungging, dan kutancapkan lagi penisku di vagina Rina dari belakang. Dengan pegangan pinggul Rina yang semok itu aku langsung percepat.</p>
<p>“Oh.. ye.. Rin.. vaginamu oke..”</p>
<p>“ kamu.. ouhg.. hemmm.., hebat.. Ar.. te.. rus.. da.. lam..!”</p>
<p>Setelah beberapa saat, tiba-tiba, “Ah.. Ar.. aku akan, aku.. ke.. luar..!”</p>
<p>“Ta.. han.., nanggung nih! Ah.. ye.. hemm..!”</p>
<p>Terasa aku sudah sampai, kusuruh Rina untuk duduk di atasku, dan dia memegang penisku, dan dimasukkannya ke vaginanya.</p>
<p>“Ouh.. ya.. Rin.. kamu.. hebat..!”</p>
<p>“Ya.. Ar.., cepet ya..! Aku, keluar.. ah.. hemm..!”</p>
<p>Lalu rina mempercepat gerakannya dengan sangat liar, dia merangkulku dan menggerakkan pantatnya untuk mengocok batang kejantananku dengan cepat.</p>
<p>“Oh.. Ar.. aa.. ku.. ngga.. k.. tahan.. keluar.. hem..!”</p>
<p>“Ki.. ta.. samaan.. aku.. keluar.. juga..”</p>
<p>Dalam hitungan tiga detik, “Crroot.., crroott.. ah.. ah.. ye..”</p>
<p>“Seerrr.., sreerrr..” kumuncratkan spermaku ke dalam rahim Rina, dan terasa sekali semburan cairan hangat Rina di kepala penisku.</p>
<p>Rina lemas di dadaku, dan kami tertidur di ranjang itu dengan bertelanjang ria.</p>
<p>Setelah istirahat beberapa jam, aku terbangun, ternyata Rina sudah tidak ada di sampingku. Lalu kukenakan bajuku dan turun ke tempat rental, dan ternyata Rina ada disana.</p>
<p>“Mas Ari udah bangun ya..? Nggak mandi dulu Mas..?”</p>
<p>“Oh.., nggak Rin, makasih.”</p>
<p>“Nggak pinjem BF lagi..?”</p>
<p>“Ah.. tidak dulu. Lagi pembuangan besar-besaran tadi di atas.”</p>
<p>Rina tersenyum, lalu aku pulang ke kostku dan aku langsung mandi. Besok-besoknya aku ke rental X itu untuk kocokan penis saja sama Rina.</p>
<p>Setelah beberapa bulan aku tidak kesana, kuketahui Rina tidak di situ lagi. Kutanya sama mas yang jaga di rental X itu dimana Rina berada, ternyata Rina ke Jakarta. Wah.., nyesal sekali nih.. mulai nih.. tidak ada pemuasan sex selain onani deh.</p>
<h4>Cerita Panas Terbaru:</h4>,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cewek-penjaga-rental-vcd-bokep-yogyakarta.html" title="cerita panas">cerita panas</a> ,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cewek-penjaga-rental-vcd-bokep-yogyakarta.html" title="Cerita 17">Cerita 17</a> ,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cewek-penjaga-rental-vcd-bokep-yogyakarta.html" title="batang pantat">batang pantat</a> ,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cewek-penjaga-rental-vcd-bokep-yogyakarta.html" title="Cerita 17 tahun">Cerita 17 tahun</a> ,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cewek-penjaga-rental-vcd-bokep-yogyakarta.html" title="cewek liar">cewek liar</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.145 ms -->

<p><b>Cerita Seks Berhubungan:</b><ol><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cerita-dewasa-ngentot-di-kampus-dengan-rosa-cewek-kampus.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cerita Dewasa Ngentot Di Kampus Dengan Rosa Cewek Kampus'>Cerita Dewasa Ngentot Di Kampus Dengan Rosa Cewek Kampus</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cewek-penjaga-rental-vcd-bokep-yogyakarta.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngentot Dengan Istri Polisi Hutan Indonesia</title>
		<link>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/ngentot-dengan-istri-polisi-hutan-indonesia.html</link>
		<comments>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/ngentot-dengan-istri-polisi-hutan-indonesia.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 07:03:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita 17 tahun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[ada]]></category>
		<category><![CDATA[bulat]]></category>
		<category><![CDATA[cantik]]></category>
		<category><![CDATA[cerita ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[cerita ngentot 2010]]></category>
		<category><![CDATA[cerita ngentot istri orang]]></category>
		<category><![CDATA[cerita ngentot istri polisi]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Ngentot Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[datang]]></category>
		<category><![CDATA[hidung]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[kasar]]></category>
		<category><![CDATA[kerap]]></category>
		<category><![CDATA[kesal]]></category>
		<category><![CDATA[laki laki]]></category>
		<category><![CDATA[pekalongan]]></category>
		<category><![CDATA[polisi]]></category>
		<category><![CDATA[pria dan wanita]]></category>
		<category><![CDATA[senyum yang]]></category>
		<category><![CDATA[sepeda motor]]></category>
		<category><![CDATA[stamina]]></category>
		<category><![CDATA[sukai]]></category>
		<category><![CDATA[wajah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapanasdewasa.com/?p=404</guid>
		<description><![CDATA[Aku sangat menyukai pergi dengan menggunakan mobil, terutama untuk daerah daerah yang belum pernah aku kunjungi dengan demikian aku dapat melihat banyak pemandangan alam serta juga untuk menjaga stamina tubuh. Karena dengan berkendaraan jarak jauh, pastilah dibutuhkan stamina yang tinggi dan ini aku sukai. Ada lagi hal hal kecil yang aku sukai karena dengan berkendaraan [...]


<b>Cerita Seks Berhubungan:</b><ol><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/utang-uang-dibayar-dengan-tubuh-istri.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Utang Uang, Dibayar Dengan Tubuh Istri'>Utang Uang, Dibayar Dengan Tubuh Istri</a></li><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/vita-masturbasi-dengan-cd-dan-vagina-seksi.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Vita, Masturbasi Dengan CD Dan Vagina Seksi'>Vita, Masturbasi Dengan CD Dan Vagina Seksi</a></li><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cerita-mesum-di-perkawinan-teman.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cerita Mesum di Perkawinan Teman'>Cerita Mesum di Perkawinan Teman</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku sangat menyukai pergi dengan menggunakan mobil, terutama untuk daerah daerah yang belum pernah aku kunjungi dengan demikian aku dapat melihat banyak pemandangan alam serta juga untuk menjaga stamina tubuh. Karena dengan berkendaraan jarak jauh, pastilah dibutuhkan stamina yang tinggi dan ini aku sukai. Ada lagi hal hal kecil yang aku sukai karena dengan berkendaraan seorang diri, kadang kadang aku bisa mendapat rejeki berupa perempuan cantik yang kerap kali kutemui diperjalanan. Hal ini aku alami ketika suatu hari aku pergi ke Semarang dengan mengendarai Mercedesku, semuanya berjalan dengan lancar, aku sempat mampir dibanyak tempat untuk sekedar bersantai dan menikmati pemandangan alam. Tetapi tanpa diduga disatu jalan pintas ditengah hutan yang aku sendiri kurang mengenal, aku terjebak pohon roboh. Aku jadi</p>
<p>kuatir, karena kota terakhir yang aku lewati sekitar 50 km dibelakangku, padahal saat itu hari sudah agak sore, dengan kesal aku keluar dari mobil dan menunggu sebentar, aku sudah hampir memutuskan untuk kembali kekota Pekalongan ketika kulihat ada sepeda motor datang menghampiriku. Aku segera melambai lambaikan tangan memintanya berhenti. Ternyata penumpangnya adalah seorang pria dan wanita, si pria seorang laki laki dengan tubuh tinggi besar berkumis melintang dan wajah yang kasar sekali, rupanya adalah seorang polisi hutan, hal ini kulihat dari seragamnya, yang membuat aku berdebar adalah perempuannya. Si perempuan benar benar menarik, badannya montok, tinggi besar, berkulit putih bersih dan wajah yang menarik sekali. Hidung mancung, mata yang bulat dan bibir penuh menampilkan sensualitas seorang wanita. Si pria dengan tersenyum senyum yang aku lihat memuakkan sekali menanyakan apa keperluanku, kukatakan apa dia bisa membantu menyingkirkan pohon yang roboh itu, kukatakan kalau aku mau bayar berapa saja asal pohon dapat disingkirkan dan aku dapat meneruskan perjalanan. Dengan wajah yang dibuat sesopan mungkin dia menyatakan bahwa dia sanggup untuk mencari orang untuk meminggirkan pohon tersebut. Mendengar itu aku langsung mengeluarkan uang 200 ribu untuk kuberikan padanya.Kukatakan bahwa itu untuk uang muka, nanti kalau pohonnya sudah minggir akan aku beri lagi. Menerima uang itu dia segera bertindak, disuruhnya perempuan cantik yang rupanya isterinya itu untuk menunggu dan dia segera pergi dengan sepeda motornya. Aku bersorak girang karena ditinggal berdua dengan perempuan secantik ini ditengah hutan sepi, tetapi aku tak berani semberono karena aku belum mengerti bagaimana perempuan ini.<br />
Ternyata Narti nama isteri polisi hutan itu gampang diajak bicara bahkan sedikit genit, apalagi ketika kutanya hal yang agak agak berbau porno, berkali kali dia tertawa terkikik mendengar perkataanku. Aku benar benar suka dengan perempuan ini, giginya putih dan rata sekali, susunya besar sekali, karena kuperhatikan dari tempat dudukku, susunya yang putih itu kelihatan menonjol sekali. Suasana yang sepi membuat nafsuku jadi naik keotak, ******ku juga ngaceng tapi aku masih kuatir kalau Narti menolak. Akhirnya tanpa pikir panjang aku pura pura kencing dipohon dekat mobilku, aku yakin kalau dia memperhatikan aku, karena cara kencingku sengaja sedikit kuarahkan padanya. Benar saja Narti tertawa melihat ******ku dan dia melengos, melihat reaksinya itu aku makin berani, secara sengaja aku mendekati dia sementara ******ku yang ngaceng masih kukeluarkan dari celana. &#8220;Apa punya suamimu sebesar ini Nar ?&#8221; tanyaku penuh nafsu. Narti mendorong badanku sambil berkata &#8220;Lebih besar lagi, sana Pak, nanti ada yang lihat lho !&#8221; Aku tertawa sambil memasukkan ******ku, aku menganggap kata katanya tadi itu hanya omong kosong, aku yakin dia juga suka denganku, hanya mungkin dia masih takut kalau ketahuan suaminya yang memang wajahnya galak dan licik itu. Dalam hati aku sudah memutuskan untuk malam ini bermalam dirumahnya saja, karena aku benar benar ingin menikmati tubuh Narti yang montok itu. Rupanya keberuntungan masih berpihak kepadaku, karena ternyata ketika Hartono suami Narti kembali, dia belum menemukan cukup orang untuk memindahkan pohon itu, mungkin agak malam baru ada cukup banyak orang. Dengan nekad aku bertanya apakah aku bisa bermalam saja dirumahnya agar besok pagi bisa melanjutkan perjalanan Seperti yang kuduga, dengan senang hati Hartono mengajak aku kerumahnya, aku menarik nafas lega, ketika aku menoleh ke Narti, Narti yang berdiri dibelakang suaminya tersenyum mendengar aku akan bermalam dirumahnya. Kukeluarkan lagi uang 200 ribu dan kuberikan pada Narti dengan pesan untuk belanjanya. Narti ragu ragu menerima, tetapi aku paksa saja. Hartono sangat senang, dia terus tersenyum dan berbicara panjang lebar, tetapi tak bisa menghilangkan kesan kejam dan licik dari wajahnya. Aku sendiri sempat heran, kenapa orang secantik Narti bisa dikawin pria seperti Hartono ini.<br />
Kuiikuti sepeda motor Hartono yang bergoncengan dengan Narti untuk menuju rumahnya, ternyata rumah mereka agak jauh ditengah hutan jati yang menjadi tanggung jawab Hartono sebagai polisi hutan. Rumahnya cukup besar tetapi masih terbuat dari bambu, dikelilingi oleh pohon jati yang besar. Meskipun terpencil, ternyata rumah itu memiliki tenaga listrik yang berasal dari diesel kecil. Menurut Hartono tenaga listrik diperlukan untuk komunikasinya dengan pusat pengawasan hutan di Semarang. Aku mendapat kamar yang kecil dengan dinding dari bambu, tetapi keadaan kamar itu cukup rapi dan bersih. Ketika aku dan Hartono sedang berbincang, kulihat Narti lewat dengan hanya memakai sarung yang menutupi buah dadanya, aku menelan ludah melihat kemulusan pundaknya serta susunya yang menyembul keluar dari balik sarung itu, aku pura pura tak memperhatikannya, karena aku kuatir kalau Hartono jadi curiga kepadaku. Aku terus mengharap agar Hartono mau keluar sebentar agar aku bisa mencari alasan untuk mengintai Narti yang sedang mandi tetapi Hartono terus saja berbicara tanpa henti. Akhirnya aku jadi bosan dan putus asa, aku memperkirakan bahwa tak mungkin aku dapat menikmati tubuh Narti karena suasananya yang tak memungkinkan ini. Sampai Narti masuk kembali setelah dari kamar mandi, aku masih terus bercakap dengan Hartono. Narti kuperhatikan sedang mempersiapkan makan malam untuk kami. Makan malam sederhana sekali tetapi Narti rupanya pandai memasak dan lagi pula dia ingin menjamuku sehingga segala persediaan makanan dikeluarkan. Selesai makan aku segera minta permisi untuk tidur. Rupanya kamarku bersebelahan dengan kamar Narti dan Hartono, karena tadi kulihat Narti keluar masuk kekamar sebelah begitu juga dengan Hartono. Setelah kurapatkan pintu aku duduk diatas tempat tidur sambil melamun, saat itulah pandanganku tertambat pada sebuah lubang kecil didinding bambu pembatas kamarku dan kamar Hartono, letaknya agak tinggi sehingga aku harus mencari kursi untuk memanjat. Setelah aku yakin bahwa pintu kamarku telah terkunci rapat, barulah aku berani mengintai kekamar sebelah, aku jadi berdebar debar, karena aku bisa melihat pemandangan dikamar sebelah dengan sangat leluasa sekali, aku dapat melihat tempat tidur mereka dan semua bagian kamar itu tanpa ada yang tersisa. Kubayangkan seandainya nanti Narti berganti pakaian atau apa dikamar itu, pasti aku dapat melihatnya dengan jelas. Kuperhatikan Narti dan Hartono masih bercakap cakap diluar, kadang kadang kudengar tertawa Narti yang merangsang, mungkin mereka sedang bercumbu, agar mereka tak curiga kalau aku tak tidur, maka aku sengaja mematikan lampu kamarku.<br />
Tak lama kemudian kudengar pintu kamar Hartono dibuka dan langkah kaki memasukinya, aku segera berjingkat menaiki kursiku dan mengintai, kulihat Narti didalam kamar sendirian, entah dimana Hartono, tetapi tak lama kemudian Hartono masuk kekamar dan menyusul Narti yang sudah berbaring diatas tempat tidur itu. Hartono kulihat merangkul Narti dan berbisik bisik. Setelah itu keduanya bangkit dari berbaringnya dan sama sama membuka pakaiannya, hatiku berdebar keras. Seperti yang kuduga, mereka akan bersetubuh ! Tubuh Narti yang telanjang bulat betul betul membuat liurku bertetesan, mulus dan montok sekali, susunya seperti semangka dengan pentil yang kecil sekali sementara perutnya langsing dengan selangkangan yang penuh oleh jembut hitam keriting. Tetapi yang paling membuat aku takjub adalah Hartono ! ****** Hartono benar benar hebat, panjangnya melebihi panjang ******ku ditambah lagi dengan ujungnya yang membengkak seperti jamur besar sekali. Aku membayangkan betapa leganya Narti merasakan tusukan ****** sebesar itu. Dasar orang desa, setelah sama sama telanjang, Narti langsung tidur mengangkang sambil tangannya merentangkan liang nonoknya sendiri, Hartonopun langsung menindih Narti dan menuntun ******nya keliang nonok Narti. Aku melotot melihat nonok Narti yang merah tua menganga menanti ****** Hartono, begitu ****** Hartono masuk kedalam liangnya, Narti langsung mengangkat kedua kakinya tinggi tinggi sambil direntangkan lebar lebar, rupanya dia juga merasa kalau ****** suaminya terlalu gede. Dengan sangat cepat Hartono menggerak gerakkan pantatnya maju mundur sementara Narti dengan cepat pula memutar mutar pantatnya mengimbangi gerakan Hartono ! Suara Narti yang merintih rintih membuat aku jadi makin bernafsu, ******ku rasanya tak tahan ingin mencari nonok untuk kusetubuhi, tetapi sungguh sial nasibku, ditengah hutan tanpa nonok, aku justru harus menyaksikan adegan persetubuhan yang seperti ini. Hartono dengan kasar terus merojok nonok Narti sambil mulutnya menciumi susu Narti, tiba tiba saja Hartono melenguh seperti kerbau yang digorok dan gerakan pantatnya mengejang ngejang. Aku yakin kalau Hartono sudah memuntahkan air maninya. Setelah berdiam diri beberapa saat, Hartono langsung menggulingkan dirinya kesamping sehingga ******nya yang sekarang sudah mengkerut itu tampak menjijikkan karena penuh dengan lendir air maninya. Kuperhatikan wajah Narti ternyata tak sedikitpun terlihat kepuasan diwajah itu, justru yang terlihat adalah rasa kecewa, rupanya Narti belum berhasil mencapai kepuasannya sementara Hartono sudah loyo. Narti berbaring terlentang dengan kakinya terkuak lebar menampakkan nonoknya yang berkilau karena lendir dari ****** Hartono, tangannya diam diam menggosok gosok susunya. Hartono sendiri, tampaknya tak perduli dengan isterinya, ia menarik selimut dan langsung tidur dengan membelakangi Narti.</p>
<h4>Cerita Panas Terbaru:</h4>,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/ngentot-dengan-istri-polisi-hutan-indonesia.html" title="Cerita panas">Cerita panas</a> ,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/ngentot-dengan-istri-polisi-hutan-indonesia.html" title="Cerita 17">Cerita 17</a> ,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/ngentot-dengan-istri-polisi-hutan-indonesia.html" title="Cerita ngentot panas">Cerita ngentot panas</a> ,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/ngentot-dengan-istri-polisi-hutan-indonesia.html" title="Cerita seru">Cerita seru</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.342 ms -->

<p><b>Cerita Seks Berhubungan:</b><ol><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/utang-uang-dibayar-dengan-tubuh-istri.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Utang Uang, Dibayar Dengan Tubuh Istri'>Utang Uang, Dibayar Dengan Tubuh Istri</a></li><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/vita-masturbasi-dengan-cd-dan-vagina-seksi.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Vita, Masturbasi Dengan CD Dan Vagina Seksi'>Vita, Masturbasi Dengan CD Dan Vagina Seksi</a></li><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cerita-mesum-di-perkawinan-teman.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cerita Mesum di Perkawinan Teman'>Cerita Mesum di Perkawinan Teman</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/ngentot-dengan-istri-polisi-hutan-indonesia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Arisan Berondong Tante Girang Nakal</title>
		<link>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/daun-muda/arisan-berondong-tante-girang-nakal.html</link>
		<comments>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/daun-muda/arisan-berondong-tante-girang-nakal.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 16:47:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita 17 tahun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[akrab]]></category>
		<category><![CDATA[arisan berondong]]></category>
		<category><![CDATA[arisan tante nakal]]></category>
		<category><![CDATA[artistik]]></category>
		<category><![CDATA[asri]]></category>
		<category><![CDATA[berondong tante nakal]]></category>
		<category><![CDATA[besi]]></category>
		<category><![CDATA[cocok]]></category>
		<category><![CDATA[entah]]></category>
		<category><![CDATA[kartu nama]]></category>
		<category><![CDATA[kekar]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[kokoh]]></category>
		<category><![CDATA[lainnya]]></category>
		<category><![CDATA[laki laki]]></category>
		<category><![CDATA[pekarangan]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[rambut pendek]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[sama sama]]></category>
		<category><![CDATA[suamiku]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<category><![CDATA[tante girang]]></category>
		<category><![CDATA[tante kesepian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapanasdewasa.com/?p=400</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini diangkat berdasarkan kisah dan pengalaman yang sesungguhnya dengan nama pelaku serta tempat yang telah diubah. Apabila terdapat kesamaan nama maupun tempat peristiwa dalam tulisan ini, hal itu hanya merupakan suatu kebetulan belaka dan tidak ada hubungannya dengan siapa pun juga.
&#8220;Apa yang akan aku lakukan di sini?&#8221; pikirku ketika tiba di depan pintu gerbang [...]


<b>No related posts.</b>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini diangkat berdasarkan kisah dan pengalaman yang sesungguhnya dengan nama pelaku serta tempat yang telah diubah. Apabila terdapat kesamaan nama maupun tempat peristiwa dalam tulisan ini, hal itu hanya merupakan suatu kebetulan belaka dan tidak ada hubungannya dengan siapa pun juga.</p>
<p>&#8220;Apa yang akan aku lakukan di sini?&#8221; pikirku ketika tiba di depan pintu gerbang villa itu. Villa tersebut terletak di sebuah bukit terpencil di tengah kerimbunan hutan pinus. Untuk sampai di sana kita harus melalui sebuah jalan kecil yang merupakan jalan pribadi yang menghubungi villa tersebut dengan jalan utama. Di ujung jalan tersebut kita akan menjumpai sebuah pintu gerbang yang kokoh terbuat dari besi memagari sebuah bangunan artistik dikelilingi oleh taman yang asri. Begitu kami mendekati gerbang tersebut, tiba-tiba dua orang laki-laki berpotongan rambut pendek dengan tubuh kekar menghampiri kami. Suamiku segera menyodorkan sebuah kartu nama yang entah dari mana dia peroleh. Kemudian dengan wajah ramah mereka membukakan pintu dan mempersilakan kami masuk.</p>
<p>Di dalam pekarangan villa itu kulihat beberapa mobil telah terparkir di sana dan salah satunya adalah mobil Priyono sahabat suamiku. Keluarga kami dan keluarga Priyono memang bersahabat. Umur kami tidak jauh berbeda sehingga kami mempunyai persamaan dalam pergaulan.</p>
<p>Suamiku seorang pengusaha muda sukses, demikian juga Priyono. Baik suamiku maupun Priyono mereka sama-sama sibuknya. Mereka kelihatannya selalu dikejar waktu untuk meraih sukses yang lebih besar lagi bagi keuntungan bisnisnya. Sehingga boleh dikatakan hidup kami sangat berlebih sekali akan tetapi di lain sisi waktu untuk keluarga menjadi terbatas sekali. Hanya pada hari-hari weekend saja kami baru dapat berkumpul bersama. Dan itu pun apabila suamiku tidak ada urusan bisnisnya di luar kota.</p>
<p>Keadaan itu dialami juga oleh istri Priyono, Novie. Sehingga antara aku dan istri Priyono merasa cocok dan akrab satu sama lainnya. Kami juga selalu mengatur waktu senggang bersama untuk melakukan pertemuan-pertemuan rutin atau rekreasi bersama. Kebetulan istri Priyono, juga agak sebaya denganku. Bedanya dia baru berumur tiga puluh tahun sedangkan aku telah berumur tiga puluh lima tahun. Apalagi wajahnya masih tetap seperti anak-anak remaja dengan tahi lalat di atas bibirnya membuat penampilan istri Priyono kelihatan lebih muda lagi. Selain itu bentuk tubuhnya agak mungil dibandingkan denganku. Badannya semampai namun berbentuk sangat atletis. Maklumlah selain dia secara rutin mengikuti kegiatan latihan di salah satu fitness center, dia juga memang seorang atlet renang. Sehingga warna kulitnya agak kecoklatan-coklatan terkena sinar matahari.</p>
<p>Berbeda denganku yang berkulit agak putih dengan bentuk tubuh yang agak lebih gemuk sedikit sehingga buah dada dan pinggulku lebih kelihatan menonjol dibandingkan dengan istri Priyono. Menurut pandanganku penampilan istri Priyono manis sekali. Ada suatu daya tarik tersendiri yang dimilikinya setidak-tidaknya demikian juga menurut suamiku. Aku tahu hal itu karena suamiku sering membicarakannya dan malahan pernah bergurau kepadaku bagaimana rasanya sekiranya dia melakukan hubungan seks dengan istri Priyono.</p>
<p>Pertemuan kami dengan keluarga Priyono pada mulanya diisi dengan pergi makan malam bersama atau mengunjungi club rekreasi para eksekutif di setiap akhir pekan. Sekali-sekali kami bermain kartu atau pergi berdarmawisata. Akan tetapi ketika hal tersebut sudah mulai terasa rutin, pada suatu saat suamiku dan Priyono mengajak kami untuk ikut menjadi anggota CAPS.</p>
<p>&#8220;Apa artinya itu..?&#8221; kataku.<br />
&#8220;Artinya adalah Club Arisan Para Suami atau disingkat CAPS, kalau diucapkan dalam bahasa Inggris jadi kep&#8217;es, tuh gagah nggak namanya&#8221;, jawab Priyono.<br />
&#8220;Walah, baru tahu sekarang para suami juga kayak perempuan, pakai arisan segala&#8221;, kataku.<br />
&#8220;Ini arisan bukan sembarang arisan..&#8221;, kata Priyono membela diri.<br />
&#8220;Dahulu mau dinamakan The Golden Key Club, tapi gara-gara Eddy Tanzil maka namanya diganti jadi CAPS, Club Arisan Para Suami&#8221;, katanya lagi.<br />
&#8220;Ya sudah kalau begitu.., kalau arisan para suami kenapa istri perlu dibawa-bawa ikut jadi anggota?&#8221; debatku lagi.<br />
&#8220;Rupanya belum tahu dia..!&#8221; kata Prioyono dalam logat Madura seraya menunjukkan jempol ke arahku sambil melirik kepada suamiku. Suamiku juga jadi ikut tertawa mendengar logat Prioyono itu.</p>
<p>&#8220;Hei, rupanya pake rahasia-rahasiaan segala ya..!&#8221; kataku sambil memukul pundaknya.<br />
&#8220;Iya Mbak.., mereka berdua sekarang ini lagi selalu kasak-kusuk saja. Jangan-jangan memang punya rahasia yang terpendam&#8221;, tiba-tiba kata istri Priyono menimpaliku.<br />
&#8220;Eh, jangan marah dulu.. club arisan ini merupakan suatu club yang ekslusif. Tidak sembarangan orang boleh ikut! Hanya mereka yang merupakan kawan dekat saja yang boleh ikut dan itu juga harus memenuhi syarat!&#8221;<br />
&#8220;Syarat apa..?!&#8221;<br />
&#8220;Misalnya para anggota harus terdiri dari pasangan suami istri yang sah! Betul-betul sah.. saah.. saah!&#8221; katanya meniru gaya Marisa Haque diiklan TV.<br />
&#8220;Kalau belum beristri atau bukan istri yang sah, dilarang keras untuk ikut! Oleh karena itu untuk ikut arisan ini perlu dilakukan seleksi yang ketat sekali dan tidak main-main! Jadi nggak ada yang namanya itu rahasiaan-rahasiaan..!&#8221; kata Priyono lagi.</p>
<p>&#8220;Ah kayak mau jadi caleg saja.. pakai diseleksi segala! Nggak mau sekalian juga pakai Litsus, terus penataran! Arisan ya arisan saja..! Dimana-mana juga sama! Paling-paling Bapak-bapaknya ngumpul ngobrolin cewek-cewek dan Ibu-ibunya ngerumpi sambil comot makanan disana-sini.., akhirnya perutnya jadi gendut dan pulang-pulang jadi bertengkar di rumah karena dengar gosip ini itu!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Nah, disini masalahnya. Arisan kita itu bukan arisan gosip, tapi arisan yang sip!&#8221; kata Priyono.<br />
&#8220;Jadi arisan apa pun itu, apa sip, apa sup, apa saham, emas, berlian, Mercy atau BMW, ya akhirnya semua sama saja.., yang keluar duluan hanya gosip?&#8221; kataku ketus.<br />
&#8220;Bukan.., bukan seperti itu. Malahan sebaliknya.., arisan ini justru bertujuan buat mengharmoniskan kehidupan perkawinan antara suami istri!&#8221; jawab Priyono.<br />
&#8220;Lho, untuk itu kenapa mesti arisan..?&#8221; kataku lagi.<br />
&#8220;Boleh nggak diberi tahu Mas?&#8221; kata Priyono sambil melirik kepada suamiku. Suamiku tersenyum sambil mengangguk.</p>
<p>&#8220;Begini Mbak, terus terang saja, arisan kita itu bentuknya kegiatan tukar-menukar pasangan&#8221;, katanya.<br />
&#8220;Pasangan?! Pasangan apa..?&#8221; jawabku dengan sangat heran.<br />
&#8220;Ya itu, pasangan suami-istri&#8221;, tiba-tiba suamiku menyeletuk.<br />
&#8220;Mengapa harus ditukar-tukar sih? Dan apanya yang ditukar?&#8221; tanyaku karena aku jadi semakin tidak mengerti atas penjelasan suamiku itu.<br />
&#8220;Walah, penjelasannya panjang.., ini kan jaman emansipasi&#8221;, kata suamiku.<br />
&#8220;Memangnya apa hubungannya dengan jaman emansipasi!&#8221; aku menyela kata-kata suamiku.<br />
&#8220;Begini.., kegiatan club ini sebenarnya bertujuan untuk mengharmoniskan kehidupan suami istri dalam rumah tangga&#8221;, kata suamiku.<br />
&#8220;Jadi..&#8221;<br />
&#8220;Jadi.., jadi ya kau ikut saja dulu deh! Nanti baru tahu manfaatnya!&#8221; kata Priyono menyeletuk.<br />
&#8220;Nggak mau ah kalau hanya ikut-ikutan!&#8221;</p>
<p>&#8220;Begini Neng!&#8221; kata suamiku. &#8220;Singkatnya menurut pandangan para pakar seksualogi dalam kehidupan perkawinan seseorang pada saat-saat tertentu terdapat suatu periode rawan dimana dalam periode tersebut kehidupan perkawinan seseorang itu mengalami krisis. Krisis ini apabila tidak disadari akan menimbulkan bencana yang besar yaitu tidak adanya kegairahan lagi dalam kehidupan perkawinan. Apabila tidak ada kegairahan lagi antara suami-istri biasanya akan membawa akibat yang fatal&#8221;, kata suamiku lagi.<br />
&#8220;Misalnya bagaimana?&#8221;<br />
&#8220;Ya dalam kehidupan perkawinan itu secara tidak disadari timbul kejenuhan-kejenuhan. Kejenuhan yang paling utama dalam periode tersebut biasanya dalam masalah hubungan badan antara suami istri, pada periode tersebut hubungan seks antara suami-istri tidak lagi menyala-nyala sebagaimana pada masa setelah pengantin baru. Kedua belah pihak biasanya telah kehilangan kegairahan dalam hubungan mereka di tempat tidur yang disebabkan oleh berbagai faktor. Hubungan badan suami istri tersebut akhirnya terasa menjadi datar dan hanya merupakan suatu hal yang rutin saja. Untuk mengatasi hal itu bagi para pasangan suami istri perlu mendapatkan penggantian suasana, khususnya suasana dalam hubungan di tempat tidur&#8221;, kata suamiku.</p>
<p>&#8220;Ah itu kan hanya alasan yang dicari-cari saja.., bilang saja kalau sudah bosan dengan istri atau mau cari yang lain!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Nah, disinilah memang letak masalahnya.., yaitu &#8216;kebosanan&#8217;.., dan &#8216;wanita lain&#8217;. Hal itu sangat betul sekali.., karena &#8216;kebosanan&#8217; merupakan sifat manusia, sedangkan &#8216;keinginan kepada wanita lain&#8217; secara terus terang itu merupakan sifat naluri kaum laki-laki secara umum, disadari atau tidak disadari, diakui atau tidak diakui, mereka mempunyai naluri poligamis, yaitu berkeinginan untuk melakukan hubungan badan tidak dengan satu wanita saja. Akan tetapi sifat-sifat ini justru merupakan &#8217;sumber konflik utama&#8217; dari krisis kehidupan perkawinan seseorang! Nah!, hal inilah yang akan dicegah dalam kegiatan club itu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Jelasnya bagaimana?&#8221; kataku.<br />
&#8220;Apabila seorang suami menuruti naluri kelaki-lakiannya itu, maka dia cenderung akan melakukan penyelewengan dengan wanita lain secara sembunyi-sembunyi. Mengapa..? Karena dia tahu hal itu akan merupakan sumber konflik dalam rumah tangga yang sangat berbahaya. Pertama-tama karena dia tahu istri tidak menyetujuinya, oleh karena itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi, yang kedua hal itu membuat suatu keadaan yang tidak adil dalam kehidupan suami-istri. Kalau suaminya bisa merasakan orang lain, untuk mendapatkan kenikmatan seksual yang lain daripada istrinya, kenapa istrinya tidak..!&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah memang demikian problem dari sebuah perkawinan? Aku kira bukan hanya soal seks saja yang menjadi konflik dalam hubungan suami istri, namun juga tentunya ada unsur lainnya!&#8221; kataku berargumentasi.<br />
&#8220;Tidak salah pendapatmu! Memang benar dalam suatu perkawinan banyak unsur yang mempengaruhinya, akan tetapi dalam perkawinan hanya ada dua unsur saja yang paling dominan, ibarat kopi dengan susunya!&#8221; kata suamiku.</p>
<p>&#8220;Apa hubungan perkawian dengan kopi susu?&#8221; tanyaku agak heran.<br />
&#8220;Begini..&#8221; kata suamiku selanjutnya. &#8220;Dalam suatu perkawinan sebenarnya merupakan campuran antara dua unsur yang sangat berbeda, yaitu antara unsur &#8216;cinta&#8217; dan unsur &#8216;kenikmatan seks&#8217;. Kedua unsur ini saling melengkapi dalam hubungan perkawinan seseorang. Unsur cinta adalah merupakan faktor yang dominan yang merupakan faktor utama terjalinnya suatu ikatan batin antara dua insan yang berlainan jenis. Unsur cinta ditandai dengan adanya kerelaan pengabdian dan pengorbanan dari masing-masing pihak dengan penuh keihlasan dan tanpa mementingkan egoisme dalam diri pribadi. Sedangkan unsur kenikmatan seks adalah merupakan unsur penunjang yang dapat memperkokoh dan mewarnai unsur cinta tersebut. Unsur ini ditandai dengan manifestasi adanya keinginan melakukan hubungan hubungan tubuh dari dua insan yang berlainan jenis, adanya kobaran nafsu birahi serta adanya keinginan dari masing-masing pihak untuk mendominasi pasangannya secara egois. Adanya nafsu birahi ini dalam diri kita sebagai mahluk alam adalah wajar dan bukan sesuatu yang memalukan. Nah.., kedua unsur tadi apabila kita ibaratkan seperti minuman tidak bedanya sebagai &#8216;kopi&#8217; dengan &#8217;susunya&#8217;. Unsur cinta dapat diibaratkan sebagai kopi dan unsur kenikmatan seks dapat diibaratkan sebagai susunya. Kedua unsur yang saling berbeda ini dapat dinikmati dengan berbagai cara. Apakah ingin dicampur sehingga menjadi sesuatu yang baru yang lain rasanya daripada aslinya atau dinikmati secara sendiri-sendiri sesuai dengan rasa aslinya!&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi apa hubungannya dengan arisanmu sekarang?&#8221;<br />
&#8220;Nah, arisan ini bertujuan untuk membuat keadaan yang adil dan berimbang di antara suami dan istri. Kedua-duanya harus mempunyai hak yang sama dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan tuntutan dari wanita itu sendiri untuk beremansipasi. Dan hak itu tidak terkecuali walaupun dalam hubungan seks, para istri juga harus diberi kesempatan yang sama seperti para suami. Para istri juga harus dapat memilih kehendaknya, apakah sewaktu-waktu dia ingin minum &#8216;kopinya&#8217; saja, atau &#8217;susunya&#8217; saja, atau &#8216;kopi susunya&#8217;. Masalahnya sekarang, bagaimana mewujudkan hal itu. Kalau dilakukan oleh para suami atau para istri itu secara sendiri-sendiri, maka akan menjadi kacau dan malahan tujuannya mungkin tidak akan tercapai. Oleh karena itu perlu diusahakan secara terorganisir. Yang paling gampang ya, dalam bentuk kegiatan arisan seperti ini&#8221;, kata suamiku.</p>
<p>&#8220;Iya Mbak, siapa tahu akhirnya para istri juga akan dapat menikmatinya.., eh malahan jangan-jangan jadi lebih doyan!&#8221; kata Priyono menimpali komentar suamiku.<br />
&#8220;Ah, kau kayak bensin saja.., langsung nyamber!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Kalau begitu bukankah hal itu juga merupakan suatu penyelewengan dalam perkawinan?&#8221; tiba-tiba kata istri Priyono berkomentar.<br />
&#8220;Tentu saja bukan..! Karena apa definisi menyeleweng itu? Seseorang itu dikatakan menyeleweng apabila dia melakukan hal di luar pengetahuan pasangannya. Atau dengan kata lain dia melakukan itu secara sembunyi-sembunyi sehingga pasangannya tidak tahu dan tidak pernah menyetujuinya. Berlainan dengan kegiatan ini. Semuanya terbuka dan melalui persetujuan bersama antara kedua pasangan suami-istri itu&#8221;, jawab suamiku.</p>
<p>Pada akhirnya setelah menjalani debat yang panjang dalam forum resmi maupun tidak resmi, aku dan istri Priyono mengalah. Resolusi para suami itu kami terima dengan catatan kami ikut dalam kegiatan club ini semata-mata hanya untuk sekedar ingin tahu saja dan tidak ada tujuan lain yang lebih dari itu. Selain daripada itu kami mengalah untuk membuat hati para suami senang. Oleh karena itulah malam ini akhirnya aku berada di tempat ini.</p>
<p>Aku mengenakan gaun dari bahan satin yang agak tipis yang agak ketat melekat di tubuhku. Aku mengenakan gaun ini adalah juga atas anjuran suamiku. Suamiku berkata bahwa aku sangat menarik apabila mengenakan pakaian yang agak ketat dan terbuka. Aku kira pendapat suamiku benar, karena dengan memakai gaun ini aku lihat bentuk tubuhku jadi semakin nyata lekak-lekuknya. Apalagi dengan model potongan dada yang agak rendah membuat pangkal buah dadaku yang putih bersih kelihatan agak tersembul keluar membentuk dua buah bukit lembut yang indah.</p>
<p>Tidak berapa lama kami berdiri di depan pintu, seseorang membuka pintu dan langsung menyalami kami.<br />
&#8220;Selamat datang dan selamat malam&#8221;, katanya langsung sambil menyalami kami.<br />
&#8220;Perkenalkan saya Djodi, tuan rumah di sini, dan ini istriku.., panggil saja Siska!&#8221; katanya langsung memperkenalkan seorang wanita yang tiba-tiba muncul. Dandanannya agak menor untuk menutupi kerut wajahnya yang sudah dimakan usia. Tapi secara keseluruhan bentuk tubuhnya masih boleh jugalah. Buah dadanya subur walaupun perutnya kelihatan agak gendut. Kelihatannya dia itu seorang keturunan Cina. Selanjutnya kami dipersilakan masuk ke dalam ruangan tamu.</p>
<p>Suasana dalam ruangan itu kudapati biasa-biasa saja. Di sudut-sudut ruangan terdapat makanan kecil dan buah-buahan. Di sudut lainnya ada sebuah bar yang kelihatan lengkap sekali jenis minumannya. Sementara itu suara iringan musik terdengar samar-samar mengalun dengan lembut dari ruang tamu yang besar. Yang membedakannya adalah para tamunya. Kelihatannya tidak begitu banyak, kuhitung hanya ada belasan orang dan wanitanya semua berdandan secantik mungkin dengan pakaian yang lebih seksi daripada yang kukenakan. Demikian juga aku tidak melihat seorang pelayan pun atau petugas catering yang biasanya mengurusi konsumsi dalam pesta-pesta yang diadakan di rumah-rumah mewah seperti ini.</p>
<p>&#8220;Silakan.. help your self saja&#8221;, kata nyonya rumah kepada kami dalam bahasa Inggris logat Cina Singapore. &#8220;Memang sengaja para pembantu semuanya sudah disuruh ngungsi.., you know kan, agar privacy kita tidak terganggu!&#8221; katanya lagi dengan suara yang genit.</p>
<p>Kami segera berbaur dengan pasangan-pasangan lainnya yang sudah ada di sana. Priyono dan istrinya sedang mengobrol dikelilingi beberapa pasangan lainnya. Aku lihat istri Priyono benar-benar sangat menarik sekali malam itu dengan pakaiannya yang agak tembus pandang membuat mata kita mau tidak mau akan segera terjebak untuk memperhatikannya dengan seksama, apakah dia memakai pakaian dalam di balik itu. Sehingga dalam pakaian itu dia tidak saja kelihatan sangat cantik akan tetapi juga seksi. Melihat penampilan istri Priyono, suamiku jadi sangat antusias sekali. Dia terus memperhatikan istri Priyono tanpa mempedulikanku lagi. Sikap suamiku yang demikian menimbulkan juga rasa cemburu di hatiku. Jadi benar dugaanku, rupanya suamiku benar tertarik kepada istri Priyono. Pantas saja dia sering memujinya bahkan sering mengatakan kepadaku secara bergurau bagaimana rasanya kalau berhubungan kelamin dengan istri Priyono.</p>
<p>Tidak berapa lama kemudian tuan rumah beserta istrinya menghampiri kami. &#8220;Mari kita ambil minum dahulu&#8221;, katanya sambil langsung menuju bar. Salah seorang tamu kemudian bertindak sebagai bar tender. Dengan cekatan dia membuatkan minuman yang dipilih masing-masing orang dan kebanyakan mereka memilih minuman yang bercampur akohol. Kecuali aku dan istri Priyono. Aku memang tidak begitu tahan terhadap minuman beralkohol.</p>
<p>&#8220;Anda minum apa?&#8221; tanyanya kepadaku dan istri Priyono.<br />
&#8220;Coca cola saja..!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Pakai rum, bourbon atau scotch?&#8221; &#8220;Terima kasih.., coca cola saja..!&#8221;<br />
&#8220;Oo, di sini tidak boleh minum itu! Itu termasuk minuman kedua yang dilarang di sini..!&#8221; katanya dalam nada yang jenaka. &#8220;Minuman pertama yang dilarang adalah cola atau lainnya yang dicampur dengan Baygone! Yang kedua minuman yang anda pilih tadi, jadi mau tidak mau harus dicampur sedikit dengan rum atau lainnya. Saya kira &#8216;rum and cola&#8217; cocok untuk anda berdua!&#8221; katanya lagi sambil terus mencampur rum dan segelas cola serta menaruh es batu ke dalamnya.<br />
&#8220;Ini.., cobalah dahulu.., buatan bar tender terkenal!&#8221; katanya sambil menyodorkan gelas itu kepada kami.</p>
<p>Selesai membuat minuman dia segera bergabung dengan kami.<br />
&#8220;Anda cantik sekali dengan busana ini&#8221;, katanya seraya memegang pundakku yang terbuka.<br />
Aku agak menjauhinya seketika karena kukira dia mabuk. Tapi sesungguhnya hal itu disebabkan aku tidak terbiasa beramah-ramah dengan seorang pria asing yang belum kukenal benar.<br />
&#8220;Terima kasih&#8221;, kataku berusaha menjawabnya.<br />
&#8220;Dada anda bagus sekali&#8221;, katanya sambil menatap dalam-dalam ke arah belahan dada gaunku.<br />
Dia diam sejenak. Kemudian dia mulai memperhatikanku secara khusus. Kelihatannya dia sedang menilaiku. Aku dapat membacanya dari senyumnya yang tersembunyi. Apabila waktu yang lalu ada seorang laki-laki yang memandang diriku secara demikian maka suamiku mungkin akan segera mengirimkan bogem mentah kepadanya.</p>
<p>Aku pun kemudian mulai memperhatikan penampilannya. Aku berpikir apakah dia laki-laki yang akan meniduriku nanti? Tidak begitu jelek juga, pikirku. Tinggi badannya kira-kira 170 cm, dengan bahu yang bidang dan wajah yang ramah menarik. Aku berpikir rupanya dalam club ini untuk dapat tidur dengan seorang wanita tidak berbeda bagaikan akan membeli seekor sapi saja. Namun secara tidak disadari aku menyukai juga ucapannya itu terutama datangnya dari seorang pria yang tidak aku kenal dan di hadapan suamiku. Kuharap dia dengar kata-kata itu. Kata-kata itu ditujukan kepadaku, bukan kepada istri Priyono. Ya, pada saat itu aku merasa agak melambung juga walaupun hanya sedikit.</p>
<p>Aku segera menghabiskan minumanku. Aku memang selalu berbuat itu, akan tetapi rupanya dia mengartikannya lain bahwa aku ingin segera memulai sesuatu.<br />
&#8220;Jangan terburu-buru!&#8221; katanya.<br />
&#8220;Kita belum lagi tahu cottage mana yang akan anda tempati&#8221;, katanya sambil menambah minumanku. &#8220;Akan tetapi saya senang sekali apabila nanti kita dapat tempat yang sama dan segera ke sana.&#8221; bisiknya.<br />
Aku menjadi agak terselak seketika. Hal ini disebabkan bukan hanya aku kaget mendengar bisikannya itu, tetapi juga minumanku terasa sangat keras sehingga kepalaku langsung terasa mulai berat.<br />
&#8220;Saya benar-benar baru pertama kali mengikuti pertemuan ini&#8221;, tiba-tiba aku berkata secara spontan.<br />
&#8220;Ohh&#8221;, katanya agak kaget. Kemudian dia menatapku dengan pandangan yang menyesal.<br />
&#8220;Saya harap kata-kata saya tadi tidak menyinggung anda.&#8221; bisiknya dengan nada minta maaf.<br />
&#8220;Sungguh.. sungguh tidak&#8221;, kataku sambil memberikan senyuman.</p>
<p>Tidak berapa lama kemudian tuan rumah mengumumkan akan melakukan penarikan nomor arisan. Semula aku mengira tuan rumah akan menarik nama pasangan yang akan mendapat arisan bulan ini sebagaimana arisan-arisan biasa lainnya. Akan tetapi dugaanku meleset. Mula-mula tuan rumah meminta kami untuk berkelompok secara terpisah antara suami istri. Para suami membuat kelompok sendiri dan para istri juga membuat kelompok sendiri. Selanjutnya kami masing-masing diminta mengambil amplop kecil dalam dua buah bowl kristal yang berbeda yang diletakkan pada masing-masing kelompok. Satunya untuk para suami dan satunya lagi untuk para istrinya. Amplop kecil tersebut ternyata berisi sebuah kunci dengan gantungannya yang bertuliskan sebuah nomor.</p>
<p>Aku bertanya kepada wanita di sebelahku yang kelihatan sudah biasa dalam kegiatan ini.<br />
&#8220;Kunci ini adalah kunci cottage yang ada di sekitar villa ini..&#8221; katanya. &#8220;Jadi nanti kita cocokkan nomor yang ada di kunci itu dengan nomor bungalow atau kamar di sana.&#8221;<br />
&#8220;Terus..&#8221; kataku selanjutnya.<br />
&#8220;Terus..!?&#8221; katanya sambil memandang kepadaku dengan agak heran. &#8220;Terus..? Oh ya.., kita tunggu saja siapa yang dapat kunci dengan nomor yang sama!&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba hatiku menjadi kecut. Aku tidak dapat membayangkan apa yang akan dilakukan dalam cottage itu. Apalagi hanya berduaan dengan laki-laki yang bukan suami kita.<br />
&#8220;Jadi kita hanya dengan berdua dalam cottage itu?&#8221;<br />
&#8220;Ya, karena kuncinya sudah pas sepasang-sepasang!&#8221;<br />
&#8220;Jadi kita tidak tahu siapa yang dapat kunci dengan nomor yang sama dengan nomor kita?&#8221; kataku untuk menegaskan dugaanku.<br />
&#8220;Ya, memang sekarang ini sistemnya berbeda. Dahulu pada waktu club ini disebut The Golden Key Club memang kita bisa ketahui karena para pesertanya mula-mula berada dalam sebuah kamar masing-masing. Jadi kita tahu siapa di kamar nomor berapa. Kemudian baru para suami keluar dan saling tukar menukar kunci kamar mereka dimana para istrinya berada di dalamnya. Sekarang sistem itu telah dirubah. Karena dengan sistem itu ada anggota yang suka curang. Dia memilih pasangan yang diincarnya sehingga timbul komplain dari anggota yang lain. Sekarang masing-masing pasangan mengambil kunci kamar secara diundi dan disaksikan oleh semua anggota. Sehingga sekarang lebih fair karena anggota tidak dapat memilih pasangannya yang diincar terlebih dahulu. Kelemahannya dalam sistem ini ada kemungkinan pasangan suami-istri itu juga akan mendapatkan nomor yang sama. Kalau sudah begitu ya nasibnya lah.., kali ini dia tidak dapat apa-apa.&#8221;</p>
<p>Sekarang aku baru mengerti mengapa club ini dahulu dinamakan The Golden Key Club. Selesai kami mengambil kunci semua berkumpul kembali di ruang tamu. Tuan rumah meminta kami untuk mengambil gelas sampanye masing-masing kemudian kami bersulang. Aku mereguk sampanye itu sekaligus sehingga kepalaku kini terasa semakin berat.<br />
&#8220;Dapat nomor berapa?&#8221; kata suamiku yang tiba-tiba sudah berada di sampingku.<br />
&#8220;Nomor delapan..!&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Untung..! &#8221;<br />
&#8220;Kenapa untung?&#8221;<br />
&#8220;Ya untung tidak dapat nomor yang sama.., nomorku duabelas!&#8221; katanya.<br />
&#8220;Itu bukan untung tapi cilaka.., cilaka duabelas namanya!&#8221;<br />
&#8220;Ya tapinya untung juga..!&#8221; jawab suamiku.<br />
&#8220;Kenapa..?&#8221;<br />
&#8220;Untung bukan cilaka tigabelas!&#8221; jawabnya sambil tertawa.<br />
&#8220;Sudah percuma berdebat di sini..!&#8221; kataku. &#8220;Eh kalau Novie dapat nomor berapa ya?&#8221; kataku lagi.<br />
&#8220;Iya ya.., nomor berapa dia, tolong kau tanyakan dong!&#8221;</p>
<p>Rupanya aku tidak usah berpayah-payah mencari Novie karena tiba-tiba Priyono dan istrinya sudah berada di dekat kami.<br />
&#8220;Eh, kamu dapat nomor berapa?&#8221; aku berbisik kepada Novie. &#8220;Nomor duabelas Mbak..&#8221; jawabnya.<br />
Aku jadi terhenyak. Jadi maksud suamiku untuk meniduri istri Priyono kini tercapai. Aku segera memberi isyarat kepada suamiku bahwa nomornya sama dengan nomor dia. Suamiku kelihatan berseri-seri sekali ketika menerima isyaratku. Aku jadi agak cemburu lagi melihat tingkahnya. Dia bernyanyi-nyanyi kecil mengikuti irama musik yang mengalun di ruangan itu.</p>
<p>Tidak berapa lama kemudian lampu-lampu di seluruh ruangan itu mulai meredup. Ruangan itu kini menjadi agak gelap dan alunan musik berirama slow terdengar lebih keras lagi. Suasana dalam ruangan itu kini jadi lebih romantis. Aku lihat beberapa pasangan yang mulai berdansa tapi kebanyakan dari mereka menyelinap satu persatu, mungkin menuju cottage-nya masing-masing, tapi ada juga yang masih duduk-duduk mengobrol di sofa.</p>
<p>Tiba-tiba Priyono mengajakku untuk berdansa. Dan sudah barang tentu suamiku segera juga mengajak istri Priyono berdansa. Ketika kami berdansa Priyono mendekapku erat-erat. Begitu sangat eratnya sehingga seolah-olah kami dapat mendengar degub jantung di dada masing-masing.<br />
&#8220;Kamu dapat nomor berapa?&#8221; tiba-tiba Priyono berbisik di telingaku.<br />
&#8220;Nomor delapan!&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Ah, sayang..&#8221;<br />
&#8220;Mengapa?&#8221; kataku lagi.<br />
&#8220;Aku nomor enam!&#8221; katanya lagi.<br />
&#8220;Siapa itu..?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Aku dengar sih Nyonya Siska, istrinya tuan rumah!&#8221;<br />
&#8220;Wah, enak dong.., orangnya sintal, mungkin tiga hari nggak habis dimakan!&#8221; kataku berseloroh.<br />
&#8220;Jangan ngeledek ya..!&#8221; katanya.<br />
&#8220;Memangnya kenapa..? Kan betul orangnya sintal!&#8221;<br />
&#8220;Potongan seperti itu bukan typeku!&#8221; katanya.<br />
&#8220;Typemu seperti apa sih?&#8221; kataku.<br />
&#8220;Seperti kamu..!&#8221; katanya lagi sambil terus mendusal-dusal leherku.</p>
<p>Aku jadi agak bergelinjang juga leherku diciumi Priyono sedemikian rupa. Selama kami bergaul belum pernah dia melakukan hal yang tidak senonoh denganku. Dia sangat sopan terhadapku. Tapi malam ini tiba-tiba saja dia berbuat itu. Apakah karena pengaruh alkohol yang dia minum tadi atau memang selama ini dia juga mempunyai perasaan yang terpendam terhadap diriku. Perasaanku kini jadi melambung kembali. Ditambah dengan pengaruh alkohol yang aku minum tadi, aku merasakan adanya gairah birahi yang timbul dalam diriku ketika berdekapan Priyono sehingga aku pasrah saja leherku didusal-dusalnya.</p>
<p>&#8220;Eh, kau ngerayu, atau mabok..? Kenapa dari dulu-dulu nggak bilang!&#8221; kataku sambil terus mendekapkan tubuhku lebih erat lagi sehingga buah dadaku terasa menyatu dengan dadanya.<br />
&#8220;Malu sama suamimu!&#8221;<br />
&#8220;Kenapa malu.., dia sendiri juga sering cerita bahwa dia suka sama istri kamu, eh sekarang dia dapat nomor kamar istrimu lagi!&#8221; kataku lagi.<br />
&#8220;Oh ya..?&#8221; kata Priyono. &#8220;Kalau aku dulu bilang.., kau terus mau apa?&#8221;<br />
&#8220;Tentunya kita nggak usah payah-payah ikut arisan di sini.. di rumah saja!&#8221;<br />
&#8220;Ah, kau..!&#8221; katanya sambil terus menempelkan pipinya ke pipiku. Selanjutnya begitu irama musik hampir selesai, tiba-tiba Priyono meraih wajahku dan langsung mengecup bibirku dengan lembut.</p>
<p>Ketika kami kembali ke tempat semula kudapati suamiku dan istri Priyono sudah tidak ada di sana. Aku pikir mereka sudah tidak sabar lagi dan masuk ke cottagenya ketika kami sedang berdansa tadi. Baru saja kami duduk tiba-tiba sepasang suami istri datang menghampiri kami dan mengulurkan tangannya.<br />
&#8220;Saya Alex.., dan ini istri saya Mira&#8221;, katanya memperkenalkan diri.<br />
Priyono dan aku menyebutkan nama kami masing-masing. Selanjutnya kami berbasa-basi berbincang-bincang sejenak.<br />
&#8220;Anda dapat nomor berapa?&#8221; dia bertanya kepada Priyono.<br />
&#8220;Enam!&#8221; jawab Priyono singkat.<br />
&#8220;Saya nomor delapan dan istri saya nomor enambelas&#8221; katanya.<br />
Aku jadi tersentak seketika, demikian juga Priyono.<br />
&#8220;Itu adalah nomorku&#8221;, kataku. &#8220;Oh ya!&#8221; kata Alex agak kaget. &#8220;Saya kira anda berdua sudah bernomor sama.., tapi anda kan bukan pasangan suami istri?&#8221; katanya lagi.<br />
&#8220;Ya..!&#8221; kataku hampir serempak.</p>
<p>Kemudian dia berpaling kepada Priyono dan mengamit lengannya menjauhi kami.<br />
&#8220;Bolehkah kita bernegosiasi..&#8221; bisiknya kepada Priyono.<br />
&#8220;Saya lihat anda senang sekali dengan nomor delapan. Sebenarnya saya juga senang dengan penampilannya, akan tetapi saya sudah mempunyai janji dengan nomor enam. Bagaimana kalau kita bertukar nomor? Anda mengambil nomor delapan dan saya nomor enam. Sedangkan istri saya memang sudah sesuai dengan nomor enambelas yang juga kebetulan tuan rumah kita. Memang hal ini tidak diperbolehkan apabila ada anggota lainnya yang tahu. Tapi saya harap hal ini hanya di antara kita saja.&#8221;<br />
Bagaikan mendapatkan durian runtuh, Priyono segera saja mengiyakan. Kemudian kulihat mereka bertukar nomor kunci.<br />
&#8220;Oh, dear!&#8221; kata Alex. &#8220;Kali ini saya tidak akan menginterupsi kalian. Lain kali saya harap saya dapat nomor anda lagi!&#8221; Kemudian dia melingkarkan tangannya ke tubuhku dan memberikan sebuah kecupan kecil di bibirku. Selanjutnya tidak ayal lagi Priyono segera memegang tanganku dan menuntunku menuju cottage nomor delapan.</p>
<p>Ketika kami memasuki pintu cottage itu aku berpikir di sinilah kemungkinan awalnya perubahan hidupku. Seumur hidupku aku belum pernah melakukan hubungan badan dengan laki-laki lain kecuali dengan suamiku sendiri, akan tetapi hal itu akan berubah dalam waktu beberapa menit ini. Aku akan menjadi seorang istri yang serong dan semuanya ini disebabkan oleh ulah suamiku sendiri. Apakah ada orang yang akan percaya mengenai hal itu? Secara jujur begitulah keadaanku dan itulah apa yang kupikirkan waktu itu. Aku tahu dengan ini aku memberikan suamiku semacam kepuasan seks lain sebagaimana yang dia inginkan.</p>
<p>Begitu memasuki cottage itu Priyono langsung merangkulku dan mulai menghujani wajahku dengan kecupan-kecupan kecil. Dia kelihatan begitu sangat bernafsu sekali terhadap diriku. Aku benar-benar tidak menyangka Priyono dapat bersikap seperti itu. Selama ini kukenal dia wajar-wajar saja apabila bertemu denganku. Apakah pada acara-acara rutin kami atau kesempatan lainnya. Kupikir apakah hal itu akibat pengaruh alkohol yang diminumnya tadi atau mungkin juga memang sejak dahulu dia sudah mempunyai minat yang besar terhadap diriku namun dia terlalu sopan untuk mengungkapkannya dalam kesempatan yang biasa.</p>
<p>Tidak berapa lama kemudian tangannya segera menyusup ke balik busanaku yang memang berpotongan rendah dan menjalar menelusuri punggungku. Tiba-tiba kusadari betapa nikmatnya itu semua. Aku merasakan suatu hal yang luar biasa yang belum pernah kualami sebelumnya, aku merasa bagaikan kembali pada saat-saat dimana aku mengalami ciuman yang pertama dari seorang laki-laki. Hanya kini rasa sensasi yang muncul dalam diriku aku rasakan tidak asing lagi. Aku ingin segera ditiduri.</p>
<p>Ketika bibirnya menempel di bibirku aku pun langsung melumatnya dengan kuat. Selanjutnya dia merenggangkan mulutku dan mendorongkan lidahnya di antara gigiku mencari-cari lidahku yang segera kujulurkan untuk menyambutnya. Sungguh merupakan suatu ciuman yang panjang dan lama sekali. Selanjutnya dengan segera tangannya mulai meraba daerah sekitar buah dadaku. Aku mempunyai suatu kelemahan mengenai buah dadaku, aku maksudkan buah dadaku sangat sensitif sekali. Begitu buah dadaku tersentuh maka praktis akan membuatku terus bergelinjang. Oleh sebab itu ketika tangannya menyentuh langsung puting susuku maka aku menjadi bergelinjang dan meliuk-liuk dengan liarnya. Jari-jariku menghujam di punggungnya menahan suatu perasaan yang sangat dahsyat.</p>
<p>Pada saat tubuh kami terlepas satu sama lainya, nafas kami pun memburu dengan hebat. Dia mulai meneliti busanaku mencari kancing atau pun reitsleting untuk segera melepaskan busana itu dari tubuhku. Akan tetapi busanaku memang hanya mempergunakan karet elastis saja, maka dengan mudah aku segera melepaskan busana itu melalui kepala. Aku tidak mengenakan apa-apa lagi di balik busanaku itu kecuali dua carik pakaian dalam model bikini yang tipis dengan warna yang senada dengan kulitku.</p>
<p>&#8220;Saya senang dengan puting susu yang besar&#8221;, katanya sambil menyentuh puting susuku dengan lembut. &#8220;Karena cukup untuk menyusui anaknya dan sekaligus bapaknya.&#8221; Aku tidak menjawab. Kupikir dalam kesempatan seperti ini dia masih saja bisa berkelakar. Akan tetapi sebenarnya saat itu aku juga ingin berkata kepadanya bahwa aku juga ingin segera menyaksikan bagaimana bentuk tubuh aslinya di balik kemeja dan pantalonnya itu. Namun aku merasa masih sangat malu untuk berkata secara terus terang. Rupanya dia dapat membaca apa yang ada dalam pikiranku. Sehingga selanjutnya kudapati dia mulai membuka kancing kemejanya dan melepaskan kemeja itu dari tubuhnya.</p>
<p>Aku masih teringat bagaimana bentuk dadanya itu dan bagaimana ketika dia memperlakukan diriku. Dadanya kecoklat-coklatan hampir berwarna sawo matang penuh ditumbuhi dengan bulu dada keriting berwarna hitam di tengahnya. Otot-ototnya pun semua kelihatannya sangat kokoh dan seimbang. Ingin rasanya aku menyentuhkan wajah serta puting susuku ke dadanya, dan tidak berapa lama kemudian secara tidak kusadari aku telah melakukan hal itu. Aku mengecup dadanya kemudian puting susunya. Betapa aku menggali kenikmatan dari itu semua.</p>
<p>Ketika aku merapatkan tubuhku ke tubuhnya, aku dapat merasakan gumpalan alat kejantanannya di balik pantalonnya yang sudah menjadi besar dan keras sekali. Dia menggesek-gesekkan alat kejantanannya tersebut ke tubuhku yang hanya mengenakan BH serta celana dalam nylon yang tipis. Sementara itu tangannya telah menyusup ke balik celana dalamku menelusuri daerah sekitar pantatku dan meremas-remasnya dengan kuat daging pantatku yang lembut dan berisi. Selanjutnya dengan serta merta dia melucuti celana dalamku ke bawah kakiku, sementara aku pun merasa semakin bergelinjang dengan hebatnya. Segera saja kulemparkan celana dalam itu dengan kakiku jauh-jauh dari tubuhku. Dia pun kini melepaskan BH-ku sehingga kini tubuhku benar-benar berada dalam keadaan bertelanjang bulat berdiri di hadapannya.</p>
<p>Kemudian Priyono agak menjauh beberapa saat untuk menurunkan reitsleting calananya. Begitu reitsleting diturunkan dalam sekejap pantalonnya pun juga ikut tergusur ke bawah. Dan sudah barang tentu pemandangan selanjutnya yang kusaksikan adalah sebuah alat kejantanan yang sangat besar dan gempal sedang berdiri dengan tegaknya menentang diriku.</p>
<p>Aku tidak melihat banyak perbedaan dengan bentuk alat kejantanan suamiku, akan tetapi yang mengesankan adalah alat kejantanan yang kulihat sekarang adalah milik seorang laki-laki lain walaupun dia sahabat suamiku. Seumur hidupku aku belum pernah menyaksikan alat kejantanan seorang laki-laki dewasa yang begitu dekat jaraknya dengan tubuhku kecuali alat kejantanan suamiku sendiri, apalagi aku sendiri dalam keadaan bertelanjang bulat, dan tidak berapa lama lagi dia akan menyetubuhi diriku dengan alat tersebut. Sehingga secara tidak sadar kurasakan timbul suatu keinginan dalam diriku untuk segera memegang bahkan menghisap alat kejantanan itu, akan tetapi sekali lagi aku masih tidak mempunyai keberanian melakukan hal itu.</p>
<p>Selanjutnya Priyono meraih dan membopong tubuhku yang telah bertelanjang bulat itu ke atas tempat tidur. Aku segera telentang di sana dengan segala kepolosan tubuhku menanti kelanjutan dari dari kesemuanya itu dengan pasrah. Akan tetapi rupanya Priyono belum mau memasukkan alat kejantanannya ke liang kewanitaanku. Dia masih tetap saja berdiri menikmati pemandangan keindahan tubuhku dengan pandangan yang penuh dengan kekaguman.</p>
<p>Tatapan mata Priyono ke seluruh tubuhku yang bugil di lain keadaan juga menumbuhkan semacam perasaan erotis dalam diriku. Aku merasakan adanya suatu kenikmatan tersendiri bertelanjang bulat di hadapan seorang laki-laki asing yang bukan suamiku sendiri dan memperlihatkan seluruh keindahan lekuk tubuhku yang selama ini hanya disaksikan oleh suamiku saja. Sehingga secara tidak sadar kubiarkan tubuhku dinikmati mata Priyono dengan sepuas-puasnya. Malahan ketika tatapan mata Priyono menyapu bagian bawah tubuhku secara reflek aku renggangkan keduabelah pahanya agak lebar seakan-akan ingin memberikan kesempatan yang lebih luas lagi kepada mata Priyono untuk dapat menyaksikan bagian dari tubuhku yang paling sangat rahasia bagi seorang wanita.</p>
<p>Puas menikmati keindahan tubuhku kini tangan Priyono mulai sibuk di seluruh tubuhku. Tangannya mulai meraba dan meremas seluruh bagian tubuhku yang sensitive. Mulai dari buah dadaku yang subur berisi sampai pada liang senggamaku yang ditumbuhi oleh bulu-bulu halus yang sangat lebat. Aku menjadi tambah bergelinjang dan tubuhku terasa bergetar dengan hebat. Secara tidak sadar aku mulai menggoyang-goyangkan pinggulku dengan hebat. Liang senggamaku tambah berdenyut dengan hebat dan terasa licin dengan cairan yang keluar dari dalamnya. Aku heran bagaimana seorang laki-laki yang bukan suamiku dapat membuat diriku menjadi sedemikian rupa. Tidak pernah kubayangkan sebelumnya bahwa aku dapat merasakan gelinjang birahi yang sedemikian hebat dari laki-laki lain yang bukan suamiku.</p>
<p>Tidak berapa lama kemudian dia berlutut di depanku dan merenggangkan kedua belah pahaku lebih lebar lagi. Selanjutnya dia merangkak di antara kedua belah pahaku dan menatap langsung ke arah alat kewanitaanku. Lalu dia membungkukkan tubuhnya agak rendah dan mulai menciumi pahaku yang lama kelamaan semakin dekat ke arah liang kenikmatanku. Kembali aku merasakan suatu sensasi yang hebat melanda diriku. Aku benar-benar merasa semakin bertambah liar.</p>
<p>Aku berteriak liar dengan suara yang sukar dipercaya bahwa itu keluar dari mulutku. Bagaikan serigala yang ganas Priyono segera melumat habis-habisan alat kewanitaanku. Mula-mula dia menjulurkan lidahnya dan mulai menyapu klitorisku dengan sangat halus sekali namun cukup untuk membuatku menjadi lupa daratan. Pinggulku secara otomatis mulai bergerak turun naik bagaikan dikendalikan oleh sebuah mesin dalam tubuhku.</p>
<p>Priyono kemudian menurunkan lidahnya lebih ke bawah lagi dan membuat putaran kecil di sekitar liang senggamaku dan akhirnya dia sorongkan lidahnya dengan mahir ke dalamnya. Aku merasakan darahku menggelegak. Lidahnya terus keluar masuk berputar-putar menari-nari. Betapa tingginya seni permainan lidahnya itu tidak dapat kulukiskan dengan kata-kata. Lebih jauh dari itu aku tidak tahan lagi dan aku langsung mencapai puncak orgasme yang hebat.</p>
<p>&#8220;Sudah.. sudahlah&#8221;, akhirnya aku berkata. Priyono tetap meneruskan melahap liang senggamaku. Sementara itu aku terus-menerus mengalami orgasme bertubi-tubi namun pada akhirnya dia berhenti juga. Dan pada saat dia mengambil posisi untuk menyetubuhi diriku, aku segera bangkit dan kini tanpa merasa risih lagi aku segera meraih alat kejantanannya yang hangat berwarna kemerah-merahan lalu memasukkannya ke dalam mulutku dan mulai bekerja dengan lidahku di sepanjang alat kejantanannya yang begitu terasa keras dan tegang. Aku merasakan suatu kenikmatan yang lain yang belum pernah aku rasakan. Aku merasakan alat kejantanan Priyono mempunyai aroma yang berlainan dengan alat kejantanan suamiku.</p>
<p>Kini aku baru sadar alat kejantanan dari setiap laki-laki juga mempunyai perbedaan rasa yang khas yang tidak sama antara satu lelaki dengan lelaki lainnya. Bukan saja dari bentuk dan ukurannya akan tetapi juga dari aroma yang dipancarkan oleh masing-masing alat kejantanan itu. Selain itu aku merasakan alat kejantanan laki-laki lain ternyata terasa lebih nikmat daripada alat kejantanan suamiku sendiri. Mungkin hal itu karena aku mendapatkan sesuatu yang lain dari apa yang selama ini kurasakan. Jadi walaupun serupa tetapi tidak sama rasanya.</p>
<p>&#8220;Sekarang giliranku untuk meminta berhenti&#8221;, katanya dengan tenang. Sebenarnya aku enggan melepaskan alat kejantanan yang menggiurkan itu dari mulutku. Aku ingin merasakan betapa alat kejantanannya itu memancarkan sperma dalam mulutku, akan tetapi kupikir tidak akan senikmat sebagaimana bila alat kejantanannya itu meledak dalam rahimku dalam suatu persetubuhan yang sempurna, sehingga kuturuti permintaannya dan membaringkan tubuhku dengan kedua belah kakiku ke atas. Selanjutnya aku menyaksikan sebuah dada yang bidang menutupi tubuhku dan tidak lama kemudian kurasakan alat kejantanannya itu mulai terbenam ke dalam liang senggamaku yang hangat dan basah. Aku jadi agak mengerang kecil ketika alat kejantanan yang besar dan gempal itu memasuki tubuhku.</p>
<p>&#8220;Oh, sayang.., sayang&#8221;, kata Priyono bergumam.<br />
&#8220;Teruskan.., teruskan! Rasanya dahsyat sekali..!&#8221; kataku secara spontan sambil mengencangkan otot liang senggamaku sehinga alat kejantanan Priyono itu terjepit dengan kuat. Kemudian dengan suatu kekuatan bagaikan sebuah pompa hydroulis, liang kewanitaanku menghisap dalam-dalam alat kejantanan itu sehingga terasa menyentuh leher rahimku.</p>
<p>Secara perlahan-lahan dia mulai menggerakkan tubuhnya di atas tubuhku. Untuk beberapa saat aku telentang tanpa bergerak sama sekali menikmati diriku disetubuhi oleh seorang laki-laki yang bukan suamiku. Sungguh sulit dipercaya, aku merasa hal ini sebagai suatu mimpi. Seorang laki-laki lain yang bukan suamiku kini sedang memasukkan alat kejantanannya ke dalam tubuhku dan aku pun sedang menggali semua kenikmatan darinya.</p>
<p>Selanjutnya aku mulai menggoyang-goyangkan pinggulku dalam suatu putaran yang teratur mengikuti gerakan turun naik tubuhnya. Dengan garang Priyono terus-menerus menikamkan alat kejantanannya sedalam-dalamnya ke liang senggamaku secara bertubi-tubi. Alat kejantanannya dengan teratur keluar masuk dan naik turun di liang senggamaku yang membuka serta meremas dengan erat alat kejantanan itu. Aku merasakan persetubuhan yang sedang kami lakukan ini betul-betul sangat hebat. Dan kesemuanya ini disebabkan oleh alat kejantanan seorang laki-laki lain yang bukan suamiku.</p>
<p>Selanjutnya Priyono mulai menghujamkan tubuhnya ke tubuhku semakin kuat dan semakin kencang. Kami jadi bergumulan dengan hebat di atas tempat tidur saling cabik mencabik tubuh masing-masing. Tubuh kami bersatu dan merenggang dengan hebat. Setiap hunjamannya membawaku ke suatu alam fantasi yang jauh entah dimana yang tidak pernah kuketahui dan belum pernah kualami sebelumnya. Yang aku tahu pada saat itu hanyalah suara desahan kenikmatan yang keluar dari mulut kami masing-masing.</p>
<p>Tiba-tiba puncak dari itu semua, kurasakan alat kejantanannya yang berada dalam liang senggamaku menjadi sedemikian membesar dan tegang dengan keras. Liang senggamaku pun terasa berdenyut lebih keras lagi dan akhirnya aku merasakan suatu cairan yang hangat dan kental terpancar dari alat kejantanannya membanjiri liang senggamaku. Nafas Priyono dengan kuat menyapu wajahku. Saat yang mendebarkan itu berlangsung lama sekali. Sangat sukar aku lukiskan betapa kenikmatan yang kualami dari kesemuanya itu. Akhirnya kami terbaring dengan segala kelelahan namun dalam suatu alam kenikmatan lain yang belum pernah aku alami bersama suamiku. Yang terang ketika Priyono menarik alat kejantanannya dari liang senggamaku, aku merasakan ada sesuatu yang hilang dari dalam tubuhku.</p>
<p>Sisa malam itu tidak kami sia-siakan begitu saja. Kami menghabiskan sisa malam itu dengan melakukan hubungan intim beberapa kali lagi bagaikan sepasang suami-istri yang sedang berbulan madu dalam suatu hubungan persetubuhan yang sangat dahsyat dan belum pernah kualami bersama suamiku selama ini. Kami terus berasyik-masyuk sampai saat-saat terakhir kami kembali ke rumah masing-masing ketika hari sudah menjelang subuh.</p>
<p>Keesokan harinya ketika aku terbangun, aku merasa bagaikan seorang wanita yang baru dilahirkan kembali. Demikian pula suamiku. Aku merasakan adanya suatu kesegaran dan kecerahan lain dari yang lain dan penuh dengan semangat kegairahan hidup. Hal ini membawa pengaruh kepada hari-hariku selanjutnya. Aku merasa mendapatkan suatu horizon baru dalam kehidupan. Demikian juga suamiku, kurasakan cinta kasih kami semakin bertambah dari waktu-waktu sebelumnya. Kehidupan rumah tangga kami serasa lebih harmonis penuh dengan keceriaan dan kegembiraan daripada waktu-waktu yang lalu. Dengan demikian tidak mengherankan kiranya apabila aku dan suamiku terus menghadiri arisan itu beberapa kali dan selama itu pula aku telah dapat merasakan berbagai macam type alat kejantanan laki-laki dalam berbagai macam bentuk dan ukuran serta berbagai macam tehnik permainan hubungan kelamin dengan para suami orang lain. Akan tetapi yang penting dari kesemuanya itu, di lain keadaan, aku menyadari suatu hal yang selama ini tidak pernah terpikirkan maupun kubayangkan sebelumnya, bahwa alat kejantanan suami kita sendiri sesungguhnya juga mempunyai suatu keistimewaan tersendiri. Aku dapat mengetahuinya kesemuanya itu karena aku telah dapat membandingkannya dengan alat kejantanan dari suami-suami orang lain.</p>
<p>TAMAT</p>
<h4>Cerita Panas Terbaru:</h4>,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/daun-muda/arisan-berondong-tante-girang-nakal.html" title="arisan berondong">arisan berondong</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.269 ms -->

<p><b>No related posts.</b></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/daun-muda/arisan-berondong-tante-girang-nakal.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istriku Dientot Benny di Villa Puncak daerah Cipanas II</title>
		<link>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-tukar-pasangan/istriku-dientot-benny-di-villa-puncak-daerah-cipanas-ii.html</link>
		<comments>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-tukar-pasangan/istriku-dientot-benny-di-villa-puncak-daerah-cipanas-ii.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 15:43:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita 17 tahun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tukar Pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[ada]]></category>
		<category><![CDATA[adik]]></category>
		<category><![CDATA[akan]]></category>
		<category><![CDATA[aneh]]></category>
		<category><![CDATA[apa]]></category>
		<category><![CDATA[batang kemaluan]]></category>
		<category><![CDATA[brondong]]></category>
		<category><![CDATA[cemburu]]></category>
		<category><![CDATA[cerita panas dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[cerita swinger]]></category>
		<category><![CDATA[cerita swinger indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[cerita swinger melayu]]></category>
		<category><![CDATA[cerita tukar pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[dominan]]></category>
		<category><![CDATA[janus]]></category>
		<category><![CDATA[jelas]]></category>
		<category><![CDATA[juga]]></category>
		<category><![CDATA[kaget]]></category>
		<category><![CDATA[kepuasan]]></category>
		<category><![CDATA[lalu]]></category>
		<category><![CDATA[luar biasa]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[nikmatnya]]></category>
		<category><![CDATA[sama]]></category>
		<category><![CDATA[telanjur]]></category>
		<category><![CDATA[tukar pasangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapanasdewasa.com/?p=397</guid>
		<description><![CDATA[AKU mencintai Mas Janus dengan sepenuh hati. Tapi mengapa semuanya ini harus terjadi? Bisakah aku disalahkan, sedangkan semua yang telah kualami adalah “hasil karya” suamiku sendiri?
Aku harus jujur mengakuinya bahwa aku telah menikmati semuanya, meski dengan perasaan bersalah. Tadinya kuanggap semuanya itu gila. Tapi ternyata ada greget yang luar biasa, yang menimbulkan nikmat dan sensasi [...]


<b>Cerita Seks Berhubungan:</b><ol><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-tukar-pasangan/istriku-dientot-benny-di-villa-puncak-daerah-cipanas-i.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istriku Dientot Benny di Villa Puncak daerah Cipanas I'>Istriku Dientot Benny di Villa Puncak daerah Cipanas I</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>AKU mencintai Mas Janus dengan sepenuh hati. Tapi mengapa semuanya ini harus terjadi? Bisakah aku disalahkan, sedangkan semua yang telah kualami adalah “hasil karya” suamiku sendiri?<br />
Aku harus jujur mengakuinya bahwa aku telah menikmati semuanya, meski dengan perasaan bersalah. Tadinya kuanggap semuanya itu gila. Tapi ternyata ada greget yang luar biasa, yang menimbulkan nikmat dan sensasi luar biasa.<br />
Aku masih ingat benar waktu terjadinya petualangan di villa Benny itu, aku kaget sekali setelah menyadari bahwa yang sedang menyetubuhiku adalah Benny, bukan suamiku. Aku juga kaget ketika melihat suamiku sedang menyetubuhi Yayuk. Oh my God! Apa yang sedang terjadi ini? Tapi lalu kusadari bahwa semuanya itu direncanakan oleh mereka, oleh Benny dan suamiku. Sedangkan batang kemaluan Benny sudah telanjur berada di dalam liang kemaluanku, aku sudah telanjur merasakan nikmatnya entotan Benny yang memang lebih panjang dan lebih besar daripada punya suamiku. Akhirnya aku memejamkan mata dan mulai menikmatinya dengan perasaan melayang-layang.<br />
Tetapi kreativitas sex Mas Janus tak berhenti sebatas itu saja. Pada suatu hari dia mengungkapkan rencana baru, yaitu niatnya untuk menjebak orang lain untuk menggauliku dan ia sendiri akan mengintipnya. Menurutnya hal itu akan membangkitkan nafsunya yang luar biasa. Lalu kuusulkan orang lain itu Troy, adik Mas Janus sendiri. Ternyata usulku disetujui, meski dengan sedikit sindiran bahwa aku seneng brondong.<br />
Rencana itu jelas mendebarkan. Meski buat orang lain mungkin merupakan hal yang aneh dan tak masuk di akal. Tapi aku sendiri merasakan hal yang sama, ketika melihat suamiku sedang menyetubuhi Yayuk, perasaanku dibakar cemburu, tapi lalu kulampiaskan kecemburuanku dengan meladeni Benny seedan mungkin. Dan rasanya luar biasa. Belum pernah kurasakan hubungan sex senikmat itu.<br />
Lalu terjadilah sesuatu yang merupakan wujud dari rencana suamiku sendiri. Bahwa Troy masuk ke dalam perangkapku.<br />
Apakah Troy lebih dominan memberikan kepuasan padaku? Tentu saja. Dia Masih bujangan. Zakarnya terasa keras sekali waktu membenam ke dalam liang kemaluanku. Dan gesekan-gesekannya terasa begitu mantap…lebih mantap daripada suamiku.<br />
Tapi apakah dengan peristiwa-peristiwa edan itu cintaku pada Mas Janus mulai pudar? Tidak! Aku malah semakin mencintainya, karena dia telah menciptakan sesuatu yang membuat kepuasan luar biasa padaku.<br />
Malam itu Troy sampai tiga kali ejakulasi, karena baru sebentar istirahat dari ejakulasi pertama, zakarnya kembali menegang. Dan persetubuhan yang ketiga kalinya adalah hasil rangsanganku, membuat dia bersemangat menyetubuhiku untuk ketiga kalinya.<br />
Aku tahu bahwa semua yang kulakukan dengan Troy disorot oleh kamera cctv dan dimonitor oleh suamiku. Dan semuanya itu memang kehendak suamiku sendiri. Tapi setelah Troy keluar dari kamarku, setelah aku selesai membersihkan vegyku di kamar mandi, Mas Janus tak muncul juga. Lebih dari sejam aku menunggu, dia tak muncul-muncul. Apakah dia ketiduran di kamar monitoring itu?<br />
Aku jadi serba salah. Mau mengetuk pintu gudang, takut dia lagi asyik melakukan sesuatu. Yah, akhirnya aku rebahan dengan tubuh lemas, karena tenagaku seperti dikuras waktu meladeni Troy tadi.<br />
Menjelang subuh, ketika aku sudah tidur nyenyak, terdengar pintu kamar dibuka, suamiku masuk.<br />
Karena masih terkuasai alam tidur, aku bertanya lemah, “Kok baru masuk? Tadi ngapain aja?”<br />
Suamiku mencium pipiku sambil berbisik, “Jangan marah ya…tadi aku ke rumah Benny.”<br />
“Terus?” tanyaku sambil menggesek mataku.<br />
“Janji dulu, kamu gak marah ya.”<br />
“Iya janji. Ngapain ke rumah Benny?”<br />
“Mmm…Yayuk ngajak…karena Benny lagi ke Medan…”<br />
“Pantesan…” cetusku sambil mencubit lengan suamiku, “Asyik dong…”<br />
Suamiku cuma nyengir, lalu katanya, “Kamu juga kan asyik sama si Troy tadi…”<br />
“Jadi Mas gak nonton aku sama Troy tadi?”<br />
“Nonton sebentar, terus pergi diam-diam. Tapi semuanya kan direkam. Nanti bisa kutonton rekamannya.”<br />
“Ih…nanti kalau Benny juga ngajak aku diam-diam gimana?”<br />
“Mau balas dendam? Hahaha…gakpapa. Yang penting laporan sama aku. Kan aku juga laporan bahwa tadi aku sama Yayuk.”<br />
“Ih…kita kok jadi begini Mas?”<br />
“Kamu nyesel? Jangan nyesel dong, tenang aja lagi.”<br />
Subuh itu suamiku tidak melakukan apa-apa padaku. Mungkin dia sudah kecapean menyetubuhi Yayuk. Tapi aku sendiri juga masih lemas karena habis melayani adik iparku yang masih sangat tangguh itu.<br />
SETELAH suamiku berangkat kerja, seperti biasa aku mandi di bawah semburan shower air hangat. Rasanya ingin membersihkan tubuh sebersih mungkin. Entah kenapa. Selesai mandi aku berias dulu di depan cermin rias, kemudiankeluar dari kamarku dengan hanya mengenakan kimono.<br />
Kulihat pintu kamar tamu masih tertutup. Kamar itu dipakai oleh Troy. Sudah sesiang ini dia belum bangun? Kucoba memutar handle pintu kamar itu, ternyata tidak dikunci. Diam-diam aku masuk ke dalam. Sambil menutupkan kembali pintu dari dalam, kulihat Troy masih nyenyak tidur tanpa selimut. Dia hanya mengenakan celana dalam dan kaus t-shirt sambil memeluk bantal guling. Selimut tergeletak di sampingnya. Apakah dia tidak kedinginan?<br />
Dengan hati-hati aku merayap ke sisinya. Aneh, hasrat birahiku berkobar lagi. Padahal tadi malam aku sudah dipuasi oleh adik iparku ini. Lalu kalau pagi ini terjadi lagi seperti yang tadi malam, apakah Mas Janus takkan marah? Ah, bukankah suamiku mengizinkanku untuk melakukannya, asalkan nanti laporan padanya?!<br />
Entahlah kenapa aku jadi begini bergairah, begini binalnya untuk mendapatkan kepuasan seksual di pagi ini. Tapi Troy masih tidur pulas, sampai tidak menyadari bahwa tanganku sudah menyelinap ke dalam CDnya, sudah menggenggam batang kemaluannya yang masih sangat lemas. Dan kuremas-remas dengan lembut sesuatu yang tadi malam sangat memuaskanku itu. Aku mulai gemas, kusembulkan zakar Troy dari celah CDnya, lalu tanpa ragu lagi kudekatkan wajahku ke zakar yang masih terkulai lesu itu. Gap…mulai kukulum dan kumainkan ujung lidahku untuk mengelus puncak batang kemaluan Troy.<br />
Dengan penuh semangat kuselomoti batang kemaluan Troy yang perlahan-lahan mulai membesar dan memanjang….terdengar suara nafas Troy, pertanda mulai bangun…batang kemaluannya pun mulai bangun, mengeras dengan gagahnya!<br />
Lalu terdengar suara Troy mendesah, “Oo…oooh…mbak…oooh…ini enak sekali….oooh….”<br />
Tanpa pikir panjang lagi kulepaskan kimonoku, <a href="http://ceritapanasdewasa.com/find/cerita-swinger-indonesia">langsung telanjang bulat</a> karena tak mengenakan pakaian dalam…hmm..semuanya sudah dipersiapkan! Lalu kutarik CD Troy, sehingga zakarnya yang sudah berdiri dengan gagah itu tak tertutup apa-apa lagi. Kemudian kudorong dadanya supaya terlentang. Lalu aku merangkak ke atas tubuhnya sambil mengarahkan batang kemaluannya supaya ngepas menekan liang kemaluanku yang sudah membasah dengan lendir libido ini.<br />
Lalu kuturunkan pinggulku, sehingga perlahan tapi pasti zakar Troy membenam ke dalam liang veggyku. Oh, gila, rasanya aku horny banget pagi ini.<br />
Aku menelungkup setelah menanggalkan t-shirt Troy. Lalu mulai aktif, menaik turunkan<br />
pinggulku dengan goyangan yang sudah terlatih. Dengan sendirinya batang kemaluan Troy dibesot-besot oleh dinding liang kenikmatanku.<br />
Troy terengah-engah sambil memeluk pinggangku erat-erat. Membuatku makin bersemangat untuk menggenjot pinggulku, oh, rasanya enak sekali pergeseran antara dinding liang kenikmatanku dengan batang penis Troy yang gagah perkasa itu.<br />
SAMPAI Troy meninggalkan rumahku, rahasia itu tetap kujaga. Troy tidak kuberitahu bahwa semuanya itu “hasil karya” abangnya sendiri. Aku tetap ingin menjaga image suamiku dan aku sendiri, agar jangan dicap pasangan psikopat. Memang semuanya seolah hanya bisa dilakukan oleh sepasang suami-istri yang psikopat. Tapi aku sudah mulai menikmatinya, sudah mulai memahami jalan pikiran suamiku, bahwa semuanya ini mendatangkan kenikmatan yang luar biasa, sekaligus menghilangkan kejenuhan.<br />
Hari demi hari berlalu. Apa yang kucemaskan tidak terjadi. Aku dan Mas Janus enjoy-enjoy saja menempuh rumah tangga, tanpa badai yang berarti. Bahkan anehnya sikap Mas Janus makin ramah dan lembut padaku. Jadi tiada alasan bagiku untuk mempertentangkan pendiriannya. Bahkan dengan jujur harus kuakui bahwa aku enjoy dengan semuanya ini. Dan setuju dengan kata-katanya, “Daripada selingkuh di belakang, mending selingkuh terang-terangan begini. Yang penting semuanya harus under control. Jangan jadi liar.”<br />
Memang semua yang telah terjadi dengan Troy kulaporkan kepada suamiku, sebagai tanda masih under control. Dan suamiku malah tersenyum, tiada ekspresi kemarahan sedikit pun. Bahkan semakin hangat dia memperlakukanku sebagai istri syah dan ibu dari anaknya.<br />
Lalu semuanya berjalan seperti biasa. Tanpa gejolak yang berarti dalam rumah tanggaku. Sampai pada suatu malam…ketika aku pulang arisan ibu-ibu di lingkunganku, kulihat Mas Janus tersenyum-senyum sambil memelukku. Dan berbisik ke telingaku, “Aku lagi bergairah sekali sekarang ini sayang.”<br />
Biasanya kalau mau bersetubuh dengan Mas Janus, aku suka ke kamar mandi dulu untuk membersihkan kemaluanku. Tapi malam itu Mas Janus tak memberiku kesempatan. Langsung menelanjangiku di dalam kamar dan menerkamku di atas tempat tidur.<br />
Aneh memang, ketika batang kemaluan Mas Janus membenam ke dalam liang ku, aku merasakan gairahnya begitu hebat. Terlebih setelah batang kemaluannya mulai mengenjot liang veggyku, oh, kenapa Mas Janus jadi ganas begini? Apakah dia habis makan obat perangsang atau bagaimana?<br />
Aku pun mulai menikmatinya dengan sepenuh gairah kewanitaanku. Kugoyang pantatku dengan gerakan meliuk-liuk, membuat nafas Mas Janus semakin mendengus-dengus. Aku pun terpejam-pejam dalam arus kenikmatan.<br />
Tetapi…ada yang aneh…ya…ini aneh. Bahwa ketika Mas Janus sedang mengenjotku sambil menelungkup di atas tubuhku, terasa ada yang mengelus-elus betis dan pahaku.<br />
Aku mencoba memperhatikannya dengan seksama. Apa yang sedang terjadi ini?<br />
Dan alangkah kagetnya aku, setelah menyadari bahwa ternyata memang ada tangan lain yang sedang mengelus pahaku. Tangan itu adalah tangan Bang Benny! Ya, Bang Benny sudah berada di atas tempat tidurku dalam keadaan tak berbusana! Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah ini semuanya sudah mereka atur sebelumnya?<br />
“Ba..Bang Be…Benny?!” seruku tertahan.<br />
Benny cuma tersenyum dan tetap mengelus-elus pahaku. Bahkan lalu ia memegang bahu suamiku sambil berkata dengan senyum, “You istirahat dulu dong…biar aku yang menggantikanmu…”<br />
Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan, terlebih ketika kulihat suamiku malah mengangguk sambil tersenyum dan menarik batang kemaluannya sampai terlepas dari liang kemaluanku. Dan Benny merayap ke atas tubuhku sambil mengarahkan batang kemaluannya ke mulut ku.<br />
Kupegang pergelangan tangan suamiku yang duduk di sebelahku sambil menatapnya, “Mas…”<br />
“Santai aja sayang,” sahut suamiku sambil mengelus pipiku, “Enjoy aja.”<br />
Belakangan aku tahu bahwa ketika aku sedang arisan, Benny datang dan sengaja disembunyikan di kamar mandi yang bersatu dengan kamarku. Ah…semuanya memang sudah direncanakan.<br />
Perasaanku jadi bercampur aduk ketika lubang ku mulai dicoblos oleh batang kemaluan Benny. Salah tingkah, karena suamiku menyaksikan semuanya ini. Maka sambil menggenggam tangan suamiku erat-erat, kupejamkan mataku…sambil merasakan nikmatnya zakar Benny yang mulai maju-mundur di dalam jepitan liang kewanitaanku.<br />
Orang bilang rumput di pekarangan tetangga selalu tampak lebih hijau daripada di pekarangan sendiri. Kini aku merasakannya. Bahwa ayunasn Benny terasa sekali membanjiri bathinku dengan kenikmatan. Karena Benny tak hanya menggenjot nya di dalam ku, tapi juga mengulum-ngulum puting payudaraku, sesekali mengisapnya kuat-kuat. Sementara tangannya pun tidak diam. Terkadang mengelus anusku, menimbulkan geli-geli nikmat yang membuatku sering menahan nafas. Aku pun mulai merengkuh leher Benny dan memeluknya erat-erat, tanpa berani memandang ke arah suamiku.<br />
Ketika kubuka mataku, kulihat suamiku sedang melangkah ke kamar mandi, mungkin mau pipis. Saat itulah aku merasa bebas untuk menggoyang pinggulku seedan mungkin, karena enjotan Benny emang terasa sekali enaknya. Dan ketika ia mencium bibirku, sengaja kupagut dan kulumat bibirnya dengan penuh gairah. Biarlah, bukan aku yang merencanakan semuanya ini.<br />
Kelihatannya kelincahanku dalam meliuk-liukkan pinggul justru membuat suamiku senang. Ia malah berkomentar setelah keluar lagi dari kamar mandi, “Nah begitu dong, jangan bikin malu aku….biar Benny tau istriku ini jago goyang…hihihihi…”<br />
Aku masih belum mengerti kenapa suamiku bisa seperti itu. Yang jelas, kulihat dia enjoy-enjoy aja melihatku sedang disetubuhi oleh sahabatnya, enjoy-enjoy saja melihat pinggulku bergoyang-goyang edan.<br />
Benny pun sama enjoynya. Tanpa peduli kehadiran suamiku, Benny terkadang mendesakkan batang kemaluannya dalam sekali, sampai menyentuh ujung liang ku. Ini membuatku merengek nikmat, dengan mata merem melek.<br />
Ketika aku mau merasakan titik puncak orgasmeku, tak terkendalikan lagi aku merintih-rintih histeris, “Ooohhh…Bang Benny….oooh…aku mau orga Bang….ooooh….”<br />
Tanpa peduli lagi bahwa suamiku sedang menyaksikan semuanya ini.<br />
Susah melukiskan semuanya itu, karena aku sendiri dalam keadaan edan-eling di puncak orgasme. Yang aku ingat, Benny melanjutkan enjotan nya meski ku sudah becek. Dan pada suatu saat ia menekankan batang kemaluannya kuat-kuat sambil mendengus, ooooooo…oohhhh…..lalu terasa liang kemaluanku disemprot-semprot cairan hangat, pada saat yang sama Benny mendekapku kuat-kuat, lalu perlahan-lahan terasa batang kemaluannya melemas dan mengecil.<br />
Aku pun memejamkan mata dalam letih dan puas. Tapi beberapa detik kemudian suamiku menggantikan peran Benny, memasukkan lagi zakarnya yang Masih keras ke dalam liang kemaluanku yang sudah kebanjiran air mani Benny. Aku tak kuasa menolak ataupun memberikan saran. Aku hanya terdiam, lalu berusaha memuaskan nafsu suamiku dengan goyangan pinggul sebisa mungkin. Padahal sekujur tubuhku masih terasa ngilu-ngilu.<br />
Malam itu memang malam edan. Setelah suamiku ejakulasi, Benny maju lagi. Dia minta agar aku mengubah posisiku jadi di atas. Lalu terjadilah persetubuhan yang kedua dengan sahabat suamiku itu.<br />
Tentu saja ronde kedua ini (kedua untuk Benny, ketiga untukku) jauh lebih lama daripada ronde pertama tadi. Aku sendiri sudah tak tahu lagi berapa kali mengalami orgasme saat itu. Yang aku tahu, setelah lebih dari sejam kami bersetubuh, Benny mencabut nya dari ku, kemudian menyemburkan sperma hangatnya di dalam mulutku.<br />
Setelah Benny terkapar, aku bergegas menuju kamar mandi, untuk berkumur-kumur dan membersihkan kemaluanku. Lalu kembali ke kamar, tadinya ingin beristirahat. Tapi rupanya persetubuhanku yang kedua dengan Benny tadi menyebabkan libido suamiku berkobar lagi!<br />
Terpaksalah kuladeni lagi suamiku, karena merasa kasihan kalau nafsunya tidak kupuasi. Tapi, oh my God….selesai suamiku menyetubuhiku, Benny ingin meku lagi untuk yang ketiga kalinya!<br />
Mungkin di situlah letak keistimewaan main threesome seperti yang pernah diungkapkan oleh suamiku. Aku sudah membuktikannya. Suamiku biasanya hanya menyetubuhiku 2 atau 3 hari sekali. Tapi malam itu, ia mampu menyetubuhiku 3 kali! Berati aku mengalami hubungan sex 6 kali di malam edan itu!<br />
ESOKNYA, sepulang dari kantornya, suamiku menghampiriku yang sedang rebahan di kamar. “Bagaimana kesannya tadi malam, sayang?”<br />
“Lemes….tubuhku serasa dilolosi….” sahutku sambil tersenyum canggung.<br />
Suamiku memelukku dan berbisik, “Tapi kamu puas kan?”<br />
“Lebih dari puas,” sahutku sambil mencubit lengan suamiku, “Mas sendiri sampai bisa tiga kali ya.”<br />
Suamiku mengangguk, “Itulah kelebihan threesome.”<br />
“Emang Mas gak cemburu waktu Benny sedang menyetubuhiku?” tanyaku dengan pandangan penuh selidik.<br />
“Tentu aja cemburu,” sahut suamiku dengan senyum, “Tapi di balik rasa cemburu, nafsuku jadi berkobar dengan hebatnya ketika melihatmu sedang disetubuhi oleh Benny. Padahal belakangan ini aku tak pernah lagi menidurimu lebih dari sekali dalam semalam kan? Tapi tadi malam….”<br />
“…Sampai tiga kali!” tukasku.<br />
Suamiku mengangguk sambil tersenyum menggoda.<br />
“Tapi…pada satu saat, mungkin Benny akan ngajak Mas untuk mengeroyok Yayuk juga kan?”<br />
Suamiku tercenung sesaat. Lalu katanya, “Mungkin saja. Tapi aku pasti minta izin dulu padamu. Gakpapa kan?”<br />
Meski berat terpaksa kujawab, “Gakpapa…biar adil….tapi Mas…ada masalah lain yang selama ini jadi pikiranku…”<br />
“Soal apa?”<br />
“Si Troy itu…bagaimana kalau dia ketagihan?”<br />
“Ajak aja ke sini. Biar aku bisa nonton diam-diam.”<br />
“Dia gak mau Mas. Takut sama Mas. Kan aku belum bilang kalau semua yang telah terjadi itu keinginan Mas sendiri.”<br />
“Memang sebaiknya jangan bilang dulu. Nanti disangkanya aku sudah gila. Padahal aku cuma ingin kreatif aja.”<br />
“Jujur aja, tadi pagi dia nelepon. Dia bilang ketagihan….”<br />
“Tentu aja ketagihan. Cowok mana yang tidak ketagihan setelah merasakan enaknya mu. Hehehe….”<br />
“Mm…kalau…kalau…ah gak deh…”<br />
“Lho, ngomong kok gak diterusin?!”<br />
“Takut Mas marah.”<br />
“Gak. Aku janji gak marah. Ada apa?”<br />
“Kalau dia ngajak ketemuan di satu tempat gimana? Kabulkan jangan?”<br />
“Dia kost di luar kota, dekat kampusnya. Di rumah kost itu banyak orang. Gak mungkin bisa ketemuan di sana.”<br />
“Kalau…kalau…kalau di hotel?”<br />
“Boleh aja. Yang penting kamu harus laporan sama aku nanti.”<br />
“Bener nih Mas?”<br />
“Bener,” suamiku mengangguk, sebaiknya sih di sini. Kan bisa kuatur, misalnya pura-pura aku gak di rumah.”<br />
“Lalu diam-diam Mas ketemuan sama Yayuk lagi?”<br />
“Nggak sayang. Intinya bukan itu. Aku merelakanmu digauli orang lain bukan karena ingin selingkuh dengan wanita lain. Yang penting bagiku, bisa menyaksikan waktu kamu digauli orang lain itu. Hal itu akan membuatku cemburu, lalu bangkit nafsuku…seperti tadi malam itu…”<br />
“Yang tadi malam itu <a title="istriku-dientot-benny-di-villa-puncak-daerah-cipanas-ii" href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-tukar-pasangan/istriku-dientot-benny-di-villa-puncak-daerah-cipanas-i.html">swinger</a> juga Mas?”<br />
“Bukan, yang tadi malam namanya threesome MMF. Kalau swinger ya waktu di Puncak itu.”<br />
“MMF? Maksudnya?”<br />
“MMF itu male-male-female. Kalau FFM female-female-male.”<br />
“Berarti bisa juga perempuannya dua orang, lelakinya seorang?”<br />
“Iya. Tapi pada dasarnya fisik wanita lebih siap untuk menghadapi pria lebih dari seorang. Lelaki kan harus ereksi. Kalau menghadapi wanita lebih dari seorang, pasti dia tak bisa memuaskan wanita-wanita itu. Hanya buat gaya-gayaan doang. Kalau wanita kan bisa melayani pria walaupun sambil tidur. Pria tidak bisa begitu. Penisnya harus ereksi dulu sebelum melakukan kontak seksual.”<br />
“Berarti wanita lebih tangguh daripada lelaki dong Mas.”<br />
“Iyalah, aku harus jujur mengakui hal itu.” suamiku mengangguk, “Perempuan kan tinggal telanjang dan telentang, mau diantri sama sepuluh lelaki juga bisa. Tapi lelaki? Kalau sudah ejakulasi ya terkulai, letih lesu…dikasih bidadari juga belum tentu mampu bangkit lagi…hehehe…”<br />
Aku cuma tersenyum mendengar ucapan suamiku itu. Semacam pengakuan lelaki. Bahwa sebenarnya perempuan ditakdirkan lebih tangguh daripada pria secara fisik. Lelaki kalau dikasih 10 orang cewek dalam semalam, pasti takkan ternikmati semua. Tapi wanita? Diantri sama 10 orang lelaki juga bisa. Tapi poliandri tetap merupakan hal yang janggal di dunia ini, sementara poligami banyak terjadi di mana-mana.<br />
“Kapan mau swinger lagi?” tanya suamiku tiba-tiba.<br />
“Sama Benny dan Yayuk?” aku balik bertanya.<br />
“Nggak harus dengan mereka. Masih banyak alternatif.”<br />
“Hah? Gak salah tuh?” aku melotot, “Rencana apa lagi yang sudah tersimpan di hati Mas?”<br />
“Masih kupikirkan,” sahut suamiku datar, “Soalnya kita harus yakin teman swinger kita bersih, jangan sampai menularkan penyakit.”<br />
Aku tidak berani menanggapi. Lalu kata suamiku, “Kalau dengan Benny dan Yayuk terus, kita bisa jenuh juga.”<br />
“Ih…emang Mas punya rencana sama siapa lagi?”<br />
“Sudah ada dua pasang yang mau swinger sama kita. Tapi aku harus memikirkannya dulu.”<br />
“Tapi Mas…apa hubungan kita nanti gak rusak?” tanyaku sangsi.<br />
“Nggak sayang,” Mas Janus memelukku lembut, “Yang penting jangan terlalu sering. Obat juga kalau over dosis bisa berdampak negatif.”<br />
Aku cuma mendengarkan. Da kata Mas Janus lagi, “Sekali kita swinger, kesannya akan melekat dalam waktu tertentu. Bisa sebulan, bisa dua bulan dan seterusnya. Tergantung dari kesan yang kita dapatkan pada waktu swinger itu.”<br />
Aku tetap tak mau menanggapi, takut salah ngomong.<br />
Kata suamiku lagi, “Sebenarnya sekarang ada beberapa perkumpulan swinger, tersebar di kota-kota besar. Tentu saja aktivitas mereka gak terlalu terbuka. Semuanya dilakukan secara rapi. Seolah-olah kumpulan arisan keluarga biasa.”<br />
“Masa sih?” aku tercengang, “terus bagaimana cara aktivitas mereka?”<br />
“Biasanya mereka bergerak tidak terlalu banyak, supaya tidak menraik perhatian. Misalnya satu hari mereka berkumpul di sebuah villa besar di luar kota. Mungkin yang hadir hanya enam atau tujuh pasang. Lalu di villa itu mereka <a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-tukar-pasangan/binalnya-istriku-diranjang.html">tukar pasangan</a>, bisa dengan cara mengundi atau atas kesepakatan semua pihak.”<br />
“Ih…kalau yang begitu jangan mau Mas. Lama-lama bisa over dosis seperti kata Mas tadi.”<br />
Suamiku hanya tersenyum datar. Entah apa yang sedang berada di alam pikirannya.<br />
Kami sama-sama terdiam, hanyut dalam terawangan masing-masing.<br />
Hari berganti hari tiada peristiwa yang penting, sampai pada suatu hari, terjadilah peristiwa yang tak kuduga sebelumnya. Berawal dari kontak telepon dengan adik iparku:<br />
“HALLO…Lagi ngapain Troy?”<br />
“Lagi nyantai aja. Apa kabar Mbak?”<br />
“Baek. Kamu bener-bener kangen sama aku?”<br />
“Kangen sekali. Gimana ya…mm..aku ketagihan Mbak…tapi takut ketahuan sama Mas Janus.”<br />
“Ah, nggak apa-apa kok. Aku jamin abangmu nggak apa-apa.”<br />
“Nggak apa-apa gimana?”<br />
“Nanti deh aku cerita. Tapi kalau kamu mau dan ingin bebas, kan bisa ketemuan di hotel.”<br />
“Ih, takut Mbak. Sekarang sering ada razia di hotel-hotel. Kalau sampai kena razia bisa heboh nanti. Mmm…kalau Mbak mau, aku ada usul…”<br />
“Apaan tuh?”<br />
“Aku punya temen, Piet namanya. Lengkapnya sih Pieter, tapi biasa dipanggil Piet aja.”<br />
“Terus?”<br />
“Rumahnya kosong, cuma dia sendiri di rumah itu. Orang tuanya di Amerika.”<br />
“Terus?”<br />
“Ya kita ketemuannya di rumah dia aja. Gimana?”<br />
“Lho, kalau dia tau gimana?”<br />
“Gakpapa Mbak. Orangnya fair kok.”<br />
“Terus?”<br />
“Jujur, aku sudah bilang kapan-kapan mau numpang pake salah satu kamar di rumah dia. Ya tadinya sih kalau Mbak gak keberatan, mau kuajak ketemuan di rumah dia itu Mbak.”<br />
“Kalau dia tau kan malu, sayang.”<br />
“Di dalam kamar tertutup, masa dia tau apa yang kita lakukan?”<br />
Aku tercenung sesaat. Lalu terdengar lagi suara Troy di hpku, “Kita ketemuan aja dulu di sana. Nanti Mbak pertimbangkan di sana. Kalau Mbak gak sreg ya cari alternatif lain.”<br />
“Tapi kamu jangan bilang aku ini istri abangmu. Gak enak.”<br />
“Beres Mbak. Terus kapan kita ketemuan di sana?”<br />
“Terserah kamu. Tapi harus di jam kerja.”<br />
“Mmm…Senin pagi aja ya.”<br />
“Senin lusa? Oke aku setuju. Soalnya tiap hari Senin abangmu suka pulang telat, kadang-kadang sampai malam. Rumah temanmu itu di mana?”<br />
Troy menyebutkan suatu alamat rumah.<br />
Kataku. “Kita langsung ketemuan di sana aja ya Troy. Jangan keliatan bareng perginya.”<br />
“Baik, jam sembilan aku sudah stand by di rumah Piet. Mbak mau pake apa ke sananya?”<br />
“Ya pake taksi aja.”<br />
“Sip deh! Sampai ketemu di sana nanti ya Mbak.”<br />
“Oke. Take care Troy.”<br />
Setelah hubungan telepon terputus aku tercenung. Memang harus kuakui, Troy membuatku kangen terus. Maklum dia masih begitu muda, 19 tahun juga belum. Tentu sangat beda dengan suamiku yang sudah 30 tahun. Aku sudah membayangkan betapa nikmatnya dalam gasakan dan keperkasaan Troy nanti.<br />
Rasanya lama sekali menunggu hari Senin tiba. Dua hari yang kunantikan serasa menunggu dua bulan lamanya. Aku resah sekali rasanya. Tapi kusembunyikan keresahanku ini, jangan sampai diketahui oleh suamiku.<br />
Senin yang dinantikan tiba juga. Jam 7 suamiku sudah berangkat kerja. Setelah bunyi mesin mobilnya hilang dari pendengaran, bergegas aku menuju kamar mandi. Membersihkan tubuhku sebersih-bersihnya. Tak cukup dengan itu. Selesai mandi kusemprot-semprotkan parfum ke setiap sela yang mungkin tersentuh oleh Troy nanti. Aku ingin menimbulkan kesan seindah mungkin di batin adik iparku itu.<br />
Kukenakan celana jeans dengan t-shirt biru tua yang agak ketat. Tak lama kemudian aku sudah berada di dalam taksi yang sedang menuju alamat rumah teman Troy yang bernama Piet itu.<br />
Rumah yang kutuju itu beberapa kilometer di luar kota. Aku agak tertegun melihat kemegahan rumah dengan pekarangan yang sangat luas itu. Pasti orang tua Piet bukan orang kebanyakan. Mungkin seorang pejabat tinggi atau pelaku bisnis papan atas. Hal itu membuatku ragu. Tapi begitu taksi berhenti di depan pintu pagar rumah megah itu, Troy datang menjemputku. Dengan sopan ia membukakan pintu taksi waktu aku mau turun.<br />
“Temenmu mana?” tanyaku dengan perasaan tak menentu waktu berjalan menuju pintu depan rumah megah itu.<br />
“Lagi keluar dulu,” sahut Troy sambil menggenggam pergelangan tanganku, “Santai aja Mbak. Di sini aku merasa seperti di rumah sendiri.”<br />
“Kita langsung aja ke kamar yang sudah disediakan di atas yok,” ajak Troy sambil menunjuk ke tangga yang menuju lantai dua. Aku menurut saja, meski terasa sikapku serba canggung.<br />
Di dalam salah satu kamar lantai atas, aku mulai merasa tenang. Terlebih setelah Troy menutupkan pintunya.<br />
Pandanganku tertumbuk ke sebuah foto besar berbingkai silver. Foto seorang anak muda di atas sebuah motor Harley Davidson. Tampan sekali anak muda itu. Aku menduganya seorang artis yang belum kuketahui namanya. Tapi Troy menunjuk foto itu sambil menerangkan, “Itulah Piet. Ganteng ya Mbak.”<br />
Aku cuma mengangguk cuek, padahal hatiku berkata, “Ganteng dan sexy sekali temanmu itu….”<br />
Kamar itu ada kamar mandinya. Maka bisikku, “Aku mau pipis dulu ya.”<br />
Troy mengangguk sambil tersenyum. Aku pun masuk ke dalam kamar mandi itu. Bukan cuma mau pipis, tapi sekalian ingin mencuci ku sebersih mungkin. Karena aku yakin ku akan dijilati oleh Troy nanti, jangan sampai ada bau yang kurang sedap, meski sudah disemprot parfum di rumah tadi.<br />
Celana jeans dan BH kugantungkan di kamar mandi. Keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan CD dan t-shirt. Rupanya Troy juga sudah melepaskan celana jeansnya, sama seperti aku, tinggal mengenakan t-shirt dan CD.<br />
Senyum Troy tampak menggoda waktu aku menghampirinya. Lalu memelukku dengan hangat. Dan menciumi pipi serta leherku, lalu melumat bibirku dengan hangat dan membangkitkan gairahku.<br />
Supaya Troy lebih leluasa menikmati kemulusan tubuhku, kulepaskan t-shirtku, sehingga payudaraku yang masih terawat kencang ini tak tertutup apa-apa lagi. Troy pun menanggalkan t-shirtnya. Lalu memelukku dengan hangat dan meraihku ke atas tempat tidur. Aku pun mulai menggelinjang nikmat ketika Troy mulai menjilati puting payudaraku. Tak hanya itu, lidahnya mulai menjilati pusar perutku dan turun terus, sampai akhirnya kemaluanku mulai dijilatinya dengan penuh semangat. Aku pun mulai menggeliat-geliat dalam arus kenikmatan, sambil merengek lirih,“Troy…oooh…ini enak sekali sayang…kamu be…belajar dari siapa sih…kok pintar amat kamu main emut begini…?”<br />
“Belajar dari film bokep,” sahut Troy sambil menghentikan jilatannya sesaat, lalu menyedot-nyedot kelentitku membuatku mendesah-desah lagi dalam nikmat.<br />
“Udah Troy…masukin aja….cepet…aku pengen melepas kangenku sama tititmu yang gagah itu…” pintaku sambil menarik bahu Troy agar naik ke atas tubuhku.<br />
Troy mengikuti ajakanku. Ia mulai mengarahkan batang kemaluannya ke mulut ku. Aku pun membantunya, merenggangkan pahaku sambil memegang batang kemaluan Troy dan menekankan puncaknya pas di mulut veggyku. Lalu aku mengedipkan mata, sebagai tanda agar ia mulai mendorong…dan…aaah…batang kemaluan Troy mulai melesak dengan mantapnya ke dalam liang kemaluanku!<br />
Tapi setelah mulai menggeser-geserkan zakarnya maju mundur dalam liang kenikmatanku, ia berkata terengah, “Mbak jangan marah ya…sebenarnya Piet ada di rumah ini. Dia ingin nonton kita Mbak…”<br />
“Apa?” aku kaget, tatapanku tertuju ke foto besar yang terpampang di dinding itu. Foto anak muda yang tampan itu, “terus kalau dia ngiler nanti gimana? Kamu kok ada-ada aja.”<br />
Nada ucapanku seperti protes. Tapi diam-diam aku teringat pada peristiwa main bertiga dengan Benny. Apakah pagi ini akan terjadi kisah yang mirip itu?<br />
“Dia orang sopan Mbak. Dia hanya ingin nonton. Tapi…kalau dia gak tahan dan ingin ikutan, mainin aja nya sama tangan Mbak…itu juga kalau Mbak gak keberatan. Pokoknya aku jamin tidak akan ada pemaksaan, Mbak.” Troy mulai mengenjot nya dengan gerakan syur, yang membuatku mulai terpejam-pejam.<br />
“Nggak tau ah…” sahutku pura-pura tidak suka. Tapi diam-diam khayalanku mulai melambung…membayangkan sesuatu yang luar biasa indahnya.<br />
“Dia menunggu izin Mbak untuk masuk ke kamar ini. Izinkan jangan?” tanya Troy sambil menghentikan gerakannya sejenak.<br />
“Terserah kamu aja lah,” sahutku dingin. Padahal diam-diam aku ingin melihat apakah Piet itu setampan wajah di foto itu?<br />
Tanpa menghentikan genjotan nya, Troy berseru, “Piet! Come on…!”<br />
Aku rada degdegan juga ketika kudengar pintu dibuka. Soalnya aku dalam keadaan begini, keadaan telanjang bulat dan sedang disetubuhi oleh adik iparku.<br />
Lalu tampak seorang anak muda tinggi semampai dengan wajah, Oh my God…! Tampan sekali cowok bernama Piet itu. Tubuhnya pun tinggi sekali, mungkin ada 190 cm tingginya. Dan senyumnya itu, oh…jangan-jangan aku bisa jatuh hati nanti…!<br />
“Kenalan dulu dong,” Troy menghentikan entotannya sejenak, sambil menoleh ke arah Piet.<br />
Aku yang sedang terlentang ini sempat juga berjabatan tangan dengan Piet. Ini adalah jabatan tangan yang paling canggung dalam hidupku. Karena aku sedang bertelanjang bulat, sedang dientot pula oleh Troy. Tapi di balik itu semua, aku benar-benar kagum melihat tampang dan sikap Piet. Jujur, aku belum pernah melihat cowok setampan Piet. Dengan melihat senyumnya saja hatiku sudah tergetar hebat. Dan waktu tangannya menjabat tanganku sambil menyebutkan namanya, terasa ada aliran hangat yang membuatku luluh. Oh, andaikan Piet meminta untuk menyetubuhiku, aku mau dan rela lahir bathin!<br />
“Ayo lanjutkan Troy,” kata Piet sambil duduk di samping kananku, “Ini pertunjukan dahsyat….aku suka sekali.”<br />
Troy pun melanjutkan permainan surgawi ini. Dengan mantap batang kemaluannya menggenjot liang kewanitaanku lagi. Sementara Piet seperti asyik sekali memperhatikan semuanya ini.<br />
“Ahhh…ini merangsang sekali, jauh lebih edan daripada nonton bokep,” cetus Piet sambil menekan-nekan bawah perutnya.<br />
Aku merasa kasihan juga. Meski sedang menikmati asyiknya enjotan Troy, kugenggam pergelangan tangan Piet dengan hangat. Piet senang kelihatannya dengan genggamanku.<br />
“Ih, aku jadi ngaceng, Mbak….” katanya malu-malu.<br />
“Masa…?” sahutku terengah, karena entotan Troy terasa makin gencar. Dan penasaran juga, sengaceng apa cowok tampan itu. Lalu kujulurkan tanganku, hinggap di bawah perut Piet yang masih berpakaian lengkap itu. Kutarik ritsleting celana jeansnya, agak susah dan Piet membantuku menarik ritsleting celananya. Lalu tanganku menyelinap ke balik celana dalamnya. O, my God! Apa aku gak salah pegang? Aku menyentuh sesuatu yang besar sekali, mungkin sama dengan pergelangan tanganku! Bahkan mungkin lebih besar lagi, sudah keras dan hangat pula!<br />
Aku terkesiap. Mungkinkah ada sebesar itu?<br />
Ketika kutatap wajah cowok abg itu, dia cuma tersenyum malu-malu, karena aku sedang berusaha menggenggam nya yang masih tersembunyi di balik celananya. Dan aku tak berhasil menggenggam sepenuhnya, saking besarnya batang kemaluan anak muda itu. Lalu kutarik-tarik celana jeansnya, sebagai pertanda agar ia melepaskan celananya.<br />
Sambil tersenyum cowok rupawan itu menurunkan celana jeans dan CDnya. Wow! Aku benar-benar kaget melihat panjang dan besarnya batang kemaluan anak muda itu! Besar sekali! Panjang sekali! Apakah aku tak salah lihat?!<br />
Perhatianku yang tertumpah ke alat kelamin Piet, membuatku kurang konsentrasi pada yang sedang Troy lakukan di atas tubuhku.<br />
Aku menggapaikan tanganku. Anak muda bernama Piet itu mengerti dan segera mengangsurkan nya ke dekat tanganku. Darahku tersirap-sirap waktu memegang batang kemaluan yang sudah tegang itu. Benar-benar tidak tergenggam oleh tanganku! Diameternya hampir sama dengan diameter gelas! Dan panjangnya…aku yakin takkan kurang dari 25 cm! Aku tak pernah membayangkan akan ada batang kemaluan segede dan sepanjang ini.<br />
Aku mulai mengelus bagian kepala dan leher zakar Piet, sementara Troy tetap gencar meku. Tapi ia masih sempat membisiki telingaku, “Dia belum pernah bersetubuh dengan perempuan, Mbak.”<br />
“Masa sih?” tanyaku heran, sementara tangan kananku mulai berusaha meremas zakar Piet dengan lembut…dengan nafsu yang menjadi-jadi.<br />
“Betul,” sahut Troy tanpa menghentikan entotannya, “Dia anak pingitan Mbak.”</p>
<h4>Cerita Panas Terbaru:</h4>,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-tukar-pasangan/istriku-dientot-benny-di-villa-puncak-daerah-cipanas-ii.html" title="17 tahun">17 tahun</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.031 ms -->

<p><b>Cerita Seks Berhubungan:</b><ol><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-tukar-pasangan/istriku-dientot-benny-di-villa-puncak-daerah-cipanas-i.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istriku Dientot Benny di Villa Puncak daerah Cipanas I'>Istriku Dientot Benny di Villa Puncak daerah Cipanas I</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-tukar-pasangan/istriku-dientot-benny-di-villa-puncak-daerah-cipanas-ii.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istriku Dientot Benny di Villa Puncak daerah Cipanas I</title>
		<link>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-tukar-pasangan/istriku-dientot-benny-di-villa-puncak-daerah-cipanas-i.html</link>
		<comments>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-tukar-pasangan/istriku-dientot-benny-di-villa-puncak-daerah-cipanas-i.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 13:45:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita 17 tahun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tukar Pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[bangga]]></category>
		<category><![CDATA[bengong]]></category>
		<category><![CDATA[besok]]></category>
		<category><![CDATA[bini]]></category>
		<category><![CDATA[cerita panas dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[cerita swinger]]></category>
		<category><![CDATA[cerita swinger indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[cerita swinger melayu]]></category>
		<category><![CDATA[cerita tukar pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[diam diam]]></category>
		<category><![CDATA[gini]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[itu kamu]]></category>
		<category><![CDATA[kami sama]]></category>
		<category><![CDATA[kataku]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[menikmati]]></category>
		<category><![CDATA[nada]]></category>
		<category><![CDATA[nama nama]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[sahabatku]]></category>
		<category><![CDATA[sama sama]]></category>
		<category><![CDATA[sekaligus]]></category>
		<category><![CDATA[terang]]></category>
		<category><![CDATA[terangsang]]></category>
		<category><![CDATA[tukar pasangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapanasdewasa.com/?p=396</guid>
		<description><![CDATA[Mau coba ngepost pengalamanku ya…tapi karena yang kutulis ini kisah nyata, nama-nama yang terlibat akan diganti semua. Mulanya aku iseng doang, pada suatu pagi, waktu istriku mau ganti pakaian, kurekam dengan video hpku. Dia nggak nyadar sama sekali kalau aku sedang merekamnya terutama waktu dia telanjang bulat. Beberapa hari kemudian, entah kenapa aku punya semangat [...]


<b>Cerita Seks Berhubungan:</b><ol><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-tukar-pasangan/istriku-dientot-benny-di-villa-puncak-daerah-cipanas-ii.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istriku Dientot Benny di Villa Puncak daerah Cipanas II'>Istriku Dientot Benny di Villa Puncak daerah Cipanas II</a></li><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-tukar-pasangan/binalnya-istriku-diranjang.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Binalnya Istriku Diranjang'>Binalnya Istriku Diranjang</a></li><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-tukar-pasangan/istriku-terjebak-swingging.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istriku Terjebak Swingging'>Istriku Terjebak Swingging</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mau coba ngepost pengalamanku ya…tapi karena yang kutulis ini kisah nyata, nama-nama yang terlibat akan diganti semua. Mulanya aku iseng doang, pada suatu pagi, waktu istriku mau ganti pakaian, kurekam dengan video hpku. Dia nggak nyadar sama sekali kalau aku sedang merekamnya terutama waktu dia telanjang bulat. Beberapa hari kemudian, entah kenapa aku punya semangat aneh, ingin memperlihatkan rekaman di hpku itu kepada Benny, sahabat dekatku.<br />
“Lihat nih, bini aku sexy kan?” kataku bangga. Benny melotot dan berdecak kagum, “Ck..ck…sexy sekali ya?”<br />
“Yayuk (nama istri Benny) pernah direkam gini?” tanyaku tetap dengan nada bangga.<br />
“Belum,” Benny menggeleng, “Tapi mau ah…nanti malam aku mau ML sama dia, sekalian direkam diam-diam.”<br />
“Sip! Nanti lihatin ke aku ya,” kataku bersemangat, “sekalian aku juga nanti malam mau ML sama istriku, sambil direkam juga.”<br />
“Terus besok hasilnya tukaran ya, punya kamu lihatin ke aku, punya aku lihatin ke kamu,” usul Benny yang langsung kusetujui.<br />
Malamnya, aku benar-benar ML dengan Lina, istriku. Dia tidak tahu bahwa aku merekamnya di hpku yang sudah kuatur letaknya sebelum mengajaknya ML.<br />
Besoknya, aku dan sahabatku menepati janji. Kuserahkan hpku untuk ditonton oleh Benny, sementara aku menikmati hasil rekaman sahabatku itu. Kami sama-sama terangsang oleh tontonan yang sangat pribadi sifatnya itu. Bahkan Benny sempat terlongong setelah mengembalikan hpku, seperti ada yang dipikirkan olehnya.<br />
“Jan…kalau kita swinger gimana? Jujur, aku belum pernah merasakan swinger,” kata Benny tiba-tiba.<br />
Aku terkejut. Tak pernah kupikir sebelumnya akan melakukan seperti yang Benny usulkan itu.<br />
“Kamu jangan tersinggung, Jan,” Benny menepuk bahuku, “Ini cuma usul…kalau kamu nggak keberatan, aku juga gak maksa. Yang jelas, kamu bisa nyobain Yayuk, aku nyobain Lina. Adil kan?”<br />
Aku terbengong-bengong. Terus terang, usul Benny mengejutkan sekaligus membuatku bergairah. Kubayangkan istriku sedang disetubuhi oleh sahabatku itu, sementara aku menyetubuhi istrinya. Baru diobrolkan saja penisku sudah ngacung, apalagi kalau benar-benar dilaksanakan. Maka setelah berpikir agak lama, kujawab, “Usul edan tapi menggiurkan. Cuman…gimana cara meyakinkan istriku ya? Kalau dia gak mau kan susah. Istrimu sendiri gimana?”<br />
“Soal istriku, serahkan padaku. Kamu urus Lina saja, atur supaya mau,” kata Benny.<br />
“Lina sangat konservatif, kamu juga tahu itu kan?”<br />
“Lina yang konservatif apa kamu sendiri yang tidak mau swinger?” Benny menepuk bahuku sambil menertawakanku.<br />
“Aku mau…mau…tapi bagaimana cara meyakinkan Lina ya?”<br />
“Begini aja,” kata Benny di tengah kebingunganku, “kita jebak mereka ke dalam situasi yang mau tidak mau harus mereka terima.”<br />
“Maksudmu?”<br />
“Aku kan punya villa keluarga di Cipanas. Kita ajak mereka week end di sana.”<br />
“Yayaya…jebakannya di sebelah mananya?”<br />
“Kita bawa Martini atau Tequila…minum rame2, kita pada minum di sana. Setelah mereka rada kleyengan, kita matiin lampu sampai gelap sekali. Saat itu aku akan menelanjangi istriku, kamu juga telanjangi istrimu. Lalu kita bikin foreplay dengan istri kita masing-masing. Nah…lalu diem-diem kita tukar tempat. Kamu terkam istriku, aku terkam istrimu. Deal?”<br />
“Hahahaaa! Deal! Deal!” seruku gembira dengan usul sahabatku, meski sebenarnya ada tandatanya di hatiku : Benarkah mentalku sudah siap untuk membiarkan istriku disetubuhi orang lain? Tapi…bukankah aku juga akan menggauli istri Benny? Bukankah ini sangat adil bagi kami?<br />
Lalu kami tentukan harinya. Hari yang akan sangat bersejarah itu.Setelah aku berpisah dengan Benny, aku pulang dengan 1001 khayalan di benakku. Membayangkan istriku yang manis dan bertubuh mulus itu akan digeluti oleh Benny, sementara aku akan menggeluti Yayuk, istri Benny. Aneh, baru membayangkannya saja aku jadi sangat terangsang. Apalagi pada waktu mengalaminya nanti.Lina sudah 4 tahun jadi istriku. Pada saat kisah ini terjadi Lina sudah berusia 26 tahun, sedangkan aku sendiri sudah hampir 30 tahun. Kami sudah dikaruniai seorang putra yang baru berumur 2 tahun. Ibu mertuaku sangat sayang pada Bernard, nama anakku, jauh melebihi ketelatenan babysitter yang bekerja di rumahku sejak anakku berusia setahun. Karena itu tiada masalah kalau aku dan Lina bepergian, karena di rumahku ada babysitter dan ibu mertuaku.Maka dengan wajah cerah Lina menyetujui ajakanku untuk berakhir pekan di Cipanas. “Benny punya villa di sana, ya Mas?” tanyanya.”Iya,” aku mengangguk, “villa punya orang tuanya.”&#8221;Benny dan Yayuk juga ikut nanti?”&#8221;Ya iyalah. Kalau mereka gak ikut, ya gak enak dong kita pake villa orang tanpa pemiliknya. Kecuali kalau kita sewa villa orang lain.”Singkatnya, pada hari yang telah ditentukan, Benny dan Yayuk menyampar ke rumahku dengan Honda Citynya. Aku pun secepatnya memanaskan mesin Toyota Viosku.Tak lama kemudian, aku sudah menggerakkan mobilku, bersama Lina di sisiku, mengikuti mobil Benny dan Yayuk. Seperti yang sudah diatur semula, aku membekal Tequila, yang katanya bisa membuat wanita jadi horny. Untuk acara rahasiaku dan Benny setelah berada di villa nanti.Lina tidak tahu bahwa ketika aku menyetir mobil menuju Cipanas, jantungku berdegup-degup terus, karena membayangkan apa yang akan terjadi beberapa jam lagi. Membayangkan sesuatu yang belum pernah kualami dan akan menimbulkan kesan mendalam dalam kehidupan dan hasrat birahiku.Sesampainya di depan villa, jantungku makin berdebar-debar. Tapi aku mencoba menekannya dengan menyapukan pandangan ke sekitar villa, yang memang indah pemandangannya. Diam-diam kuperhatikan Benny. Ternyata sama denganku, senyumnya tampak canggung. Lalu kami masuk ke dalam villa.Lina dan Yayuk bersih-bersih dulu di dalam villa, aku dan Benny keluar lagi, lalu berjalan-jalan agak menjauh dari villa. Dan ngobrol dengan suara setengah berbisik:<br />
“Kamu nafsu gak liat Yayuk?” tanyanya.<br />
“Kamu sendiri gimana? Nafsu gak liat Lina?” aku balik bertanya.<br />
“Ya iyalah, makanya aku yang usul pertama, karena tergiur sekali waktu melihat dia bugil di hpmu itu.”<br />
“Sama,” kataku sambil tersenyum canggung, “aku juga jadi nafsu melihat bentuk istrimu yang seksi…”<br />
Darahku tersirap mendengar pujian itu. Tapi terasa makin membuatku penasaran, ingin segera tau apa yang akan terjadi nanti.<br />
Kami berunding diam-diam, tentang apa yang akan kami lakukan nanti. Setelah matang rencananya, kami kembali ke villa. Di dalam villa, sudut pandangku mencuri-curi pandang terus ke arah Yayuk, yang nanti akan kugauli. Kurasa Yayuk dan Lina punya keistimewaaan masing-masing. Kulit Lina kuning mirip kulit wanita Jepang, sementara Yayuk berkulit sawomatang. Lina tergolong berwajah cantik, sementara Yayuk bisa kunilai hitam manis. Tubuh Yayuk sedikit lebih tinggi daripada Lina, kutaksir sekitar 170cm gitu, sementara Lina 168cm.<br />
Yang menarik dari hasil curi-curi pandang ini adalah, toket Yayuk itu…aku yakin besar sekali…mungkin behanya berukuran 38 ke atas. Sedangkan toket Lina biasa-biasa saja, behanya pun cuma 34.<br />
Menjelang senja, kami makan malam dulu di restoran yang paling dekat dengan villa keluarga Benny. Pada saat itulah kulihat Lina dan Yayuk seakan bersaing dalam berpakaian. Mereka seolah ingin tampil seseksi mungkin. Padahal aku tak menganjurkan apa-apa kepada istriku. Dan kulihat mata Benny sering memperhatikan istriku. Sialan…sebentar lagi dia akan menikmati kemulusan dan kepadatan tubuh istriku. Tapi pikiran ini justru diam-diam membuat penisku hidup, mengeras dan mengeras terus. Terlebih-lebih setelah membayangkan bahwa untuk pertama kalinya aku akan menikmati kesintalan tubuh Yayuk yang hitam manis itu.<br />
Selesai makan, hari mulai malam. Kami pun kembali ke villa.<br />
Seperti yang telah direncanakan, kami minum tequila di sofa ruang depan. Cukup banyak kami membekal minuman itu, karena aku membeli dua botol, ternyata Benny pun membekal tiga botol. Untungnya Lina dan Yayuk tidak menolak waktu ditawari minum, dengan alasan untuk mengusir hawa dingin.<br />
Baru menghabiskan dua sloki, wajah Lina mulai merah. Sikapnya padaku mulai romantis. Yayuk pun sama, ia mulai memeluk pinggang Benny dengan sorot mata berharap.<br />
Lalu kata Benny, “Kita bikin pesta di dalam kamar yuk…sama-sama main…come on honey,” Benny meraih lengan istrinya sambil melirik padaku, “ayo Jan…kamarnya cuma satu, kita pake rame2 yok.”<br />
Kuraih juga lengan Lina yang tampak mulai agak teler. Lalu kami ikuti langkah Benny ke dalam kamar yang agak besar, dengan dua bed berdampingan. Sesampainya di kamar, Benny langsung menerkam dan menghimpit istrinya. Adegan itu tidak bisa lama-lama kulihat, karena setelah aku dan istriku naik ke atas bed yang masih kosong, Benny memijat knop sakelar yang letaknya tak jauh dari bantalnya. Kamar itu langsung gelap gulita. Dan terdengar suara Benny, “Biar kita sama-sama asyik dengan istri kita masing-masing, Jan.”<br />
Aku cuma menjawab dengan ketawa kecil. Tapi dalam gelap aku mulai menanggalkan pakaianku sehelai demi sehelai, sampai telanjang bulat, lalu membisiki telinga istriku, “Ayo dong buka pakaianmu semua.”<br />
Lina tidak buang-buang waktu. Ia tahu persis apa yang kuinginkan dalam saat-saat seperti itu. Dalam kegelapan kamar villa, Lina mulai menelanjangi dirinya. Sementara kudengar desah napas Yayuk yang mulai tersengal-sengal, entah apa yang sudah terjadi di bed yang satu lagi itu. Mungkin Benny sedang menjilati puting payudara atau vagina istrinya, entahlah…yang jelas aku pun mulai menggumuli istriku dalam kegelapan.<br />
Terdengar suara Yayuk, “Oooh…Bang Benny…oooh….iya Bang…begituin….oooh…masukin aja Bang…aku gak tahan lagi nih…ooohhh…”<br />
Terangsang oleh suara istri sahabatku itu, aku pun mulai menjilati puting payudara Lina. Tapi tak lama kemudian terasa tanganku dipegang oleh tangan kasar. Tangan Benny. Aku mengerti maksudnya, bahwa aku harus segera pindah ke bed yang satunya lagi, sementara Benny akan pindah ke bedku.<br />
Inilah saat-saat yang paling mendebarkan. Aku bergerak ke arah bed di sebelah, lalu mulai menjamah tubuh Yayuk. Mudah-mudahan saja Yayuk tidak sadar bahwa sekarang bukan lagi suaminya yang akan menikmati kesintalan tubuhnya. Mudah-mudahan pula Lina tidak menyadari bahwa posisiku sudah diganti oleh Benny.<br />
Wow, aku mulai menikmati hangatnya pelukan Yayuk. Tampaknya dia belum sadar bahwa posisi suaminya sudah diganti olehku.”Masukin aja Bang, sudah gak tahan nih…horny banget,” bisik Yayuk yang sudah berada di bawah himpitanku. Bicara begitu, terasa tangan Yayuk mulai memegang batang kemaluanku yang memang sudah keras. Apakah mau main langsung-langsungan saja? Kurasa untuk yang pertama kalinya memang harus begitu. Jangan banyak variasi dulu. Nanti kalau Yayuk dan Lina sudah menyadari hal ini, barulah pakai foreplay sebanyak mungkin.<br />
Maka tanpa banyak pikir-pikir lagi, kubiarkan Yayuk meletakkan ujung penisku di ambang vaginanya. Kemudian kudorong sedikit demi sedikit, persis pada saat kudengar suara Lina, “Mas…cepetan dong masukin…duuuhh…kenapa jadi horny gini? Gara-gara minuman tadi kali ya…naaahhh…..iiih…kok punya Mas terasa jadi agak gede? Diapain?”<br />
Gila…itu berarti penis Benny sudah dimasukin ke dalam liang kemaluan istriku! Tapi…bukankah penisku juga sudah mulai melesak ke dalam liang senggama Yayuk?<br />
Bukan cuma melesak, tapi sudah mulai kuayun dengan mantapnya, karena liang senggama Yayuk sudah banyak lendirnya (mungkin “hasil” rangsangan Benny tadi).<br />
Penisku sudah maju mundur dalam jepitan liang surgawi Yayuk yang terasa begini legitnya, mungkin karena dia belum melahirkan anak. Liang vaginanya terasa sangat mencengkram dan hangat. Desah nafasnya pun makin nyata diiringi rintihan-rintihan nikmatnya, “Ooohh Bang…oooh…bang…oooh…kok enak sekali ini bang…..oooh…” sementara kedua lengannya mendekap pinggangku kuat-kuat. Ini membuatku makin bernafsu.<br />
Lalu…seperti yang sudah direncanakan, diam-diam Benny memijat sakelar lampu dan….tiba-tiba kamar itu jadi terang benderang. Ini sesuai dengan kesepakatan aku dan Benny. Bahwa dalam keadaan sudah “telanjur” (penisku sudah main di dalam liang vagina Yayuk dan penis Benny sudah maju mundur di dalam liang vagina istriku), baik Yayuk mau pun istriku takkan bisa menghindar lagi dari kenyataan yang sudah direncanakan oleh Benny denganku itu.<br />
Setelah kamar villa terang benderang, tentu saja Yayuk dan istriku terkejut setelah menyadari dengan siapa mereka sedang bersetubuh.<br />
“Bang Benny?!” seru istriku di bed sebelah.<br />
“Mas Janus?!” seru Yayuk yang sedang kusetubuhi dengan gencarnya.<br />
Lalu terdengar Benny tertawa, “Hahahaaa….kita lanjutkan saja…sudah telanjur kan?”<br />
“Jadi semuanya ini sudah direncanakan?” tanya Yayuk yang tampak berusaha mengendalikan kekagetannya.<br />
“Iya…ini adil kan?” bisikku sambil meremas buah dadanya yang benar-benar montok itu.<br />
“Aaahhh…” cuma itu yang terlontar dari mulut Yayuk, kemudian dia mendekap lagi pinggangku dan mulai menggoyang pinggulnya dengan gerakan yang trampil, seperti membentuk angka 8.<br />
Kulirik Lina seperti bingung. Ia menoleh padaku, seakan bertanya kenapa jadi seperti ini? Lalu kutanggapi dengan senyum…dan celotehku, “Enjoy saja….”<br />
Mungkin Lina geram melihatku sedang bersetubuh dengan Yayuk, lalu ia “balas dendam” dengan mencengkram bahu Benny dan mulai menggoyang pinggulnya. Gila…cemburu juga aku dibuatnya. Seingatku, tak pernah Lina menggoyang pinggulnya seedan itu waktu kusetubuhi. Tapi kecemburuanku ini berbuah nafsu dan gairah yang luar biasa. Enjotan penisku di dalam liang surgawi Yayuk terasa nikmat luar biasa! Maka semakin edan pula kuhentak-hentak penisku, seperti meronta-ronta dalam jepitan Yayuk…oh…ini nikmat sekali!<br />
Suasana menjadi semakin erotis dan misterius. Yayuk meladeni enjotan penisku dengan energik, pinggulnya meliuk-liuk laksana penari India. Tapi aku tak tahu apa yang bersemayam di benaknya. Ketika aku melirik ke samping, goyang pinggul Lina pun tak kalah edannya. Seolah ingin bersaing dengan dinamisnya goyang pinggul Yayuk. Ada perasaan geram dan cemburu di hatiku melihat ulah istriku seperti itu. Tapi bukankah aku sendiri sedang menikmati kehangatan tubuh istri sahabatku?<br />
Di tengah persenggamaan yang seru ini aku sempat berbisik terengah di telinga Yayuk, “Gimana? Enak?”<br />
“Enak sekali….aaah….” sahut Yayuk dalam bisikan juga, mungkin takut terdengar oleh suaminya.<br />
“Nanti lepasin di dalam apa di luar?” bisikku lagi.<br />
“Terserah, aku kan belum punya anak…siapa tahu bisa punya darimu,” bisik Yayuk pelan sekali, pasti takkan terdengar oleh suaminya yang semakin asyik menyetubuhi istriku.<br />
Bisikan Yayuk itu membuatku semakin bergairah mengayun batang kemaluanku. Tapi sekaligus membuatku tak bisa bertahan lagi, “Aku sudah mau keluar”, bisikku.<br />
“Tahan dulu,” sahut Yayuk, “aku juga sudah mau keluar Mas…barengin keluarnya ya…biar enak…”<br />
Lalu kami seperti dua ekor binatang buas, saling cengkram, saling remas, saling jambak…dan akhirnya tak tertahankan lagi, bersemburanlah air mani dari batang kemaluanku, disambut dengan kedutan-kedutan liang kemaluan Yayuk di puncak orgasmenya.<br />
Kami menggelepar…menggeliat…berkeju t-kejut…lalu sama-sama terkulai di puncak kepuasan.<br />
Tapi kulihat Benny masih asyik mengenjot batang kemaluannya di dalam liang kemaluan istriku. Bahkan di satu saat, mereka mengubah posisi. Lina di atas, Benny di bawah. Oh…ini benar-benar membuatku cemburu. Karena kulihat istriku yang aktif mengayun pinggulnya, sementara Benny merem melek sambil terlentang…</p>
<p>Kucabut batang kemaluanku dari dalam vagina Yayuk yang sudah basah kuyup oleh spermaku dan lendir Yayuk sendiri. Lalu aku duduk bersila sambil menonton persetubuhan Benny dengan istriku. Aku terlongong menyaksikan betapa aktifnya Lina saat itu. Dengan sedikit berjongkok, ia mengayun pinggulnya sedemikian rupa, sehingga liang kemaluannya seolah membesot-besot batang kemaluan Benny.<br />
Yayuk pun menonton persetubuhan antara suaminya dengan istriku itu. Dan tampaknya Yayuk seperti kepanasan. Diam-diam ia menggenggam batang kemaluanku yang sudah mulai membesar, karena terangsang menyaksikan istriku sedang gila-gilanya bersetubuh dengan sahabatku. Tiba-tiba Yayuk mendekatkan wajahnya ke pahaku yang sedang bersila ini, ah…tangannya memegang batang kemaluanku sambil menjilatinya. Sungguh semuanya ini mendebarkan dadaku…terlebih setelah Yayuk menghisap-hisap penisku, di depan mata suaminya yang sedang menyetubuhi istriku!<br />
Hanya dalam tmpo singkat penisku sudah mengeras kembali. Dengan sigap Yayuk mendorong dadaku agar terlentang, lalu dengan berjongkok ia berusaha memasukkan penisku ke dalam liang surgawinya. Mungkin ia iri melihat suaminya sedang dipuasi oleh istriku dalam posisi terbalik begitu, lalu ia ingin melakukan hal yang sama. Blesss….penisku mulai membenam ke dalam liang Yayuk…<br />
Yayuk mulai memainkan pinggulnya dengan energik sekali, naik turun dan bergoyang meliuk-liuk…ooh…penisku terasa dibesot-besot dan diremas-remas. Bukan main nikmatnya, membuat nafasku tertahan-tahan sambil mulai meremas-remas payudara montok yang bergelantungan di atas dadaku…dan di bed yang satu lagi, kulihat istriku lebih energik lagi, mengenjot pinggulnya sambil berciuman dengan Benny. Ih…aku cemburu…tapi kecemburuanku ini jstru membangkitkan rangsangan dahsyat di jiwaku.<br />
Sulit menggambarkan keadaan yang sebenarnya saat itu, karena aku juga sudah dipengaruhi alkohol, dari tequila yang kami minum tadi. Yang jelas, sepulangnya dari villa itu, Lina terus-terusan menyandarkan kepalanya di bahuku. Kujalankan mobilku dengan kecepatan sedang-sedang saja, karena ingin sambil berbincang dengan istriku.<br />
“Bagaimana kesanmu, Lin?” tanyaku di satu saat.<br />
“Gak tau ah…” Lina menggeleng, tapi kulihat ada senyum di bibirnya.<br />
“Suka kan? Bilang aja terus terang. Semuanya ini kan demi kenikmatan kita bersama.”<br />
“Mas sendiri, suka kan bisa menggauli Yayuk?”<br />
“Hmm…terus terang, aku lebih suka melihatmu sedang digauli oleh Benny. Ada perasaan cemburu, tapi cemburu itulah yang membuatku jadi sangat terangsang.”<br />
Lina terdiam. Lalu kataku, “Makanya satu saat nanti bisa aja kita undang Benny tanpa istrinya.Atau bisa juga orang lain…biar aku bisa melihatmu digauli lelaki lain yang akan menimbulkan rangsangan hebat bagiku.”<br />
Lina menatapku dengan ekspresi aneh. Lalu tanyanya, “Emang Mas gak tersiksa kalau aku digauli orang? Buatku, semuanya ini aneh…”<br />
“Memang aneh,” sahutku sambil tersenyum, “tapi kamu suka kan?”<br />
Dia tak menjawab. Matanya lurus memandang ke depan.<br />
“Bilang aja terus terang, kamu suka kan? Seharusnya semua itu jadi pengalaman fantastis buat kita. Bener kan?”<br />
“Iya sih…tapi aku takut akibatnya di kemudian hari…”<br />
“Misalnya?”<br />
“Ya…misalnya Benny…sudah telanjur merasakan tubuhku. Bagaimana kalau nanti ketagihan?”<br />
“Kasih aja. Asal di depan mataku, jangan sembunyi-sembunyi.”<br />
Lina menatapku dengan sorot aneh, “Mas gak sakit hati melihatku digauli sama Benny?”<br />
“Gak,” aku menggeleng, “kan semuanya yang sudah terjadi tadi sudah kurundingkan dengan Benny beberapa hari yang lalu.”<br />
“Jadi semuanya itu benar-benar sudah direncanakan sama Bang Benny?”<br />
“Ya. Memang tadinya usul itu datang dari dia. Dan aku sangat tertarik pada usulnya itu. Bukan karena tertarik pada Yayuk, tapi justru ingin menyaksikan kamu di gauli orang lain. Kebetulan aku tahu persis siapa Benny. Dia bersih, tak pernah jajan dan sebagainya.”<br />
“Terus…nantinya kita akan begitu lagi, maksudku…ngajak Benny dan Yayuk lagi?”<br />
“Semuanya kuserahkan padamu. Karena dalam hal ini kamulah yang harus memutuskan. Dan gak usah di villa itu saja. Bisa juga kita pilih hotel di dalam kota. Dan gak usah di hari libur saja. Kapan saja kita mau, ya kita lakukan.”<br />
“Ntar kalau aku ketagihan gimana?” tanya Lina malu-malu.<br />
Rupanya kejadian di villa itu membuatnya terkesan dan ada kemungkinan ketagihan. Ini mendebarkan. Seandainya dia benar-benar ketagihan, apakah mentalku sudah siap? Ah, sudah kepalangan basah, aku mau jalan terus…karena aku merasakan beberapa hal positif di balik langkah “baru” ini!<br />
Di hari-hari berikutnya, aneh…tiap kali aku membayangkan kejadian di villa itu, membayangkan istriku sedang disetubuhi oleh Benny, nafsuku mendadak bangkit. Lalu kuajak istriku bersetubuh. Anehnya lagi, tiap kali aku bersetubuh dengan istriku, aku jadi powerfull dan energik sekali.<br />
Pernah istriku berkata seusai bersetubuh denganku, “Sekarang Mas jadi garang banget…kenapa Mas? Pake obat ya?”<br />
“Obatku datang dari jiwaku sendiri. Tiap kali membayangkan kamu lagi disetubuhi oleh Benny, hasratku bangkit dengan hebatnya.”<br />
“Masa sih? Apa bukan karena terbayang sintal dan seksinya tubuh Yayuk?”<br />
“Nggak,” aku menggeleng, “sungguh. Untuk membuktikannya, nanti kita ajak Benny saja, tanpa kehadiran Yayuk. Biar kamu percaya, titik syurnya justru waktu menyaksikan kamu digauli Benny.”<br />
“Nggak ah. Nggak enak sama Yayuk dong. Rasanya kita seperti menghianati dia. Kan kita sudah sepakat untuk jalan berempat terus.”<br />
“Aku gak butuh Yayuk, aku butuh Benny.”<br />
Lina menatapku dengan sorot penuh selidik. Lalu tertunduk, seperti sedang berpikir. Lalu kataku, “Kalau ada orang selain Benny, kamu mau?”<br />
Lina menatapku lagi. “Takut ah…kalau orangnya punya penyakit kotor bisa menular nanti.”<br />
“Orangnya kamu pilih sendiri deh,” kataku sambil memperhatikan reaksi istriku.<br />
“Bener nih boleh milih sendiri?” tanyanya canggung.<br />
“Bener.”<br />
“Gak usah jauh-jauh Mas…kalau Troy gimana?”<br />
Aku terkejut. Dia memilih adik kandungku!<br />
Tapi apa salahnya?<br />
“Hmm…pengen nyobain brondong ya?” kataku sambil mencolek pipi istriku.<br />
“Bukan gitu, masalahnya biar rahasia kita gak nyebar ke luar Mas.”<br />
Aku setuju. Troy adalah satu-satunya adik kandungku. Dia masih tergolong abg. Dia tinggal di kota lain dan kuliah di kota itu, baru semester pertama. Usianya memang jauh beda denganku. Saat istriku mengajukan namanya, usia Troy baru 18 tahun.<br />
“Oke!” aku mengangguk sambil memijat no hp Troy.<br />
Lina cuma bengong. Mungkin tak menyangka akan secepat itu.<br />
“Hallo, Mas?” terdengar suara Troy di hpku.<br />
“Gimana sehat Troy?”<br />
“Sehat Mas. Besok libur 3 hari, nanti sore mau ke rumah Mas ya. Kangen sama Bernard. Sudah bisa jalan dia?”<br />
“Sudah dong. Ya udah, nanti sore kutunggu ya.”<br />
“Siap Boss!”<br />
Aku tersenyum mendengar ucapan “siap boss” itu. Memang sejak aku yang membiayai kuliahnya, ia sering memanggilku boss.<br />
“Nanti sore dia datang,” kataku sambil menepuk bahu istriku.<br />
“Secepat itu?” istriku tercengang.<br />
“Kebetulan aja, dia mulai besok libur 3 hari. Jadi mulai nanti malam mau nginep di sini.”<br />
“Terus…aku harus gimana? Masa aku langsungajak Troy begituan?”<br />
“Mmm…gimana ya? Mungkin juga Troy gak mau kalau ada aku….tapi gampang deh…kupasangin kamera cctv aja di kamar, terus aku monitor sambil ngumpet.”<br />
“Terus?”<br />
“Kamu rayu aja dia sampai mau. Bilangin aku gak ada, padahal aku ada di gudang sambil monitor di sana. Hmmm…kebayang nafsunya aku nanti waktu lihat kamu disetubuhi sama si Troy…!”<br />
“Ah…Mas ada aja akalnya….”<br />
Dan itulah yang kulakukan. Dengan sigap kupasang kamera cctv, dengan posisi menghadap ke tempat tidur. Monitornya kusimpan di gudang. Kuambil kursi untuk aku duduk di depan monitor.<br />
Tidak sampai sejam, semuanya beres. Kameranya kusembunyikan di dalam lemari, lalu ada lubang kecil yang langsung mengarah ke tempat tidur. Soundnya kupasang terpisah, mikrofon kusimpan di balik lukisan, untuk memantaunya aku pakai headphone di gudang.<br />
Ketika bunyi motor Troy terdengar memasuki pekarangan, aku sudah duduk di dalam gudang, menghadapi monitor. Lalu terdengar suara istriku menyambutnya. Pada saat yang sama, hpku yang disilent berkedip-kedip. Ada sms masuk. Aku agak kaget, karena sms itu datang dari Yayuk, bunyinya: Mas Janus…aku kok jadi kangen gini sih? Kapan kita ketemuan tanpa mereka? Aku pengin nyantai Mas. Kebetulan Bang Benny besok mau ke Medan. Mas datang ya ke rumahku besok malam. Jangan takut sama Bang Benny. Aku sudah dapat izin kapan saja ketemu sama Mas Janus boleh. Izinnya cuma dengan Mas Janus, dengan orang lain tidak boleh.</p>
<p>Aku tersenyum sendiri membaca sms itu, lalu kubalas dengan sedikit gombal : Aku juga kangen sama Yayuk…tapi besok aku harus lihat-lihat dulu apakah besok ada kegiatan atau tidak. Aku siap kok….waktu di villa terasa sekali Yayuk itu…hmmm…pokoknya nikmat sekali…!</p>
<p>Yayuk membalas lagi: Ah yang bener? Kirain aku saja yang merasakan seperti itu. Tapi janji ya, selama Bang Benny di Medan, Mas harus datang ke rumahku.</p>
<p>Kujawab lagi: Iya sayang, aku pasti datang!</p>
<p>Waktu smsan itu mataku tetap tertuju ke monitor. Kamarku masih kosong. Mungkin Troy masih ngobrol dengan istriku di ruang depan.</p>
<p>Tak lama kemudian kulihat di monitor sudah ada “kehidupan”. Troy masuk ke dalam kamarku bersama istriku. Cepat kupasangkan headphone di telingaku. Dan terdengar suara mereka:<br />
“Kamar mandi yang di belakang gak ada shower air panasnya, Troy. Makanya enak di kamar mandi yang ini.”<br />
“Iya Mbak. Ohya, Mas Janus kapan pulangnya?”<br />
“Gak tau. Tapi kayaknya sih tengah malam nanti, atau mungkin juga besok pagi langsung ke kantor, pulang ke sini besok sore.”</p>
<p>“Oh gitu…aku mau mandi dulu ya Mbak.”<br />
“Iya. Perlu ditemenin nggak?”<br />
Troy tampak kaget, menatap istriku yang mendadak bersikap centil. “Ah, Mbak Lina…ada-ada saja.”<br />
“Lho…aku nggak main-main kok…”<br />
“Bisa dibunuh aku nanti sama Mas Janus.”<br />
“Nggak lah….nyante aja lagi…”<br />
Troy tampak bingung sesaat, lalu masuk ke dalam kamar mandi yang bersatu dengan kamarku.<br />
Pada saat yang sama, datang lagi sms dari Yayuk: Bang Benny sudah berangkat Mas. Ke rumahku dong sekarang…lagi horny…pengen sama Mas Janus…abisnya terkesan sih sama Mas…<br />
Aku tercenung. Kok jadi bentrok gini waktunya ya? Apakah aku harus pergi diam-diam ke rumah Benny? Lalu harus meninggalkan detik-detik yang mendebarkan dan siap kurekam itu?<br />
Yayuk memang sexy. Tapi saat ini aku lebih tertarik untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh Lina dan adikku. Maka kubalas sms Yayuk: Paling bisa nanti tengah malam atau besok pagi…lagi ada kerjaan yang belum bisa ditinggalin…gimana?<br />
Yayuk membalas smsku: Iya deh, kutunggu ya Mas…kalau pintu sdh pada dikunci, call aja dulu, biar kubukain…maunya sih nanti tengah malam juga gakpapa…kalau pagi kan kurang romantis…he e e<br />
Aku tersenyum sendiri. Bakalan sibuk nih aku nanti.</p>
<p>Sejenak kulupakan dulu Yayuk yang setengah memaksaku datang ke rumahnya, karena kulihat di monitor Troy sudah keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk di tubuhnya, sementara Lina sedang duduk di depan meja rias.<br />
Lalu:<br />
“Troy…tolong lepasin ritsleting ini dong,” pinta Lina sambil menunjuk ke bagian punggung gaunnya.<br />
“Mmm…aku mau pake baju dulu Mbak…”<br />
“Gak usahlah, pake bajunya nanti saja. Masa minta tolong sedikit saja pake ntar dulu?!”<br />
“Iya, iya Mbak,” sahut Troy sambil menghampiri istriku. Aku yakin ini trik yang sedang dilancarkan oleh istriku, untuk langsung menjebak Troy.<br />
Memang benar dugaanku…waktu Troy menarik ritsliting bagian punggung gaun istriku, kulihat istriku memegang tangan Troy sambil menatapnya: “Troy…”<br />
“Ya Mbak…?” Troy tampak gugup ditatap seperti itu oleh istriku.<br />
“Kamu pernah begituan sama cewek?”<br />
“Ma…maksud Mbak?”<br />
“Masa gak ngerti sih…” kulihat tangan istriku menyergap ke dalam handuk Troy, “Ininya pernah dimainkan sama cewek gak? Hihihihi…panjang gede penismu Troy…Mas Janus kalah sama kamu…sudah keras lagi…”<br />
“Mbak…ohhh…mbak….” Troy tampak gelagapan.<br />
Lina bangkit dari kursi di depan meja rias. Lalu melangkah ke pintu, menutup dan sekaligus menguncinya. Lalu balik lagi menghampiri Troy yang berdiri kebingungan, masih dengan handuk melilit di badannya.<br />
Lina melingkarkan lengannya di leher Troy. Dan terdengar suaranya, “Sudah pernah bersetubuh dengan cewek belum?”<br />
“Pernah…” sahut Troy hampir tak terdengar.<br />
Lina tersenyum, “Bagus…berarti kamu sudah pengalaman…aku lagi horny Troy…kamu mau kan? Mumpung Mas Janus gak ada…”<br />
Lina mengakhiri ajakannya dengan menarik handuk yang melilit di pinggang Troy. Ini membuat Troy langsung telanjang bulat. Dan kulihat batang kemaluannya sudah ngaceng dengan mantapnya. Aku iri juga melihat batang kemaluan Troy, yang ternyata lebih panjang dan lebih besar daripada punyaku. Baru sekali ini aku melihat bentuk batang kemaluan adikku setelah usianya hampir dewasa begitu.<br />
“Mbak…” Troy tampak kebingungan, karena Lina sudah memegang zakarnya sambil mendorong dadanya sehingga terlentang di atas tempat tidurku.<br />
Ini mulai menegangkan bagiku. Kesannya tidak seperti waktu swinger di villa tempo hari. Mungkin karena kali ini aku konsen ke satu arah, ke adegan istriku yang sedang merangsang adik kandungku!<br />
“Iiih…punyamu kok panjang dan gede gini, Troy…sudah keras sekali lagi…Mas Janus kalah nih sama punya kamu…” Lina mulai menciumi penis adikku, membuatku semakin degdegan. Terlebih ketika ia mulai melepas beha dan celana dalamnya, yang membuat Troy melotot. Aku juga melotot tegang. Penisku sudah ereksi sejak tadi, serasa mau ngecrot saja. Tapi kucoba menenangkan diri dengan menyalakan rokok dan mengikuti adegan selanjutnya.<br />
Setelah telanjang bulat, istriku menelentang di sisi Troy sambil bergumam, suaranya tidak begitu jelas. Troy mengangguk, lalu bergerak menindih dada istriku.<br />
Kusangka Troy mau langsung memasukkan penisnya ke vagina istriku. Ternyata tidak. Dia mulai mengemut-emut puting payudara istriku. Tangan istriku mulai menggapai-gapai di punggung Troy…lalu kepala Troy menurun ke arah perut istriku…turun terus sampai berada di antara kedua pangkal paha istriku. Jantungku semakin dagdigdug, kutenangkan lagi dengan sebatang rokok. Oooh, kulihat istriku mulai menggeliat dan melenguh-lenguh…Troy semakin agresif menjilati kemaluan istriku….sampai akhirnya kudengar istriku merengek, “Sudah cukup Troy…sekarang… masukin aja Troy…masukin aja sayang…..aku ingin merasakan punyamu yang tinggi besar itu….”<br />
Tapi Troy seperti keasyikan, terus2an menjilati kemaluan istriku. Sampai istriku merintih lagi, “Troy…aaaah…aku mau orga nih…Troooyyy…..aaaahhhh….”<br />
Lalu kulihat istriku mengegelepar…mengelojot dan merintih lirih…”Troooy….ooohhh…aku keluar, sayaaang….”<br />
Troy terdiam sesaat, lalu mulai naik ke atas dada istriku, sambil mengarahkan penisnya ke mulut istriku. Jelas sekali, penis Troy mulai membenam ke dalam liang kemaluan istriku yang sudah berlepotan air liur Troy, mungkin juga bercampur lendir vagina istriku sendiri.<br />
“Oooh…Troy….sudah masuk, sayang…” istriku mendekap punggung Troy.<br />
Gila, aku tak tahan melihat semuanya itu. Dan pada waktu kulihat Troy mulai mengayun batang kemaluannya, kuperiksa komputer yang sedang merekam adegan dari cctv, semuanya berjalan dengan baik. Lalu diam-diam aku keluar…<br />
Beberapa saat kemudian aku sudah berada di dalam taksi (sengaja aku tidak memakai mobilku sendiri, keluar dari rumah pun diam-diam, supaya Troy tidak menyadari kehadiranku).<br />
Setengah jam kemudian aku sudah berada di depan rumah Benny.<br />
Yayuk menyambutku dengan hangat, “Parkir di mana mobilnya, Mas?”<br />
“Pake taksi,” sahutku, “mobil sedang dipakai adikku.”<br />
Semua ini di luar skenario yang sudah kutata dengan istriku. Masalahnya aku tidak mau ganggu adikku, sementara ajakan Yayuk membuatku tertarik. Biarlah rangsangan yang kutonton dari dalam gudang tadi mau kusalurkan ke Yayuk. Mudah-mudahan saja istriku tidak marah karena aku pergi secara diam-diam begini. Aku juga ingin menikmati tubuh Yayuk tanpa kehadiran Benny. Dan tampaknya Yayuk pun sama seperti keinginanku, ingin bercinta tanpa kehadiran suaminya.<br />
Aku sudah terangsang oleh adegan Troy dengan adikku tadi. Maka ketika Yayuk menguncikan pintu depan, aku memeluknya dari belakang, “Mana pembantumu?”<br />
“Pulang,” sahutnya, “dia kan cuma kerja sampai jam empat sore.”<br />
“Jadi sekarang Yayuk cuma sendirian?”<br />
“Iya Mas…makanya aku ngajak Mas…biar ada yang nemenin…” Yayuk yang sedang mengenakan kimono putih bermotif bunga Sakura, membalikkan tubuhnya dan mencium bibirku dengan hangat.<br />
Tentu aku tak mau berdiam pasif…ketika dia meraihku ke sofa, tanganku mulai menyelinap ke belahan kimononya, langsung menyentuh payudara montoknya yang sejak tadi kuyakini tidak mengenakan beha, karena kedua putingnya tampak menonjol meski masih tertutup kimono. Terasa menghangat tubuh Yayuk setelah aku berhasil memegang payudaranya…meremasnya dengan lembut…<br />
Tak cuma itu…tanganku yg satu lagi mulai menyelinap ke balik celana dalam Yayuk, mulai menyentuh jembutnya yang lebat…mulai menyelinap ke celah surgawinya yang mulai membasah dan hangat. Napas Yayuk mulai tertahan-tahan.<br />
Apa yang sedang terjadi di antara istriku dengan Troy, terlintas-lintas terus dalam terawanganku. Pasti mereka sedang gila-gilanya memadu kenikmatan. Membuat darahku tersirap-sirap….lalu membuatku mulai ganas menggeluti tubuh Yayuk sebagai kompensasi…sampai akhirnya Yayuk mengajakku pindah ke kamarnya. Aku setuju.<br />
Di dalam kamarnya, Yayuk menanggalkan kimononya dengan senyum mengundang. Sehingga tinggal celana dalam yang melekat di tubuh tinggi montoknya itu. Dalam keadaan seerotis itu, dia meraih kedua pergelangan tanganku, dengan senyum manis di bibirnya. Aku Tak mau buang-buang waktu lagi. Kutanggalkan celana jeans dan shirtku, lalu merapat ke tubuh Yayuk dalam keadaan sama-sama tinggal bercelana dalam saja…<br />
Hawa hangat tersiar dari tubuh Yayuk ketika aku mulai menggumulinya. Sempat juga kudengar bisikannya, “Makasih Mas…Mas datang tepat pada saat aku butuh Mas…”<br />
Aku tidak menanggapinya dengan kata-kata melainkan dengan tindakan. Aku bukan orang hipokrit. Aku juga sangat membutuhkan variasi dalam kehidupan seksualku, supaya perjalanan hidupku tidak terasa hambar….<br />
Ketika tanganku mulai menyelinap lagi ke balik CD Yayuk, aku pun membiarkan tangan Yayuk menyelinap ke balik Cdku. Dan ketika tanganku mulai mengelus kemaluan Yayuk, aku pun rasakan Yayuk mulai menggenggam dan meremas batang kemaluanku dengan hangat dan lembut.<br />
“Sudah keras banget Mas,” bisiknya.<br />
“Iya…sejak smsan tadi, punyaku ngaceng terus…” sahutku bercampur dusta. Karena sebenarnya aku sedang membayangkan istriku sedang enak2nya disetubuhi oleh Troy, adikku yang masih sangat muda itu…<br />
Lalu tanpa basa basi lagi kutempelkan moncong ku di mulut Yayuk yang sudah membasah itu…secara reflex Yayuk merenggangkan kedua kakinya…dan kudorong batang kemaluanku sampai masuk sedikit…terdengar desisan mulut Yayuk sambil melotot…kukocok2 sedikit zakarku, sampai akhirnya membenam sekujurnya di dalam liang surgawi Yayuk….</p>
<h4>Cerita Panas Terbaru:</h4>,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-tukar-pasangan/istriku-dientot-benny-di-villa-puncak-daerah-cipanas-i.html" title="Cerita seru">Cerita seru</a> ,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-tukar-pasangan/istriku-dientot-benny-di-villa-puncak-daerah-cipanas-i.html" title="Cerita panas">Cerita panas</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.857 ms -->

<p><b>Cerita Seks Berhubungan:</b><ol><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-tukar-pasangan/istriku-dientot-benny-di-villa-puncak-daerah-cipanas-ii.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istriku Dientot Benny di Villa Puncak daerah Cipanas II'>Istriku Dientot Benny di Villa Puncak daerah Cipanas II</a></li><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-tukar-pasangan/binalnya-istriku-diranjang.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Binalnya Istriku Diranjang'>Binalnya Istriku Diranjang</a></li><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-tukar-pasangan/istriku-terjebak-swingging.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istriku Terjebak Swingging'>Istriku Terjebak Swingging</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-tukar-pasangan/istriku-dientot-benny-di-villa-puncak-daerah-cipanas-i.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istriku Dipijat Lelaki Lain</title>
		<link>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/istriku-dipijat-lelaki-lain.html</link>
		<comments>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/istriku-dipijat-lelaki-lain.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 11:07:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita 17 tahun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[banget]]></category>
		<category><![CDATA[cari makan]]></category>
		<category><![CDATA[coba]]></category>
		<category><![CDATA[cuti]]></category>
		<category><![CDATA[duduk]]></category>
		<category><![CDATA[gua]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[jantung]]></category>
		<category><![CDATA[karena]]></category>
		<category><![CDATA[laki laki]]></category>
		<category><![CDATA[lalu]]></category>
		<category><![CDATA[laper]]></category>
		<category><![CDATA[refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[santai]]></category>
		<category><![CDATA[seksi]]></category>
		<category><![CDATA[sepi]]></category>
		<category><![CDATA[sih]]></category>
		<category><![CDATA[suruh]]></category>
		<category><![CDATA[telapak]]></category>
		<category><![CDATA[tempat makan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapanasdewasa.com/?p=394</guid>
		<description><![CDATA[Awalnya Pada hari selasa, kebetulan gua ama istri gua cuti kerja, lalu kami berniat untuk cari makan siang. Di dekat tempat makan tersebut, ternyata ada 1 ruko pijat reflexi. Di tempat reflexi tersebut menurut penjelasan pemijatnya tidak hanya kaki saja yg di pijat tapi juga seluruh badan, dari pundak kepala, pundak sampai kaki, dan pemijat [...]


<b>Cerita Seks Berhubungan:</b><ol><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/nontonin-istri-ngentot-dengan-orang-lain.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nontonin Istri Ngentot Dengan Orang Lain'>Nontonin Istri Ngentot Dengan Orang Lain</a></li><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-tukar-pasangan/binalnya-istriku-diranjang.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Binalnya Istriku Diranjang'>Binalnya Istriku Diranjang</a></li><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/vina-mojang-bandung-yang-seksi.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Vina, Mojang Bandung yang Seksi'>Vina, Mojang Bandung yang Seksi</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Awalnya Pada hari selasa, kebetulan gua ama istri gua cuti kerja, lalu kami berniat untuk cari makan siang. Di dekat tempat makan tersebut, ternyata ada 1 ruko pijat reflexi. Di tempat reflexi tersebut menurut penjelasan pemijatnya tidak hanya kaki saja yg di pijat tapi juga seluruh badan, dari pundak kepala, pundak sampai kaki, dan pemijat nya semua laki-laki. Kebetulan pada hari biasa masih sepi dan cuma ada 2 pemijat. Ditempat itu ada 2 bilik kamar yg hanya ditutup kain untuk yang mau dipijat semuanya dan tempat beberapa tempat duduk untuk yang mau dipijat kakinya saja .</p>
<p>Kita berdua akhirnya masuk kesana untuk coba pijat reflexinya, tp karena gua laper banget, makanya gua suruh istri gua masuk dan gua cari makan. Sebelum pergi gua liat dulu seperti apa sih dipijatnya, istri gua yg memang hanya memakai celana pendek dan kaos tanpa lengan, memang keliatan seksi sekali. Istri gua kemudian berbaring dengan santai dan pertama2 memang dipijit telapak kaki, setelah beberapa saat memperhatikan kemudian gua pamitan untuk cari makan di keluar.</p>
<p>Setelah selesai makan, gua balik lagi ke tempat refleksi itu, dan gua liat tidak ada orang lagi di depan, jadi gua langsung masuk ke dalam, karena tidak mau menggangu gua hanya duduk2 di depan bilik kamar istri gua. Sekilas gua dengar suara leguhan istri gua, tp itu mungkin karena enak di pijit, tapi karena penasaran akhirnya gua coba intip di balik kain bilik kamar tsb. ternyata istri gua memang sedang menikmati pijatan sang pemijat.</p>
<p>Pemijat tsb. mulai memijat paha istri gua yang putih, pemijat itu meminta agar istri gua tidur tengkurap mengharap tempat tidur. Lalu pemijat itu trus memijat paha istri gua, kemudian meminta dengan sopan agar celana pendek nya di buka saja, karena agak menggangu. Istri gua pertama menolak, tp karena di kasih keterangan yang menyakinkan akhirnya celana istri gua dibuka juga, tp dengan syarat ditutup selimut. Waktu gua liat istri gua buka celana, langsung jantung gua berdebar kencang, ada perasahaan suka melihat istri gua di sentuh oleh lelaki lain.</p>
<p>Setelah ditutupi kain putih, si pemijat juga langsung mulai memijat di daerah paha, gua liat sempat menyentuh pantat nya dan daerah V nya, istri gua mungkin percaya sama si pemijat atau memang sedang menikmati, krn dia tidak protes sama sekali, dan ini membuat si pemijat trus memijat daerah paha dan sekitarnya. Melihat itu gua jadi tambah gila, sambil menggosok si adik yg memang sudah tegang berat.</p>
<p>Si pemijat mungkin sengaja atau tidak, membuat kain penutupnya agak terjatuh, sehingga dia bisa melihat langsung paha istri gua yang putih mulus, dengan dibungkus cd saja. Sempat si pemijat terdiam melihat pemandangan tsb. dan gau perhatikan juga ada tanda basah di cd istri gua. Tanpa sadar istri gua , mungkin juga keenakan, trus dipijat tanpa dilindungi kain, ini membuat si pemijat makin berani mencoba meijat daerah pantat dan selankangan istri gua.</p>
<p>Akhirnya si pemijat mengambil kembali kain yg jatuh dan menutupi badan istri gua lagi, tp yg buat gua kaget, si pemijat meminta istri gua untuk membuka bajunya karena akan di pijat daerah punggung dan leher, setelah di beri penjelasan akhirnya istri gua membuka bajunya sambil masih tiduran, jadi si pemijat tidak melihat krn ditutupi kain. istri gua sekarang hanya menggunakan bh dan cd saja, ntah apa yang membuat dia berani spt itu, apa ada hipnotis ya? tp gua sangat menikmati pemandangan ini.</p>
<p>Setelah beberapa saat memijat daerah punggung, si pemijat meminta ijin untuk membuka kain krn ingin dikasih minyak punggungnya, istri gua hanya mengganguk saja, tp tanpa sadar kali, si pemijat juga membuka bra istri gua dan anehnya istri gua diam saja. Lalu si pemijat mulai menggosok punggung istri dan gua intip si pemijat juga kadang2 melihat pinggiran tete istri gua yg keliatan dan juga sempat menyentuh nya,krn bh nya sdh terlepas ke samping.</p>
<p>Kemudian si pemijat memijit leher dengan sentuhan yang lembut, kayaknya ini membuat istri gua terangsang, terdengar dari suaranya yang mendesah. Melihat situasi itu si pemijat kemudian mencoba membuka kain dan mulai memijat daera pantat adn sekitarnya dan ini membuat istri gua tambah terangsang keliatan sekali cd nya yg ada tanda basah.</p>
<p>Kemudian si pemijat dengan sopan membuka cd istri gua tanpa ijin lagi, dan dia memulai aksinya dengan menggosok gosok daerah selangkangan istri gua. Istri gua sempat bilang jangan tapi si pemijat itu dengan lembut mengatakan tidak apa2 nikamati saja. Gua bingung kok istri gua nurut saja, ada perasaan cemburu tp masih kalah dengan rangsangan hebat melihat istri gua di sentuh oleh orang lain (apa ini kelainan ya?).</p>
<p>Si pemijat sambil membuka celananya dengan 1 tangan krn tangan yg 1 lagi masih menggosok2 daerah clitoris di selangkangan istri gua. Terlihat kontol si pemijat sudah ngaceng berat dan ukurannya cukup besar dengan bulu2 yg tidak terlalu lebat, mungkin baru di cukur, ketika akan membuka baju nya, si pemijat mengkat pantat istri gua sedikit dan langsung menjilat nya, sehinggan dia dapat membuka bajunya. Istri gua yang di jilat meki nya langsung keliatan spt tersengat aliran listri, dan tidak berapa lama kemudian keliatan istri gua mengejang krn klimaks nya.</p>
<p>Si pemijat tersenyum sinis, krn telah berhasil membuat istri gua klimaks. Setelah sama2 telanjang kemudian si pemijat membalikan badan istri gua, sehinggan kelihatan lah payudaranya yg indah dengan putih berwarna hitam yg sdh menegang, tp dengan masih malu2 istri gua menutupi dadanya dan bilang takut suaminya datang, dan dengan halus si pemijat bilang tidak usah takut krn gua masih sendang makan di luar. Akhirnya karena rangsangan yang hebat , istri gua membuka tangannya dan oleh si pemijat tangan istri gua di pegang ke samping kepala istri gua, sehinggan dengan leluasa si pemijat bisa melihat dada adn ketiak istri gua yang mulus dan wangi.</p>
<p>Si pemijat mungkin penggemar ketiak karena ketiak istri gua di jilat dan di ciumi terus, sehingga istri gua kegelian dan terangsang hebat. Kemudian si pemijat mulai melepas tangan istri gua tp posisi tangannya tetap terlentang di samping kepala, lalu mulai menciumi payaudara istri gua yang masih kencang krn kami blm mempunyai anak. Istri gua keliatan sangat menikmati puting nya di isap dan di jilat.</p>
<p>Setelah selesai menikmati payudara istri gua dia mulai menjilat vagina istri gua yg sdh basah, krn mungkin sdh tidak tahan, akhirnya si pemijat ingin memasukkan kontol nya tp sebelumnya dia melap vagina istri gua, mungkin karena sdh basah dengan cairan vagina dan ludah nya. ketika mau masuk istri gua keliatan agak kaget mungkin karena agak sakit sebab kontolnya si pemijat lebih besar dari gua punya, mungkin itu yang ingin dirasakan oleh istri gua. Istri gua pernah bilang kontol gua ngak besar dan dia kurang menikmatinya, tp mau gimana lagi, krn sdh dikasih seperti ini.</p>
<p>Si pemijat akhirnya berhasil memasukan kontolnya dan mulai menyodoknya serta tidak lupa menciumi payudara istri gua dan juga ketiaknya secara bergantian. Gua yang sdh tidak tahan akhirnya mengocok dan mengeluarkan mani gua di sapu tangan yg gua bawa. Si pemijat setelah 10 menit keliatan mau klimaks, istri gua bilang jangan di buang didalam, akhirnya si pemijat mencabut kontolnya dan membuang mani nya di badan istri gua, sampai kena ke muka istri gua. Istri gua keliatan puas sekali.</p>
<p>Setelah istrihat sebentar gua liat mereka langsung beres2 dan si pemijat dengan mesra me lap air main di tubuh dan muka istri gua serta memakaikan bh istri gua dengan meremas remas lagi dan mencium leher istri gua dengan mesranya. karena takut gua dateng maka, mereka memberekan semuanya<br />
dengan rapi, gua diam diam langsung keluar, dan kemudian masuk lagi, gua liat istri gua dengan wajah cerah, sedang duduk dibangku ruang tunggu dan mengajak gua pulang. </p>
<h4>Cerita Panas Terbaru:</h4>,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/istriku-dipijat-lelaki-lain.html" title="Cerita panas">Cerita panas</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.324 ms -->

<p><b>Cerita Seks Berhubungan:</b><ol><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/nontonin-istri-ngentot-dengan-orang-lain.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nontonin Istri Ngentot Dengan Orang Lain'>Nontonin Istri Ngentot Dengan Orang Lain</a></li><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-tukar-pasangan/binalnya-istriku-diranjang.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Binalnya Istriku Diranjang'>Binalnya Istriku Diranjang</a></li><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/vina-mojang-bandung-yang-seksi.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Vina, Mojang Bandung yang Seksi'>Vina, Mojang Bandung yang Seksi</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/istriku-dipijat-lelaki-lain.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalaman Seks One Night Stand</title>
		<link>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/pengalaman-seks-one-night-stand.html</link>
		<comments>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/pengalaman-seks-one-night-stand.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 16:06:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita 17 tahun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[aneh]]></category>
		<category><![CDATA[bintaro]]></category>
		<category><![CDATA[bisa]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta selatan]]></category>
		<category><![CDATA[jalan kaki]]></category>
		<category><![CDATA[kok]]></category>
		<category><![CDATA[lho]]></category>
		<category><![CDATA[manis]]></category>
		<category><![CDATA[minum]]></category>
		<category><![CDATA[mulus]]></category>
		<category><![CDATA[nyaman]]></category>
		<category><![CDATA[One Night Stand]]></category>
		<category><![CDATA[One Night Stand in jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman One Night Stand]]></category>
		<category><![CDATA[pondok indah mall]]></category>
		<category><![CDATA[religius]]></category>
		<category><![CDATA[sangat]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[seks One Night Stand]]></category>
		<category><![CDATA[sih]]></category>
		<category><![CDATA[suka]]></category>
		<category><![CDATA[telekomunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[upa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapanasdewasa.com/?p=391</guid>
		<description><![CDATA[Hari sudah sore ketika aku tiba di terminal Lebak Bulus. Hari itu hari terakhirku menjadi bujangan. 4 hari lagi, aku akan menikahi Mei, kekasihku selama 6 tahun. Hari ini aku pulang ke Jogja, ke tempat kelahiranku untuk bertemu dengan keluarga.
Hidupku sungguh sempurna. Tepat setelah aku lulus dari kuliah, aku mendapatkan kerja yang cukup nyaman di [...]


<b>Cerita Seks Berhubungan:</b><ol><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cerita-seks-pengalaman-sexografy-diri-seorang-remaja.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cerita Seks, Pengalaman Sexografy Diri Seorang Remaja'>Cerita Seks, Pengalaman Sexografy Diri Seorang Remaja</a></li><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cerita-panas-pengalaman-variasi-dalam-bercinta.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cerita Panas Pengalaman Variasi Dalam Bercinta'>Cerita Panas Pengalaman Variasi Dalam Bercinta</a></li><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cerita-panas-pengalaman-variasi-dalam-bercinta-bagian-dua.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cerita Panas Pengalaman Variasi Dalam Bercinta Bagian Dua'>Cerita Panas Pengalaman Variasi Dalam Bercinta Bagian Dua</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari sudah sore ketika aku tiba di terminal Lebak Bulus. Hari itu hari terakhirku menjadi bujangan. 4 hari lagi, aku akan menikahi Mei, kekasihku selama 6 tahun. Hari ini aku pulang ke Jogja, ke tempat kelahiranku untuk bertemu dengan keluarga.</p>
<p>Hidupku sungguh sempurna. Tepat setelah aku lulus dari kuliah, aku mendapatkan kerja yang cukup nyaman di sebuah perusahaan telekomunikasi cukup besar daerah Jakarta Selatan. Tinggal jalan kaki ke Pondok Indah Mall. Mei, calon istriku, kemudian menyusul ke Jakarta dan bekerja di sebuah bank di Bintaro. Perjalanan cinta kami bisa dibilang cukup mulus. Benar-benar sebuah hidup yang sempurna. Aku pun bukan orang yang aneh-aneh. Aku dibesarkan dalam keluarga yang cukup religius dan sangat teratur. Sepanjang sejarah kehidupanku, bisa dihitung berapa kali aku melanggar aturan atau norma. Kenakalanku paling besar hanyalah minum tomi (topi miring in case you&#8217;re wondering) dan sedikit magadon, waktu acara naik gunung di SMA. Tapi itu dulu.</p>
<p>Hampa kadang terasa. Hidup serasa jalan tol, tanpa rintangan, mulus tanpa gejolak, penuh aturan. Kadang aku ingin, sekali-kali memberontak, melanggar aturan. Sekali dalam seumur hidup.</p>
<p>Aku beranjak di tengah kerumunan calo-calo untuk mencari busku. Sumber Alam. Langgananku selama 2 tahun terakhir.</p>
<p>&#8220;Mbak, Sumber Alam yang Bisnis belum datang ya?&#8221; tanyaku kepada seorang petugas loket. Manis juga. Item manis sih tepatnya.<br />
&#8220;Dereng mas, jogja ya? Mangke setengah jam malih &#8230;,&#8221; Lho, kok bahasa jawa?<br />
&#8220;Nuwun nggih mbak.&#8221;</p>
<p>Aku duduk menunggu. Asap bus benar-benar menyesakkan. Aku merasakan diriku sesak napas. dari dulu memang aku tidak pernah suka keramaian dan kesesakan Jakarta. Tapi kepepet sih, harus cari upa (&#8221;cari nasi&#8221;) di Jakarta.</p>
<p>Tak lama kemudian bis itu datang juga. AB 7766 BK. Aku bergegas naik. 14A. dua tempat duduk. Aku sengaja mencari tempat duduk persis di bawah AC. Biar bisa tidur lelap. Aku segera menutup mata. Mengurangi kebisingan akibat lalu lalang orang mencari tempat duduk.</p>
<p>&#8220;Mas, mas, maaf &#8230;,&#8221; ada suara merdu rupanya. Aku membuka mataku.<br />
&#8220;Maaf, apa boleh tukeran sama suami saya? Suami saya dapat tiket tempat duduk di seberang. Soalnya beli tiketnya baru aja tadi.&#8221;</p>
<p>Aku melihat ibu yang menyapa tadi. Kemudian melihat suaminya yang tersenyum mengangguk kepadaku di seberang kursi kami, menggendong anak yang kira-kira berusia 5 tahun.</p>
<p>&#8220;Aduh, bu, maaf, bukannya saya tidak mau, cuman memang saya sengaja memilih tempat di bawah AC ini bu. Maaf ya,&#8221; jawabku agak keberatan. Bukannya apa-apa, tapi aku paling tidak suka diganggu dengan masalah orang yang telat membeli tiket seperti pasangan ini.</p>
<p>Ibu itu cemberut. &#8220;Ya sudahlah pa, kita ngalah aja. Aku duduk di sampingnya mas ini aja.&#8221;</p>
<p>Whatever. aku kembali menutup mataku.</p>
<p>Perjalanan ini sesungguhnya bakal menyenangkan, kalau tidak harus mendengar rengekan anak 5 tahun yang sepertinya tidak pernah diam itu. Belum lagi suara ibu-ibu di sebelahku ini, yang ya ampun, cerewetnya. Aku jengkel banget.</p>
<p>Hujan mulai turun. Airnya menetes membentuk alur di kaca jendelaku. Masih terjebak di Cawang. Sial.</p>
<p>Untung Cikampek tidak macet. Kendaraan mulai menderu, bertambah cepat. Kulihat tebaran warna hijau ditimpali air hujan yang begitu deras di sebelah kiri jalan tol. Suara air hujan menderu keras sekali di atas atap. Orang-orang sudah mulai menampakkan kantuk, dan sepertinya suasana menjadi begitu sepi. Uh, begitu romantis. Kalau saja Mei di sampingku, pasti kepalanya sudah bersandar di bahuku, dan tangannya memeluk lenganku. Kalau saja &#8230;.</p>
<p>Aku memandang ke samping. Ibu itu kini sedang sibuk memberikan makan kepada anaknya. Si bapak sedang sibuk dengan PDAnya. Tipikal keluarga Jakarta, berumur di akhir 30an dan baru saja mempunyai anak. Tampaknya keluarga berada. Tapi ngapain naik bis ya? Ah, peduli amat.</p>
<p>Aku kembali menutup mataku. Hari berangsur gelap.</p>
<p>&#8220;Pengumuman, bapak ibu. Mohon maaf bahwa ada kerusakan teknis yang menyebabkan lampu tidur tidak dapat menyala,&#8221; kata kenek bus itu mengagetkan aku.</p>
<p>&#8220;huuuuu,&#8221; para penumpang menyahut serentak. Sip. aku paling tidak suka lampu tidur yang remang remang. Aku paling suka gelap. Tidurku pasti nyenyak malam ini. Perjalanan yang panjang menuju Yogyakarta.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Aku melirik jamku. Jam 9 malam. Semua orang tampaknya sudah terlelap. Tidak terkecuali ibu dan anak di sampingku. Bus tadi baru saja berhenti di tempat makan. Orang-orang makan malam dan ke belakang. Pasti mereka kekenyangan, dan acara yang paling menyenangkan setelah makan adalah tidur. Hujan masih turun, rintik-rintik. Aku melanjutkan tidurku.</p>
<p>Tidak berapa lama aku terlelap, aku merasakan kaki anak di sebelahku menyentuh kakiku. Sialan. Itu berarti sepatu anak itu kena celanaku. Aku menggeser-geserkan kakiku agar kaki anak itu tidak menekan celanaku. Tentu saja dengan mata terpejam. Tidak disangka, kaki itu balas menggesek. Eee, kurang ajar. Aku segera membuka mataku untuk menegur orang tuanya. Aku terkejut.</p>
<p>Ternyata itu bukan kaki anak kecil. Itu kaki orang dewasa. Kaki ibu itu. Si anak ternyata sudah tidak ada di pangkuan dia. Kemungkinan ada di pangkuan si bapak. Aku segera menutup mataku, pura-pura tidur. Perasaanku mengatakan ada sesuatu yang lain yang akan terjadi. Aku kembali menggesekkan kakiku, menunggu responsnya. Dan ibu itu balas menggesek. Aku sedikit membuka mataku. Kilatan cahaya dari luar bus memberikan sedikit penglihatan mengenai ibu di sampingku. Matanya juga terpejam ternyata.</p>
<p>Tiba-tiba ibu itu menggeser sedikit tubuhnya. Ya, kearahku. Kami berdua menjadi duduk berdempetan. Sisi samping kananku menempel pada bagian kiri tubuhnya. Harum rambut dan parfumnya mulai merasuki hidungku. Aku mulai terangsang.</p>
<p>Aku mencoba untuk lebih berani. Tubuhku aku condongkan sedikit ke depan, dan kemudian aku bergeser ke arahnya. Sehingga posisi saat itu, lenganku tepat di depan dadanya. Tubuh itu diam saja. Lenganku kemudian ku tekan sedikit ke belakang, sehingga aku bisa merasakan sesuatu yang begitu empuk. Ya, payudaranya. Payudaranya besar. Aku bisa merasakan volumenya ketika lenganku menggeseknya. Dan sangat empuk. Sikuku kemudian membuat gerakan melingkar di dadanya. Pelan sekali, sikuku bergerak. Aku tidak mau membuat ia berpikir macam-macam dan kemudian menamparku.</p>
<p>Tubuh itu diam saja. Kulirik matanya. masih terpejam. Tapi aku mendengar dia menghela napas. Jadi ia terangsang. Aku? sangat terangsang. Aku merasakan dadaku berdentum-dentum. Kepalaku berputar-putar karena aliran darah yang sangat cepat ke otakku. Aku bisa mendengar degup jantungku di telingaku sendiri. Aku akan melakukan dosa. 4 hari sebelum pernikahanku. Sepanjang sejarah hidupku. Tapi perasaan itu, nafsu itu, benar-benar membuat aku tidak tahan &#8230;..</p>
<p>lenganku terdiam sebentar dari kegiatan menggesek dadanya. Yang lebih mengejutkan lagi, tangan ibu itu mulai mengelus pahaku. ya, pahaku yang dibalut celana panjang kain warna coklat. Tangannya sangat perlahan mengelus kakiku dari mulai pangkal paha sampai atas lutut. Aku gemetar. Sangat gemetar. Aku tidak tahan &#8230;&#8230;</p>
<p>Sekarang posisiku berubah. Aku membuka tas dan mengambil sweater. Aku sudah memakai jaket tentu saja, karena aku tidur di bawah AC. tapi sweater tadi untuk maksud lain. Sweater tadi kemudian aku tutupkan di atas dadaku, dan kemudian tanganku kulipat. Apabila dililhat dari jauh, seperti orang yang tangannya kedinginan karena AC. Tapi bukan itu alasannya. Aku beringsut lagi mendekati tubuhnya. Tangan ibu itu masih mengelus pahaku. Kami berpandangan sebentar. Lucunya, setelah itu kami berdua kembali bersender pada tempat duduk kami dengan mata terpejam. Tanganku mulai beraksi. Tangan kiriku yang tadi dilipat mulai bergerak ke arah dadanya. Sangat pelan. Tangan itu mulai menyusuri bukit indah yang tertutup kain, mulai dari tepi. Aku sangat menghayati momen itu. Pelan-pelan kuelus bukit indah itu, dari tepi ke kanan. Sedikit ku remas, tapi tidak banyak. Aku tidak mau menyakiti bukit indah itu. Sungguh, ibu itu mempunyai dada yang sempurna. Besar, dan sangat kenyal. Aku merasakan bahwa dia memakai BH yang berenda. Aku membayangkan bentuknya. Mungkin warnanya hitam. Atau merah. Dan rendanya sedikit tembus pandang. Mungkin cupnya cuma setengah. Mungkin cupnya tidak bisa menahan volume payudara sebesar itu. Oooh, aku semakin terangsang.</p>
<p>Ibu itu mengenakan baju jeans terusan dengan bawahan rok dengan kancing dari dada sampai di lutut. Kain jeansnya untungnya kain yang lemas, sehingga aku bisa merasakan tekstur renda BHnya. Sangat merangsang. Aku melirik sedikit ke arah dia. Dia masih terus mengelus pahaku. Aku tidak sabar. Tangan kananku yang nganggur kemudian memimpin tangannya ke penisku yang sudah tegang. Aha, dia mengerti. Kemudian dia berlanjut mengelus kontur penisku dengan jari telunjuk dan jempolnya yang tercetak jelas di dalam celanaku. OOoh, mantab.</p>
<p>&#8220;Besar &#8230;..,&#8221; desisnya. Matanya tetap terpejam. Mataku juga.</p>
<p>Aku melanjutkan kenakalanku. Kali ini, dua kancing tepat di depan dada besar itu aku buka. Dengan susah payah. Pernah membayangkan membuka kancing-kancing besar pada kain jeans? Yup, susah sekali. Akhirnya dia turun tangan. Tangannya kanannya membantuku membukanya.</p>
<p>Tanganku kemudian masuk pelahan ke dalam bajunya, untuk merasakan keindahan payudara di baliknya. Bayanganku memang menjadi kenyataan. BH setengah cukup yang terlalu kecil, dengan renda yang sangat merangsang. Aku suka sekali renda, terutama apabila renda itu ada di tempat yang tepat. BH dan celana dalam. Aku kembali mengelus dadanya. SEkarang aku sedikit meremasnya. Sensasinya benar-benar luar biasa. Dia mendesis. Kepalaku berdentum-dentum. Jantungku berdebar sangat keras.</p>
<p>&#8220;Buka,&#8221; bisikku lirih. Mungkin tidak terdengar. Tapi aku tidak mau mengambil resiko terdengar. Apalagi oleh suaminya yang hanya duduk 50 cm di seberangnya. Ternyata dia mendengar. Dia berhenti mengelus penisku, membungkukkan sedikit badannya, dan kemudian berusaha melepas kait BHnya di belakang. Agak lama dia membukanya. Selagi dia membuka BHnya, pelahan aku menarik ritsleting celanaku ke bawah. Pelaaan sekali. Setelah itu, aku memelorotkan celana dalamku. Tidak melorot sih sebenarnya. Cuman mengaitkan kolornya ke bagian bawah penisku. Tidak nyaman memang. Tapi sekarang penisku bisa bebas mengacung menunjuk langit. Menanti elusannya.</p>
<p>Sepertinya kait BHnya sudah lepas. Tangan dia sepertinya cerdas, kembali mencari sasarannya yang tadi lepas. Dan dia tidak kaget, kali ini penisku sudah tegak menjulang, keluar dari celana. Kemudian dia seperti terkejut dan kemudian menarik tangannya dan kemudian melipatnya di depan dada. Pura-pura tidur, sambil menutupi dua kancing dadanya yang sudah terbuka lebar.</p>
<p>Sial. ada orang mau ke toilet. dia berjalan melangkah dari depan. Untung aku ada sweater yang bisa menutupi si &#8220;burung&#8221; nakal. Aah, seorang wanita. Bakalan lama nih. Jantungku berdegup keras.</p>
<p>Lama sekali orang itu di toilet. Aku mulai tidak sabar. Penisku sudah mulai menyusut. ya iyalah, baru juga pemanasan. Kepotong deh. &#8230;.</p>
<p>Akhirnya wanita itu lewat juga di di samping kami. Uuuh, lega. Tangan ibu itu mulai duluan, menyusup di bawah sweater, mencari &#8220;adikku&#8221; yang mulai tegang lagi. hmmm. Tangannya sungguh mulus, dan sentuhannya, benar-benar nikmat. Dia tahu betul cara merangsang penis dengan sentuhan. Sentuhan itu ringan, seperti melayang. Dia tidak meremas, atau menggosok terlalu keras. semuanya serba ringan dan melayang. Dan itu membuatku melayang.</p>
<p>Tanganku juga tidak mau kalah, seperti mempunyai mata sendiri yang bergerak mencari sasarannya. Si bukit kembar yang kenyal. Dan tangan itu menemukan sasarannya. Dada itu benar-benar lembut. Mulus tak bercela. Aku meresapi setiap jengkal usapan tanganku di dadanya. Meremas pangkal dadanya. Memilin putingnya. Putingnya. Putingnya runcing, ukurannya luar biasa, sepanjang buku jari telunjukku. Dan keras. Sangat keras. Sperti penis kecil. Aku memilinnya. lagi. Dan dia mendesis.</p>
<p>&#8220;jangan keras-keras,&#8221; bisiknya sangat lirih. AKu mengerti. Aku meremas, memilin, mengelus tanpa henti. Benar-benar nikmat.</p>
<p>Tapi tetap ada yang kurang. Kami berdua tidak terpuaskan. Penisku tetap tegang luar biasa. Dan rasanya mulai sakit sekarang. berdenyut-denyut ga karuan. Tangannya masih tetap mengelus penisku, tapi sungguh, tangan itu tidak mampu membuat aku nikmat terus-menerus. Dia mengerti hal itu.</p>
<p>&#8220;Ke bawah &#8230;.,&#8221; bisiknya sambil mengarahkan tanganku yang tadi ada di dadanya ke arah bawah. Aku langsung tanggap. Tanganku berubah posisi, mengelus pahanya yang tertutup kain jeans. Tidak berasa memang. Tapi dari gerakan tubuhnya aku tahu, dia sangat terangsang. Dia berulangkali menggerakkan tubuhnya, seolah menikmati betul elusan tanganku di pahanya. Pelan-pelan aku naik sedikit ke atas, tepat di gundukan di bawah pusar itu. Dia menahan tanganku.</p>
<p>&#8220;Jangan &#8230; &#8221;</p>
<p>Aku nekat.</p>
<p>&#8220;Jangan &#8230;&#8221; Ok. Aku turuti. Aku kembali mengelus pahanya. Kali ini tanganku lebih berani. Kupegang ujung roknya dan kunaikkan sedikit ke atas. Dia tidak menolak. Aku kembali mengelus pahanya. Hhhm, sungguh mulus. Benar-benar mulus. Aku merasakan bulu-bulu halus di telapak tanganku. Dia terengah-engah. Tangannya sejak dari tadi berhenti mengelus penisku. Tak apa. lebih baik begitu daripada menyiksa &#8220;adikku&#8221; yang sudah tegang luar biasa.</p>
<p>Aku tiba-tiba menghentikan elusanku dan menarik tanganku. Kemudian memandang ke arah dia. Matanya bertanya. Menanyakan mengapa aku menghentikan itu.</p>
<p>&#8220;Aku mau itu,&#8221; bisikku mendekat di telinganya, sambil menunjuk ke arah gundukan tempat vaginanya berada.</p>
<p>Dia menggeleng. Aku kemudian berpura-pura tidur. Memejamkan mata.</p>
<p>Lama sekali. Mungkin 5 menit, mungkin kurang dari itu. Tangannya menarik tanganku dan mengarahkannya ke tempat yang aku inginkan. Hehehehe, aku menang. Dia tidak tahan. Tanganku sudah berada tepat di atas gundukan itu. Dia membuka kancing bajunya tepat di area itu. Tanganku bergerak mencari celana dalamnya. Dapat.</p>
<p>Jelas, ini sutra. Atau Satin? aku tidak peduli. bahan kain celana dalamnya halus sekali. aku merabanya. memastikan. Terus ke bawah, dan kutemukan apa yang kucari. Sesuatu itu sudah basah. Pasti basah, karena aku merasakannya dengan tanganku. Tanganku berhenti di situ. Merasakan bentuknya. Sedikit bergelombang. Aku merasakan lipatan vertikal. Bulu-bulu halus di sekitarnya. Cukup tebal. dan sangat basah. Aku tersenyum kembali. Penuh kemenangan. Jari tengahku kemudian mengelus lipatan basah itu. Pelan, tapi sedikit menekan. Dia mendesis. Oh tidak. Dia melenguh. Tetap memejamkan matanya.</p>
<p>Aku makin berani. Celana itu aku pegang elastisnya. dan aku turunkan ke bawah. Dia memegang tanganku. Aku tetap berkeras. Dia menyerah.</p>
<p>Kembali jari tengahku mencari tempat tadi. Jari itu mencari sumber kenikmatan seorang wanita. Sebuah penis kecil yang sudah amat basah. Aku menggoyangnya pelan dengan jariku. Kemudian mengelusnya. Kemudian menekannya. Tubuhnya menegang.</p>
<p>Aku kembali mengelusnya. Pelan dan sedikit menekan. Pelan dan sedikit menekan. Tempat itu terasa lebih basah daripada sebelumnya. Jariku masuk lebih ke dalam. Merasakan lipatan lain di dalam yang sangat basah. Benar-benar basah. Rongga itu seperti tidak berujung. Kemudian jariku kugerakkan. ke dalam dan ke luar. Berulangkali.</p>
<p>Aha, aku merasakan jariku seperti tersedot ke dalam. Ada sesuatu yang mencengkeram. Dan rasa itu kembali membuatku terangsang. Aku terus menggerakkan jariku. Semakin cepat. Tiba-tiba jariku seperti ditumpahi cairan hangat. kental. Dia terengah-engah. Tubuhnya menegang. Kali ini cukup lama. Aku terus menggerakkan jariku. Dia kemudian menahan tanganku. Aku menurut. Aku memandangnya.</p>
<p>Matanya terpejam. Seperti menghayati sesuatu. Mungkin orgasme. Dadanya naik turun, terengah-engah seperti habis lari kencang. Kancing masih terbuka.</p>
<p>&#8220;Apa kau ..?&#8221;<br />
&#8220;Ya &#8230; . Luar biasa &#8230;,&#8221; bisiknya, memandang kepadaku. Oooh, senyumnya manis sekali. Matanya yang bulat besar memantulkan kilatan cahaya neon di luar bus.</p>
<p>Dia memandang ke bawah tubuhku.<br />
&#8220;Kasihan ya,&#8230;&#8221; senyumnya menunjuk ke &#8220;adikku&#8221;. Ya iyalah. &#8220;adikku&#8221; tidur nyenyak sementara dia sendiri terpuaskan. Paling tidak dengan jariku.</p>
<p>&#8220;ga papa &#8230;&#8221;</p>
<h4>Cerita Panas Terbaru:</h4>,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/pengalaman-seks-one-night-stand.html" title="in the bus : one night stand">in the bus : one night stand</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.248 ms -->

<p><b>Cerita Seks Berhubungan:</b><ol><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cerita-seks-pengalaman-sexografy-diri-seorang-remaja.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cerita Seks, Pengalaman Sexografy Diri Seorang Remaja'>Cerita Seks, Pengalaman Sexografy Diri Seorang Remaja</a></li><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cerita-panas-pengalaman-variasi-dalam-bercinta.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cerita Panas Pengalaman Variasi Dalam Bercinta'>Cerita Panas Pengalaman Variasi Dalam Bercinta</a></li><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cerita-panas-pengalaman-variasi-dalam-bercinta-bagian-dua.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cerita Panas Pengalaman Variasi Dalam Bercinta Bagian Dua'>Cerita Panas Pengalaman Variasi Dalam Bercinta Bagian Dua</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/pengalaman-seks-one-night-stand.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Ngeseks di Hotel Cirebon</title>
		<link>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cerita-ngeseks-di-hotel-cirebon.html</link>
		<comments>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cerita-ngeseks-di-hotel-cirebon.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 16:02:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita 17 tahun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[17 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[acara]]></category>
		<category><![CDATA[bego]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[bernama]]></category>
		<category><![CDATA[cerita dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[cerita dewasa 18 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[cerita online]]></category>
		<category><![CDATA[cerita seks]]></category>
		<category><![CDATA[ceritaku]]></category>
		<category><![CDATA[datang ke]]></category>
		<category><![CDATA[dokter gigi]]></category>
		<category><![CDATA[grage]]></category>
		<category><![CDATA[isya]]></category>
		<category><![CDATA[kangen]]></category>
		<category><![CDATA[kota cirebon]]></category>
		<category><![CDATA[lurus]]></category>
		<category><![CDATA[masih ada]]></category>
		<category><![CDATA[nada]]></category>
		<category><![CDATA[pacarku]]></category>
		<category><![CDATA[rapat]]></category>
		<category><![CDATA[rindu]]></category>
		<category><![CDATA[santai]]></category>
		<category><![CDATA[sapaku]]></category>
		<category><![CDATA[tiap]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapanasdewasa.com/?p=389</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini merupakan lanjutan dari ceritaku yang terdahulu &#8220;Cirebon Yang Panas&#8221;, dimana aku datang ke
Kota Cirebon untuk menemui pacarku yang bernama Ai
Setelah melepas rindu di siang hari yang panas, sore hari Ai dan teman-teman kost sejawatnya yang dokter umum
ada acara di kantor dinas kesehatan Cirebon
&#8220;ikut yuk&#8221; ajak Ai kepadaku, agar ikut ke acara tersebut
&#8220;gak ah, [...]


<b>Cerita Seks Berhubungan:</b><ol><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/unchained-melody.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Unchained Melody'>Unchained Melody</a></li><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-pemerkosaan/aku-dan-siti-di-kamar-kost.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Aku Dan Siti Di Kamar Kost'>Aku Dan Siti Di Kamar Kost</a></li><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/ngentot-dengan-boss-besar-di-hotel.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Ngentot Dengan Boss Besar Di Hotel'>Ngentot Dengan Boss Besar Di Hotel</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita ini merupakan lanjutan dari ceritaku yang terdahulu &#8220;Cirebon Yang Panas&#8221;, dimana aku datang ke<br />
Kota Cirebon untuk menemui pacarku yang bernama Ai</p>
<p>Setelah melepas rindu di siang hari yang panas, sore hari Ai dan teman-teman kost sejawatnya yang dokter umum<br />
ada acara di kantor dinas kesehatan Cirebon</p>
<p>&#8220;ikut yuk&#8221; ajak Ai kepadaku, agar ikut ke acara tersebut<br />
&#8220;gak ah, males&#8221; balasku, aku pikir ngapain ke acara yang kagak tau ujungnya<br />
&#8220;biar mas tunggu di kost aja, tar habis isya, keluar ke Grage&#8221; tambahku,Grage merupakan Mall yang terbesar di Cirebon<br />
&#8220;ok, klo gitu aku berangkat dulu ya sayang&#8221; pamit Ai dengan genitnya</p>
<p>Sore itu jam menunjukkan pukul 15:00 WIB, rasanya gerah sekali padahal tadi sudah mandi setelah bercinta dengan Ai<br />
&#8220;mandi dulu ah&#8221; kataku, sambil bicara sendiri</p>
<p>waktu keluar kamar, aku berpapasan dengan May yang merupakan penghuni kamar sebelah, yang berprofesi sebagai dokter gigi<br />
May berpawakan seksi dengan tinggi 160cm, dengan payudara 34b, kulit putih bersih dengan rambut panjang lurus<br />
May sudah menikah namun suaminya kerja di Bandung, tiap jum&#8217;at sampai minggu suaminya selalu datang ke Cirebon</p>
<p>&#8220;sore mas Dito&#8221; sapa May dengan ramah<br />
&#8220;sore May, kok gak ikut rapat? sapaku sambil bertanya<br />
&#8220;ga lah, kan aku dokter gigi, yang ikut kan hanya dokter umum&#8221; jawabnya<br />
&#8220;O..beda ya, lho suaminya mana&#8221; tanyaku lagi<br />
&#8220;minggu ini gak datang mas, karena ada tugas keluar kota..huuh padahal lagi kangen-kangennya&#8221; jawab May dengan muka agak sedih<br />
&#8220;lagi sibuk ya, tapi santai aja kan masih ada minggu depan&#8221; jawabku dengan nada menghibur<br />
&#8220;enaknya Ai dah di temuin ma pacarnya, apalagi kayak tadi siang&#8221; kata May sambil tersenyum<br />
&#8220;tadi siang?? tadi siang knapa&#8221; tanyaku dengan nada heran<br />
&#8220;iya tadi siang, jangan berlaga bego donk mas, tadi siang kan mas ML ma Ai&#8230;benerkan?&#8221; tanya May sambil senyum-senyum penuh investigasi<br />
&#8220;masa sih&#8221; jawabku dengan panik, busyet ketahuan dah<br />
&#8220;tapi tenang aja mas, gak aku bilangin ke siapa-siapa kok, habis mas klo ML tutup pintunya yang bener&#8221; kata May dengan entengnya<br />
&#8220;mas aku mau minta tolong nih&#8221; kata may sambil pegang tanganku<br />
&#8220;minta tolong apa May?&#8221; jawabku dengan heran<br />
&#8221; ayo masuk dulu mas&#8221; jawab dia sambil menarik diriku masuk ke kamarnya</p>
<p>Ternyata kamar kost May sangat bersih dan rapi terus terlihat lebih lapang daripada kamar yang ditempati Ai<br />
walaupun ukuran kamarnya sama yaitu 3&#215;4 dan diatas meja kecil terdapat foto suaminya dan foto pernikahan May</p>
<p>&#8220;gini mas, kan mas tahu kalau sekarang suami May gak bisa datang&#8221; kata May<br />
&#8220;trus&#8221; jawabku<br />
&#8220;padahal May lagi kangen-kangennya, May pingin ML ma suami May mas&#8221; jelasnya dengan mimik muka melas<br />
&#8220;lha bukannya minggu kemarin dah ML&#8221; jawabku<br />
&#8220;enggak, minggu kemarin aku lagi mens, jadi ya ga ML&#8221; kata May<br />
&#8220;trus apa hubungannya ma aku May?&#8221; aku bertanya dengan tampang bloon dan gak punya dosa<br />
&#8220;ya&#8230;aku mau mas Dito jadi pengganti suamiku sementara, mau ga?&#8221; jawab May<br />
&#8220;wah kayak dapat durian jatuh nih, diajak ML sama cewek seksi lagi&#8221; pikirku, trus dengan tegas aku jawab &#8220;mau&#8221;</p>
<p>Langsung saja May memelukku dengan mesra, kami saling menatap dan kudekatkan bibirku tanpa basa-basi May melumat<br />
bibirku dengan nafsunya yang kemudian kulingkarkan tanganku pada tubuhnya, kuraba badannya terus turun kebawah<br />
akhirnya sampai dengan pantatnya lalu kuremas aja pantat yang seksi ini</p>
<p>&#8220;mmmm&#8230;mmm..&#8221; desah May sambil terus berciuman</p>
<p>setelah FK beberapa lama kudorong tubuh May ke pintu kamar, dengan cekatan tanganku melepas celana pendek<br />
dan celana dalamnya lalu terlihat bentuk vagina yang indah berwarna pink di selimuti rambut-rambut yang halus<br />
segera aku cium dan belai dengan lidah</p>
<p>&#8220;mmmmhhh&#8230;aaah..&#8221; desah May<br />
&#8220;enak mas&#8230;aaah&#8221; May berkata pelah dengan meendesah</p>
<p>mendengar kata itu langsung kulanjutkan aksiku dengan menaikkan tempo iramanya sambil diselingi gigitan-gigitan kecil di daerah klitoris<br />
tak selang berapa menit kemudian paha May mengapit erat kepalaku, sehingga mendorong lebih masuk dan mukaku menempel erat di vaginanya<br />
maka lidahku yang sebelumnya hanya bermain-main di dinding luar vagina malah masuk kedalamnya yang dimana malah menambah rangsangannya<br />
begitu nikmat</p>
<p>&#8220;aaah&#8230;aaah..aaah&#8221; suara desahan May makin gak karuan<br />
&#8220;aaah..aah&#8230;aaaaaaaggghhh hhh&#8221; desahan yang panjang diiringi dengan tubuh yang mengejang</p>
<p>setelah itu kami rebahan di kasur dengan tubuh May berada di dadaku</p>
<p>&#8220;sayang kamu hebat banget&#8221; kata May<br />
&#8220;sayang?&#8221; tanyaku heran<br />
&#8220;iya sayangku&#8230;mau kan sekarang menjadi pacarku?&#8221; rayu dia<br />
&#8220;mmmm&#8230;.boleh aja, knapa ga&#8221; jawabku dengan enteng</p>
<p>wah mimpi apa aku semalam, dalam satu hari dapat bercinta dengan 2 orang dokter-dokter yang cantik, apalagi salah satunya cewek yang tinggi<br />
, seksi, bening, dan rambut panjang lurus, bukannya Ai tidak seksi, Ai termasuk cewek yang seksi, bening namun memakai jilbab sehingga<br />
rambutnya tertutup jilbab.<br />
ya, cewek seksi dan keren yang dimana mempunyai rambut panjang nan lurus merupakan kesukaanku<br />
setelah beberapa menit istirahat untuk memulihkan tenaga, kemudian May mulai melorot celana pendek yang aku pakai</p>
<p>&#8220;hihihi&#8230;&#8221; May ketawa kecil<br />
&#8220;kenapa&#8221; pikirku heran<br />
&#8220;punya yayang Dito lebih kecil daripada punya bang Aji&#8221; kata May, sambil bandingkan ukuran penisku dengan punya suaminya</p>
<p>memang ukuran penisku hanya kisaran 12cm beda dengan kepunyaan punya suami May, yang katanya ukurannya 15cm</p>
<p>&#8220;biarin, jangan salah kecil-kecil gini cabe rawit rasanya&#8221; kataku dengan kesal<br />
&#8220;maaf..maaf ya sayang&#8221; jawab May dengan senyuman mautnya, yang kemudian May mulai gerilya dengan mulutnya melawan penisku</p>
<p>&#8220;aaah&#8230;wow enak May&#8221; kataku sambil merasakan serangan mulut May ke penisku<br />
&#8220;mmmm&#8230;mmmm&#8221; suara May saat emut penisku<br />
&#8220;wow..aaah&#8230;May stop May&#8230;aaah&#8221; cegahku, rasanya dah mau meledak karena serangan May yang begitu brutal<br />
&#8220;aagghhh&#8230;crot&#8230;crot&#8221; desahku merasakan orgasme, kukeluarkan sperma di dalam mulutnya<br />
&#8220;eemmmhhh&#8230;enak rasanya manis, beda dengan punya bang Aji asin rasanya&#8221; kata May sambil telan spermaku</p>
<p>lalu kutarik tubuh May keatas sampai posisi duduk diatas dadaku, posisi woman on top</p>
<p>&#8220;wow ternyata penis sayang dah bangun lagi ya?&#8221; tanya May dengan heran<br />
&#8220;hehehe&#8230;tadi kan kena toket, jadi bangun lagi&#8221; jawabku<br />
&#8220;dasar mesum&#8221; canda May</p>
<p>May mulai memasukkan penisku kedalam vaginanya dengan tangan pelan-pelan, sampai setengahnya langsung kusentakkan masuk<br />
hingga mentok</p>
<p>&#8220;aaaah&#8230;&#8221; desah May kaget</p>
<p>&#8220;gila vagina May ternyata masih menggigit, sempit, dan hangat&#8221; pikirku padahal ukuran penis suaminya lebih besar daripada<br />
ukuran penisku</p>
<p>lalu mulailah May bergerak naik turun mulai tempo pelan sampai tempo tinggi</p>
<p>&#8220;aaaah&#8230;aaahh&#8230;aaaahh&#8221; desah May sambil gerak naik turun</p>
<p>kuikuti irama gerakan May naik turun sambil aku pegang kedua payudaranya, kuremas-remas, pelintir-pelintir pentil</p>
<p>&#8220;aaah&#8230;aaaah&#8230;enak aaah&#8230;sayang enak&#8230;aaaah&#8221; kata May sambil mendesah yang, mulai tidak teratur</p>
<p>5 menit kemudian tubuh May mengejang yang menandakan sedang orgasme</p>
<p>&#8220;aaaaggggghhhhh&#8230;..haah&#8230;haa ah&#8221; jerit May pelan sambil mengejang</p>
<p>lalu kuposisikan tubuhku duduk dengan memeluk tubuh May yang mana duduk diatas pahaku dengan kaki melingkar di pinggulku</p>
<p>sambil kuciumi bibirnya yang mungil, kubisikkan &#8220;enakka?..sekarang goyangkan pantatmu&#8221;<br />
kemudian May menggoyangkan pantatnya pelan</p>
<p>&#8220;haaah&#8230;aaah&#8230;aaah&#8221; desah May<br />
2 menit kemudian aku bisikkan lagi &#8220;lebih cepat May&#8230;aaah..&#8221;<br />
yang dimana kemudian May mempercepat gerakkannya &#8220;aaah&#8230;aaah&#8230;aaah&#8221; desahnya<br />
&#8220;aaah&#8230;mmmmhh&#8230;aaah sayang..aaah&#8221; desahnya sambil mencium mulutku<br />
&#8220;aaahh&#8230;mau keluar May&#8221; tanyaku yang dimana kurasakan vaginanya mulai menjepit erat<br />
&#8220;aaah&#8230;aaah&#8230;sayang&#8230;aa ahh&#8221; May hanya mendesah tanpa bisa menjawab pertanyaanku<br />
&#8220;aaahh..aaaah&#8230;aaaaaagggghhh. ..mmmm&#8230;.mmmm&#8221; jerit May sambil tubuhnya mengejang</p>
<p>tubuh May roboh kebelakang, dimana posisi kakinya masih ngangkang dan penisku masih dalam vaginanya<br />
langsung aja aku genjot, tanpa menunggu May memulihkan tenaga</p>
<p>&#8220;aaah..aaah&#8230;aaah&#8221; May mendesah dengan pasrah karena tenaganya belum pulih</p>
<p>dengan pelan-pelan kurobah posisi dari tegak ke posisi rebahan menindih tubuh May, dapat kurasakan gerakan payudaranya<br />
menggesek dadaku sangat enak rasanya<br />
tak lama kemudian kurasakan vaginanya mulai menjepit penis yang dimana sebentar lagi may Orgasme</p>
<p>&#8220;aaahh&#8230;sayaang..aah&#8230;aaaagg gghhhh&#8221; teriak May pelan</p>
<p>sambil tubuh May mengejang gara-gara orgasme, tidak ada tanda-tanda aku stop genjotanku</p>
<p>&#8220;aah..aah..enak?&#8221; tanyaku<br />
&#8220;mmm&#8230;aaaah&#8230;enak&#8230;aaaa h&#8221; jawab May</p>
<p>5 kemudian kurasakan lagi vagina May mulai menjepit, kepercepat goyanganku, semakin keras jepitan vaginanya<br />
rasa yang kurasakan tidak terbayang enaknya, akhirnya akupun merasakan mau ikutan meledak</p>
<p>&#8220;aaah..aah..aku mau keluar sayang&#8230;&#8221; desahku<br />
&#8220;aaahh&#8230;aaaah&#8230;.aku juga&#8230;aaah..aaahhh&#8221; jawab May</p>
<p>mau kucabut penisku tapi rasanya sulit gara-gara jepitan vaginanya dan jepitan paha May yang erat</p>
<p>&#8220;aaahh&#8230;aaahhh&#8230;aaaaaggghhh. ..hah&#8230;haah&#8221; teriak May<br />
&#8220;aaaggghhh&#8230;crot&#8230;crot&#8221; teriakku pelan</p>
<p>kukeluarkan semua spermaku di dalam vaginanya yang dimana resikonya bisa hamil</p>
<p>&#8220;&#8230;kamu hebat sayang..beda dengan suamiku yang hanya kasih kepuasan sekali..&#8221;kata May dengan mimik puas<br />
&#8220;makasih&#8230;sayang&#8230;&#8221; jawabku</p>
<p>dari sini aku telah ambil pelajaran yang cukup berharga bahwa &#8220;SIZE DOESN&#8217;T MATTER, THE MOST IMPORTANT IS QUALITY OF SEX<br />
NOT QUANTITY&#8221;</p>
<h4>Cerita Panas Terbaru:</h4>,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cerita-ngeseks-di-hotel-cirebon.html" title="aaah crot">aaah crot</a> ,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cerita-ngeseks-di-hotel-cirebon.html" title="Cerita 17">Cerita 17</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.547 ms -->

<p><b>Cerita Seks Berhubungan:</b><ol><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/unchained-melody.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Unchained Melody'>Unchained Melody</a></li><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-pemerkosaan/aku-dan-siti-di-kamar-kost.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Aku Dan Siti Di Kamar Kost'>Aku Dan Siti Di Kamar Kost</a></li><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/ngentot-dengan-boss-besar-di-hotel.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Ngentot Dengan Boss Besar Di Hotel'>Ngentot Dengan Boss Besar Di Hotel</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-dewasa-umum/cerita-ngeseks-di-hotel-cirebon.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersetubuh Dengan Kakak Pacarku Sendiri</title>
		<link>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-sedarah/bersetubuh-dengan-kakak-pacarku-sendiri.html</link>
		<comments>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-sedarah/bersetubuh-dengan-kakak-pacarku-sendiri.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 19:12:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerita 17 tahun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[21 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[alami]]></category>
		<category><![CDATA[alat bantu sex]]></category>
		<category><![CDATA[awak]]></category>
		<category><![CDATA[bekas]]></category>
		<category><![CDATA[bernama]]></category>
		<category><![CDATA[cerita panas]]></category>
		<category><![CDATA[hari minggu]]></category>
		<category><![CDATA[kaget]]></category>
		<category><![CDATA[kakak ipar]]></category>
		<category><![CDATA[kapal]]></category>
		<category><![CDATA[kotak]]></category>
		<category><![CDATA[meninggal dunia]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[pacarku]]></category>
		<category><![CDATA[palembang]]></category>
		<category><![CDATA[pulang kampung]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>
		<category><![CDATA[sepatu]]></category>
		<category><![CDATA[yach]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapanasdewasa.com/?p=383</guid>
		<description><![CDATA[Nama aku Teddy, umur 22 tahun, tinggi 175 cm, panjang penisku 17cm. Aku ingin menceritakan kejadian yang mana kejadian ini saya melakukan hubungan sex yakni kepada kakak pacar saya yang bernama Desi 23 tahun, Bra 36, tinggi 170 Cm, dan berat badannya 60 Kg serta pacarku Dewi bernama memiliki umur 21 tahun, tinggi 168 Cm, [...]


<b>Cerita Seks Berhubungan:</b><ol><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/andani-citra/cerita-seks-anak-kost-bersetubuh-dengan-dimas.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cerita Seks Anak Kost, Bersetubuh Dengan Dimas'>Cerita Seks Anak Kost, Bersetubuh Dengan Dimas</a></li><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/andani-citra/cerita-seks-anak-kost-bersetubuh-dengan-dimas-bagian-dua.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cerita Seks Anak Kost, Bersetubuh Dengan Dimas bagian dua'>Cerita Seks Anak Kost, Bersetubuh Dengan Dimas bagian dua</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nama aku Teddy, umur 22 tahun, tinggi 175 cm, panjang penisku 17cm. Aku ingin menceritakan kejadian yang mana kejadian ini saya melakukan hubungan sex yakni kepada kakak pacar saya yang bernama Desi 23 tahun, Bra 36, tinggi 170 Cm, dan berat badannya 60 Kg serta pacarku Dewi bernama memiliki umur 21 tahun, tinggi 168 Cm, berat 55 Kg dan ukuran Bra 34 C.</p>
<p>Kejadian yang saya alami tersebut terjadi pada hari minggu tgl 20 April 2003 yang lalu. Pada waktu itu saya berniat mendatangi rumah pacarku (mengapeli) sekalian minta jatah kepadanya dan juga karena pada malam minggunya saya ada acara bersama keluarga.Ketika saya sampai kerumah pacarku dibilangan Ps.Minggu rupanya pacarku sedang pulang kampung bersama ortu dan adik-adiknya ke palembang selama 16 hari karena kakeknya meninggal dunia dan yang ada dirumah hanya Desi (Kakak perempuannya).</p>
<p>Setelah saya tahu bahwasannya pacar saya tidak ada dirumah akhirnya saya minta izin kepada kakaknya. Namun kakaknya menganjurkan kepada saya agar au mampir dulu kerumah sebentar dan juga menemani dia main PS dirumah. Kebetulan waktu itu Psnya ada didalam kamar Desi. Ketika saya sedang asyik main saya melihat ada sebuah kotak bekas kotak sepatu, ketika saya buka saya kaget melihat isi didalamnya rupanya isi didalamnya terdapat alat bantu sex yang berbentu Penis serta beberapa VCD Porno keluaran VIVID USA. Kakak saya pada waktu itu tidak mengetahui bahwasannya saya membuka kotak mainannya dan ketika saya ambil isinya serta saya tanyakan kepadanya “Apa ini Kak?” Langsung saja saya melihat expresi mukanya yang langsung memerah. Terus dia Jawab “Mau tahu saja kamu anak kecil”. Kakak selama ini tidak ada pelampiasan yach selama Kak Budi (Pacarnya = Awak Kapal) ada dilaut.</p>
<h3>Cerita Panas Dewasa Ngentot Dengan Kakak Ipar</h3>
<p>“Achhhh bisa saja kamu” Jawabnya.,</p>
<p>“Kakak mau aku bantu gak” jawabku.,</p>
<p>Tanpa menunggu jawabannya langsung saja kusergap bibir seksinya itu sambilan aku memainkan payudaranya. Setelah itu pelan-pelan tanganku menjalar masuk kedalam bajunya, kuraba pelan perutnya sampai kedalam Bhnya serta aku masukkan telunjuk tanganku kedalam roknya sambil meraba permukaan Cdnya.</p>
<p>“Ted jangan Ted, aku ini kakaknya Dewi”</p>
<p>“Kak Desi, aku ingin sekali ML sama kakak, apakah kakak nggak mau ML sama aku,” tanyaku.</p>
<p>“Aku bukannya nggak mau, tetapi aku malu sama kamu”, jawabnya</p>
<p>“Buat apa kakak maulu dengan aku, dan juga dirumah ini gak ada orang lain yang tahu selain kita”, jawabku</p>
<p>Perlahan-lahan aku ajak dia menuju ranjangnya dan langsung saja kudekati dan kuremas payudaranya.</p>
<p>“Sabar dong…Buka dulu bajumu itu”</p>
<p>Kubuka seluruh bajuku, kupeluk dan kucium bibirnya.</p>
<p>“Wowww penismu besar sekali dan panjang lagi, lebih mantap dari punyanya Mas Budi.”</p>
<p>Tanganku meremas-remas payudaranya yang montok. “Isap doooong… Pintanya”.</p>
<p>Aku mulai menghisap . “Achhh….terus…nikmat ted…oh, ayo….” Aku semakin bernafsu mendengar desahannya itu, sekitar 5 menit aku menikmati payudaranya.</p>
<p>Oh….sstt….jilat Vegiku ted…Pintanya sambil gemetaran. Bibirku langsung menjilati selangkangannya. Lidahku menjilati Vegi-nya yang super becek. Saat lubang kemaluan itu tersentuh ujung lidahku, aku agak kaget karena lubang Vegi-nya itu selain mengeluarkan aroma mawar rasanya pun agak manis-manis legit, beda dengan Vegi pacarku dan dan teman wanitaku yang pernah aku jilat, sehingga aku betah menikmatinya.</p>
<p>“ardgg…arghh…enak banget ted, gue jadi merinding rasanya dan kayaknya mau keluar5 lagi nich, gue suka banget nich, dan lidah elo enak bangeeeet ted”.</p>
<p>“Iya Kak, Teddy juga suka sekali rasanya, Vegi kakak manis banget rasanya”.</p>
<p>“Auuu….auuuu…ted…dddd”.</p>
<p>Terasa ujung lidahku disemprot oleh sedikit cairan bersamaan dengan pantatnya yang diangkat tinggi menempelkan semua Vegi-nya kemukaku. “Teddd…teddd….Kakak keluar tedddd”. Bibir Vegi-nya yang sebelah kutarik perlahan dengan bibirku, sambil kugigit dengan lembut. Dia benar-benar menikmati. “Aduh-aduh enak banget teddd”. Lidahkupun mengaduk-aduk lubang Vegi-nya yang sudah basah sekali.</p>
<p>“Tedd ..sekarang teddd…” Segera aku naik keatas tubuhnya, dia juga sudah siap sekali dengan mengangkangkan lebar-lebar menunggu datangnya Teddy Junior. Perlahan-lahan kugesek-gesek adikku dibibir Vegi-nya, sengaja tidak langsung kumasuki lubang Vegi-nya, aku hanya menggesek-gesek. Dia bertambah nafsu, “Ted, ayo ted, masukin ted, kakak butuh ted, ayo ted”. Tangannya segera memegang batang juniorku dan segera dibimbingnya masuk kedalam lubang Vegi-nya.</p>
<p>“Au…ted, ujungnya gede banget ted” katanya ketika dia memegang ujung juniorku. “inikan yang enak kak, kadi kakak gak mau nich, ya sudah kalau gak mau gak usah dimasukkin”.</p>
<p>“Jangan ted, mau ted, mau ted…cuman takut saja sebab pacar kakak punyanya kecil dan pendek sekali”.</p>
<h3>Foto Ngentot Dengan Kakak Ipar</h3>
<p>“Auchhh…auuuuu…” teriaknya ketika adikku mulai masuk kedalam memeknya, terasa seret sekali”. “Aduh…ted…sakit…enak…sakitt…en akkkkk”.</p>
<p>“Sakit apa enak kak?” “Tahulah ted, ada sakit sedikit dan enaknya bukan main rasanya, rasanya sampai keujung mulut rahimku ted”.</p>
<p>Pelan kuajun juniorku keluar masuk Vegi-nya, baru beberapa sodokan dia sudah menjerit, “Tedd…teddd…kakak keluar…teddd…auuuu…auuuu…”</p>
<p>“Yach, baru begitu saja sudah keluar” Jawabku,</p>
<p>Terasa sekali kepala adikku dihisap dan dipelintir oleh Vegi-nya yang enak sekali, terasa sekali otot vegi-nyamasih kencang, sambil kutusuk terus vegi-nya, aku tetap menghisap pentil susunya yang begitu indah. “Slrupp…slrupp..” Terdengar setiap aku menarik dan menekan Vegi-nya.</p>
<p>“Kak gantian kak, kakak diatas yach”</p>
<p>“Yach ted, tapi ajarin yach”.</p>
<p>Sekarang posisiku ada dibawah , dia segera naik keatas perutku dan dengan segera dipegang nya juniorku sambil diarahkan ke Vegi-nya. Kulihat Vegi-nya indah seklai dengan bulu-bulu pendek yang membuat rasa gatal dan enak waktu bergesekkan dengan Vegi-nya. “Auuuuu…enak banget kak Vegi kakak”.</p>
<p>“Sekarang gantian teddy yang kakak bikin enak yach” katanya sambil memutar pantatnya yang bahenol , rasanya batang juniorku mau patah ketika diputarnya juniorku di dalam Vegi-nya dg berputar makin lama makin cepat.</p>
<p>“Auuu…kak…enak bangettt kak….”</p>
<p>Akupun bangun sambil mulutku mencari pentil susunya , segera kukemut dan kuhisap.</p>
<p>“Ted..ted…ini bisa bikin kakak keluar lagi nich ted…rasanya mentok sekali ted” memang dengan posisi ini terasa sekali ujung juniorku menyentuh peranakan nya.</p>
<p>“Ech..ech….” Suaranya setiap kali aku menyodok vegi-nya. “ted..ayo ted, kakak mau keluar lagi nich” “Tahan kak saya juga mau keluar nich”.</p>
<p>Segera kugenjot memeknya dengan cepat . Dia seperti keserupan setiap dia naik turun diatas juniorku yang jepit oleh Vegi-nya.</p>
<p>“Kak…saya mau keluar kak…” “Ayo ted kakak juga mau nich” “Auuuu….kakkkk”</p>
<p>“yach teddd…. Kakak juga mau keluar nich…..achhhh….achhhh”</p>
<p>Kupeluk erat dia sambil menyemprotkan semua maniku kedalam Vegi-nya.</p>
<p>“Ted…aduhhhh enak banget ted… teddy punya enak banget”</p>
<p>“Kamu punya juga enak kak, bodoh benar pacar kakak meninggalkan kakak demi pekerjaannya dilaut, belum tentu 1 tahun dia bisa pulang.”</p>
<p>Diapun segera rebah diatas badanku, kami berdua lemas, sambil tidur diatas badanku, kuelus terus dari kepala sampai kepantatnya dengan lembut.</p>
<p>“Makasih yach Ted, kakak sudah lama menahan nafsu”.</p>
<p>“Saya juga kak”.</p>
<p>“Janji yach tedd, kakak mau lagi kalau kamu memintanya kepada kakak”.</p>
<p>“Siiip dech kak, tapi hati-hati yach jaga rahasia kita berdua dari Dewi yach kak”.</p>
<p>“OK, Ted”.</p>
<p>Selama 16 hari tersebut kami bebas melakukan hubungan sex dengan kakak pacarku dirumahnya dan setelah itu kami melakukannya diwaktu senggang dan diluar/dihotel. Dan juga aku tidak lupa meminta jatah kepada pacarku setelah pulang dari palembang.</p>
<h4>Cerita Panas Terbaru:</h4>,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-sedarah/bersetubuh-dengan-kakak-pacarku-sendiri.html" title="Cerita 17 tahun">Cerita 17 tahun</a> ,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-sedarah/bersetubuh-dengan-kakak-pacarku-sendiri.html" title="sedarah">sedarah</a> ,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-sedarah/bersetubuh-dengan-kakak-pacarku-sendiri.html" title="Sakit tapi nikmat saat bersetubuh bersama pacarku">Sakit tapi nikmat saat bersetubuh bersama pacarku</a> ,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-sedarah/bersetubuh-dengan-kakak-pacarku-sendiri.html" title="pacarku memintaku buka baju">pacarku memintaku buka baju</a> ,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-sedarah/bersetubuh-dengan-kakak-pacarku-sendiri.html" title="Nikmatnya bersetubuh bersama pacarku">Nikmatnya bersetubuh bersama pacarku</a> ,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-sedarah/bersetubuh-dengan-kakak-pacarku-sendiri.html" title="Kak ayo ngentot">Kak ayo ngentot</a> ,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-sedarah/bersetubuh-dengan-kakak-pacarku-sendiri.html" title="cerita sex sama saudara sendiri sedarah">cerita sex sama saudara sendiri sedarah</a> ,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-sedarah/bersetubuh-dengan-kakak-pacarku-sendiri.html" title="cerita sek dengan kakak pacarku">cerita sek dengan kakak pacarku</a> ,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-sedarah/bersetubuh-dengan-kakak-pacarku-sendiri.html" title="cerita panas bersetubuh">cerita panas bersetubuh</a> ,<a href="http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-sedarah/bersetubuh-dengan-kakak-pacarku-sendiri.html" title="Cerita panas">Cerita panas</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 2.564 ms -->

<p><b>Cerita Seks Berhubungan:</b><ol><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/andani-citra/cerita-seks-anak-kost-bersetubuh-dengan-dimas.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cerita Seks Anak Kost, Bersetubuh Dengan Dimas'>Cerita Seks Anak Kost, Bersetubuh Dengan Dimas</a></li><li><a href='http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/andani-citra/cerita-seks-anak-kost-bersetubuh-dengan-dimas-bagian-dua.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cerita Seks Anak Kost, Bersetubuh Dengan Dimas bagian dua'>Cerita Seks Anak Kost, Bersetubuh Dengan Dimas bagian dua</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapanasdewasa.com/17-tahun/cerita-seks-sedarah/bersetubuh-dengan-kakak-pacarku-sendiri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->